"Pelan-pelan loh, Nia, yang sabar." Rania menoleh, menatap sang ibu dengan wajah datar plus tanpa dosanya. Mata boleh menatap, tetapi tangan masih asik memukul-mukul wadah yang sudah berisi telur. "Matanya!" Tangan Ayna meraup wajah mungil Rania. Pasalnya tatapan Rania membuat Ayna jengkel walaupun anak itu tidak mengeluarkan suara apapun. Kalau kurang-kurang sabar mungkin tangan Ayna sudah khilaf mencubit. "Arghh!" pekik Rania. Tidak lagi memperdulikan Ayna dia memilih mengambil sendok lalu mengaduk telur yang berada di dalam wadah. Kedua mata Ayna menerjap. Astaga, anaknya itu titisan siapa sih? Setiap diberitahu pasti ngamuk tidak jelas. Ayna jadi berfikir, apa dulunya dia seperti Rania? Saat ini Ayna bersama Rania memang sedang berada di dapur. Mereka ingin membuat kue cubit untu

