Pagi ini bukan lagi dibuat kewalahan, tapi amat sangat kewalahan. Saking kewalahannya kepala Ayna sampai pening. Harus mengurus suami, anak sekolah, si kecil yang terus-terusan nangis, rasanya dia ingin menggulung bumi detik ini juga. Karena keteteran itu pula pagi ini Ayna tidak turun tangan membuat sarapan. "Ya Allah, sabarin hati hamba ya Allah." Ayna mengusap dadanya sambil berusaha menenangkan diri. Masih dalam kondisi repot Ayna menggendong Rania, membawanya ke lantai bawah. Bukan hanya menggendong Rania, Ayna juga membawa tas serta jas milik suaminya. Bukankah sangat nikmat menjadi seorang ibu? "Adik kenapa nangis?" tanya Varrel ketika Ayna datang ke ruangan makan. "Sini gendong sama Ayah, kasihan Ibu berat," sambungnya. Varrel bangkit berdiri, kedua tangannya berusaha mengambil

