"Om Adam serius mau ketemu sama Papa?" tanya Ayana untuk kesekian kalinya. Adam yang tengah mematut dirinya di depan cermin tampak mengangguk kecil. Lalu menoleh ke arah Ayana yang menatapnya dengan cemas. "Bukannya kita harus datang untuk meminta restu? Saya tidak ingin di cap sebagai menantu yang buruk karena tidak datang menemuinya." jawab Adam bijak. Lagipula memang sudah seharusnya seperti itu bukan? Ayana menggigit bibir bawahnya resah. Pasalnya sudah setahun lebih dirinya tidak bertemu dengan sang papa. Dan selama itu dirinya tidak pernah sekalipun ingin mencari tahu kabar tentang pria itu. Luka yang telah papanya berikan begitu dalam sampai membuat Ayana tak ingin berurusan lagi dengannya. "Tapi Ayana nggak mau ketemu sama dia, Om." ada keengganan di wajah Ayana saat ini. Sorot

