Adel menyunggingkan senyumnya, saat mendapati sosok jangkung dengan kemeja formal yang melekat di tubuh atletisnya tengah bersandar di kap mobil bugatti miliknya. Gadis itu berlari-lari kecil untuk segera sampai di sana.
"Daddy... " seru Adel riang yang langsung menabrakkan tubuhnya pada Arga yang refleks memeluknya.
"Daddy kok nggak bilang mau jemput Adel? Untung aja Adel nggak jadi minta jemput Kak Elang." tanya Adel dengan memberengut.
Arga tersenyum tipis sembari menahan pinggang ramping Adel. Menatap lekat sosok cantik yang telah menjadi kekasihnya ini.
"Daddy sengaja tidak mengatakan apapun. Untung saja Daddy lebih cepat datang." balas Arga menyunggingkan senyum lega.
"Ya sudah, lebih baik kita segera pergi. Daddy kangen kamu, Baby." bisik Arga di akhir kalimatnya. Lidahnya tak segan menjilat cuping Adel walau sebentar.
Adel yang mendapatkan sentuhan tersebut terang saja langsung bergejolak. Bibir bawahnya dia gigit saat gairahnya mulai tersulut.
Arga terkekeh kecil melihat raut sayu yang Adel tampilkan saat ini. Pria paruh baya itu lalu menggiring sang kekasih untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
"Daddy mau bawa Adel kemana?" tanya Adel saat Arga baru selesai memasangkan seat-belt untuknya.
Arga terdiam sejenak sembari menatap gadis belia di depannya. Dibelainya pipi tirus Adel dengan lembut sebelum mendarat di bibir ranum gadis itu.
Adel terpejam merasakan sentuhan lembut ibu jari Arga pada bibirnya. Netra sapphire nya menatap sayu ke arah pria paruh baya itu.
"Kamu ingin pergi kemana, Baby?" Arga balik bertanya dengan suara beratnya.
Bibir Adel terbuka saat ibu jari Arga mendesak ingin masuk. Lalu tanpa diminta, dijilatnya jari tersebut dengan sensual.
Dikecupnya jari Arga yang baru saja dia kulum. Lalu dia keluarkan dari dalam mulutnya.
"Mall. Adel pengen belanja, Daddy." seru Adel semangat.
Arga menipiskan bibirnya karena jawaban Adel yang mudah sekali ditebak. Walau pun begitu, dia tetap menuruti permintaan sang kekasih.
"Baiklah. Kita ke mall sekarang." balas Arga mengiyakan.
Adel terpekik senang dan memeluk sebelah lengan Arga dengan manja. Membuat pria paruh baya itu diam-diam mengulum senyumnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk keduanya sampai di pelataran mall terdekat. Setelah memarkirkan mobilnya di basement, pasangan beda usia itu segera masuk ke dalam mall yang jaraknya cukup dekat dengan kantor Arga.
"Kamu mau belanja apa, Baby? Baju? Tas? Atau sepatu?" tanya Arga memberondong Adel dengan beberapa pertanyaan.
Adel yang masih asik memeluk lengan Arga lantas menggeleng. Membuat pria paruh baya itu mengerutkan pangkal hidungnya dengan raut heran.
Biasanya gadis itu akan membeli barang-barang tersebut jika mereka pergi ke mall. Tapi entah apa yang tengah Adel cari sekarang ini.
Melihat ekspresi wajah kekasih tuanya justru membuat Adel terkikik kecil. Dia lalu berjinjit untuk membisikkan sesuatu pada pria itu.
"Adel mau beli lingerie, Daddy." bisik Adel dengan pipi bersemu.
Arga langsung sumringah mendengar bisikan tersebut.
"Tunggu apa lagi? Ayo, Baby." ajak Arga yang kini terlihat bersemangat.
Adel mendengus geli, sembari mengikuti langkah lebar Arga menuju salah satu outlet pakaian dalam langganannya.
Setibanya di sana, sudah ada salah satu pegawai yang menyambut kedatangan mereka.
"Long time no see, Alice." sapa Adel ramah pada pegawai wanita itu. Usianya lebih tua tiga tahun dari Adel. Namun wanita itu tidak ingin dipanggil dengan embel-embel kak atau mbak.
Wanita bernama Alice itu tersenyum sopan. Menjaga sikap di depan pria paruh baya di samping Adel.
"Ada yang kamu cari, Del?" tanya Alice yang kini mengarahkan perhatian sepenuhnya pada Adel.
Adel mengangguk-angguk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Gadis itu lalu menggandeng tangan Alice dan melenggang pergi meninggalkan Arga yang berdecak melihatnya.
Memutar bola matanya malas, Arga memilih untuk mendudukkan dirinya di ruang tunggu. Tempat dimana beberapa pria juga terlihat tengah menunggu para istri atau mungkin selingkuhannya berbelanja.
Hampir lima belas menit Arga menunggu Adel dengan rasa bosan yang mulai menderanya. Pria itu hendak beranjak dari tempatnya untuk sekedar mencari segelas kopi, tapi kedatangan seorang wanita yang dia kenal membuat dia mengurungkan niatnya.
"Arga? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya wanita berusia hampir sepantaran dengan Arga.
"Mengantar seseorang." jawab Arga singkat. Wanita di depannya ini adalah sepupu jauh mendiang istrinya.
Wanita itu tampak mengernyit dan menatap Arga dengan intens. Parasnya yang menawan dengan setelan kemeja yang melekat sempurna di tubuhnya, membuat siapa saja yang melihatnya akan dengan mudah terpikat.
Bermacam pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya saat ini. Tentang siapa yang tengah bersama dengan pria itu. Mengapa Arga mau repot-repot menunggu wanita itu berbelanja? Apalagi di outlet pakaian dalam.
Jika hubungan keduanya tidak dekat, tidak mungkin Arga mau menghabiskan waktunya di sini. Jadi, se-spesial apa wanita yang tengah bersama Arga saat ini?
"Kamu masih saja bersikap dingin sama aku, Ga." celetuk wanita itu dengan senyum renyah yang dipaksakan.
Arga tak bergeming dan hanya menatap malas pada wanita di depannya ini. Membuat sang empu mendengus karena sikap Arga yang pasif.
"Padahal dulu kita hampir saja.."
"Cukup, Jesika. Tidak perlu membahas sesuatu yang tidak penting." potong Arga dengan cepat.
Wanita bernama Jesika itu mendecih mendengar kalimat Arga.
"Tapi itu penting buat aku, Ga. Kalau aja kamu nggak ketemu sama dia, pasti sekarang kita udah nikah dan punya banyak anak." seru Jesika yang tak ingin kalah.
Arga hanya mendengus dan membuang wajahnya ke arah lain. Inilah yang membuat dirinya muak ketika bertemu dengan Jesika. Wanita itu akan mengungkit masa lalunya lagi.
"Saya tidak pernah berjanji untuk menikahi kamu, Jes. Kamu sendiri yang terlalu percaya diri dengan mengatakan pada semua orang kalau kita berhubungan. Padahal saya jelas-jelas tidak pernah menyukai kamu." balas Arga yang kali ini benar-benar sudah muak dengan Jesika.
Mendengar penuturan Arga yang tetap sama seperti dulu, nyatanya kembali membuat hati Jesika merasa tertohok. Namun karena memang dasarnya bebal, Jesika tetap pada pendiriannya untuk terus mengejar Arga.
"Anggap saja aku nggak tau semua itu, Ga. Sekarang kamu pasti merasa kesepian karena sudah lama menduda. Jadi, apa kamu mau menikmati malam ini sama aku?" kata Jesika dengan nada menggoda. Bahkan tanpa tahu malu, wanita itu memeluk lengan Arga dengan mesra.
Arga mendelik saat mendapati tingkah Jesika yang di luar dugaan. Dia pikir wanita itu akan melepaskannya saat melihat sorot tajam yang sengaja dia layangkan pada wanita itu. Namun sepertinya, Jesika memang sedang ingin menyulut kemarahannya.
Di sisi lain, Jesika tampak tenang-tenang saja memeluk lengan Arga. Tanpa menyadari aura gelap yang ada di balik punggungnya.
Belum sempat Arga melepaskan lilitan tangan Jesika pada lengannya, wanita itu sudah tertarik lebih dulu ke belakang. Kejadian tersebut terjadi dengan sangat cepat.
"Dasar Tante girang. Enak aja main peluk pacar Adel." pekik Adel yang tengah sibuk menjambak wanita dewasa bernama Jesika.
"Baby.. " seru Arga melotot melihat kebrutalan Adel.
***