Bruk
"Wait, Daddy. Di luar masih ada Om Bara." ujar Adel menahan tubuh Arga yang tengah mengungkungnya di atas ranjang.
Kedua kakinya masih menjuntai di atas lantai. Begitu juga dengan kekasih tuanya, Arga Mahardika.
Seakan tuli, pria berstatus duda tersebut justru tengah asik menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Adel. Menikmati aroma memabukkan yang menguar dari salah satu titik sensitif gadis itu.
Adel melenguh, merasakan terpaan hangat napas Arga mengenai kulit lehernya. Membuat dirinya merasa meremang dan ikut hanyut dalam gairah yang Arga ciptakan.
"Saya benar-benar merindukan kamu, Baby." bisik Arga dengan suara beratnya.
Adel tampak resah, begitu bibir Arga mengenai lehernya saat berbicara. Namun dia berusaha untuk tetap tenang. Kekasih tuanya itu masih harus beristirahat.
"A-Adel juga kangen banget sama Daddy." jawab Adel kikuk sembari melingkarkan kedua lengan kecilnya di punggung lebar pria itu.
Sepersekian detik suasana di antara mereka berubah hening. Hanya ada suara napas Arga yang memburu. Sedangkan Adel sibuk mengatur napasnya yang terasa tercekat.
Belaian lembut tangan Adel pada kepala belakangnya, membuat Arga merasa mengantuk. Beberapa kali kelopak matanya memejam lalu terbuka lagi. Dan hal itu terjadi tak hanya sekali dua kali.
"Daddy ngantuk ya?" tanya Adel saat tak merasakan pergerakan apapun dari pria dewasa yang tengah menindihnya.
Anggukan samar yang Arga berikan membuat Adel tersenyum geli.
"Pindah yuk, Daddy." ajak gadis itu. Adel berpikir Bara pasti juga sudah pergi.
Arga hanya bergumam, namun tak urung juga mengikuti ajakan Adel. Gadis itu dengan sigap membantunya berbaring di atas ranjang.
"Mau kemana?" tanya Arga saat melihat Adel hendak beranjak.
Adel menoleh, lalu tersenyum kecil menatap tangannya yang tengah ditahan oleh pria itu.
"Adel mau ke kamar tamu, Daddy. Adel juga mau istirahat." jawabnya beralih menggenggam tangan Arga.
Arga yang semula mengantuk, lantas membuka kedua matanya lebar-lebar. Raut wajahnya yang sayu kini berganti memberengut.
"Di sini saja, Baby. Temani Daddy tidur di sini." kata Arga setengah merajuk.
Adel yang mendengarnya tampak menimang. Jika dirinya tidur di samping Arga, dia takut pergerakannya akan menggangu pria itu. Apalagi sampai mengenai bekas lukanya yang masih diperban.
"Jangan sekarang, Daddy. Adel nggak mau nanti Daddy keganggu. Adel juga takut nanti kena luka Daddy." balas Adel mengutarakan kerisauannya.
Mendengar jawaban Adel, hati Arga seketika menghangat. Gadis itu begitu perhatian padanya. Membuat dirinya merasa sangat dicintai.
"Tidak papa, Baby. Daddy ingin tidur bersama kamu. Hanya tidur." timpal Arga meyakinkan Adel akan kondisinya.
Akhirnya setelah beberapa kali berdebat, Adel menjadi luluh dan menuruti kemauan Arga. Gadis itu ikut berbaring di samping Arga. Menghadap pria itu yang juga tengah berbaring menyamping menghadapnya.
Sebelumnya, Adel sudah meletakkan guling di belakang punggung Arga. Dia tidak ingin pria itu sampai lupa berbaring telentang dan membuat luka bekas tembakan Kakek Sigit kembali terbuka. Adel memang seperhatian itu pada Arga, kekasih tuanya.
Keduanya kini saling pandangan dengan senyum yang tak lepas dari bibir masing-masing. Tangan Arga terangkat, membelai sisi wajah Adel dengan mesra.
"Saya beruntung bisa mendapatkan kamu, Baby." ujar Arga berbisik.
Iris bening Adel terpejam, menikmati elusan lembut Arga pada pipinya. Netra sapphire nya baru terbuka saat elusan tersebut pindah ke arah bibirnya.
Adel bisa melihat kobaran gairah yang tergambar jelas di netra gelap Arga saat ini. Hal tersebut seakan didukung dengan jakun pria itu yang bergerak naik turun.
"No, Daddy.." lirih Adel saat iris obsidian Arga semakin menggelap.
Gadis itu tidak ingin Arga kelepasan dan mereka berakhir bercinta. Bukan karena Adel tidak ingin. Tapi dia masih mengkhawatirkan luka bekas tembakan Kakek Sigit yang bersarang di punggung pria itu.
"Daddy benar-benar tidak bisa menahannya lagi, Baby." ujar Arga dengan suara parau.
Adel yang melihatnya merasa bimbang. Namun sepertinya Arga benar-benar sudah tidak sabar. Dengan gerakan perlahan, dia mengungkung tubuh mungil Adel. Menjeratnya di antara kedua lengannya yang dia gunakan sebagai tumpuan.
"Daddy.. " cicit Adel dengan netra sapphire nya yang membulat sayu.
Arga menggeram, dengan kabut gairah yang telah sepenuhnya menguasai kedua obsidiannya.
"Daddy tidak bisa menahannya, Baby. Daddy ingin berada di dalam kamu saat ini juga." kata Arga dengan suara tercekat.
Melihat raut tersiksa dari kekasih tuanya itu, membuat Adel tak kuasa untuk menolaknya. Gadis itu akhirnya luluh dan memberikan lampu hijau pada Arga untuk memulainya. Dengan melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh pria itu.
Bagai gayung bersambut, Arga langsung saja menyerang bibir ranum Adel. Menciumnya dengan menggebu, yang dibalas tak kalah panas oleh gadis cantik itu.
Bibir mereka saling b******u, dengan lidah yang saling bertaut. Suara decapan dan lenguhan tertahan mengiringi ciuman yang berlangsung di antara keduanya.
Emnh..
Adel melenguh saat Arga dengan sengaja menghisap lidahnya cukup kuat. Gairahnya semakin naik karena ulah dari duda tampan tersebut.
Di sisi lain, Arga dengan semangat melumat dan mengulum bibir Adel dengan lembut namun menuntut. Tanpa rasa jijik, mereka saling bertukar saliva tiada henti.
Arga menekan tengkuk Adel untuk memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangan Adel tak henti mengelus rahang berbulu milik Arga yang semakin meningkatkan gairah pria itu.
Ciuman keduanya berlangsung cukup lama. Mereka baru mengakhirinya saat Adel dengan terpaksa mendorong d**a Arga karena kehabisan napas.
Adel terengah, dengan d**a kembang kempis. Pelipisnya telah basah dipenuhi keringat dan peluh. Namun hal itu justru menjadi pemandangan menggairahkan di mata Arga saat ini.
Pria itu mengerang tertahan sebelum menelusupkan wajahnya di perpotongan leher Adel. Menghisap aroma manis yang menguar dari area tersebut.
Engh..
Adel dibuat melenguh saat merasakan lidah kekasih tuanya, tengah bergerilya memanjakan leher jenjangnya. Hisapan dan jilatan dari benda lembut tersebut membuat Adel semakin meremang.
"Daddy-hh.. " lirih Adel sembari memejamkan matanya. Menikmati jilatan panas lidah Arga pada lehernya.
Arga hanya membalasnya dengan geraman tertahan. Pria itu sibuk mencecap leher Adel hingga meninggalkan banyak kissmark di area tersebut.
Puas mewarnai leher jenjang Adel dengan bekas gigitannya, bibir Arga beralih mengecup sekitar d**a Adel yang membusung. Tube top yang dipakai Adel, memperlihatkan hampir setengah dari bukit kembar gadis itu.
Sebelumnya, Adel memakai outer sebagai luarannya. Namun setelah masuk ke kamar Arga, dia sudah melepaskannya. Untuk bawahannya, Adel memakai mini skirt yang panjangnya mencapai sejengkal dari atas lutut.
"Emnh.. Daddy... " lirih Adel saat merasakan ujung hidung Arga menggesek belahan dadanya yang menyembul.
"Sudah sejak tadi Daddy ingin merasakannya, Baby." bisik Arga dengan mata menggelap. Semakin intens dirinya menggesek area tersebut. Membuat Adel merasa kepayahan.
Gadis itu menggeliat dengan tidak nyaman. Iris sapphire nya menatap lekat wajah tampan pria dewasa yang ada di depannya dengan sayu.
Adel menekan kepala belakang Arga agar semakin menempel di dadanya. Sebelah kakinya terangkat, melingkar di pinggul pria itu.
"C'mon, Daddy. Adel udah nggak tahan lagi.. " ujar Adel serak, dengan napas tercekat karena gairahnya yang sudah berada di ubun-ubun.
***