Bab 8

1551 Words
Altares benar benar terlarut dengan pekerjaannya. Dan tanpa Velove sadari, dia sejak tadi tak bisa tidur dan malah sibuk memperhatikan sang suami yang tengah serius bekerja. Velove yang kesal karena tak bisa tidur akhirnya beranjak dari ranjangnya. Dia haus dan ingin mengambil minuman. Bahkan saat melewati Altares pun, Altares tetap terpaku pada laptop miliknya dan tak terganggu dengan Velove yang barusan melewatinya. "Dia kerja sampai orang lewat aja nggak disapa." dumel Velove kesal. Velove minum dengan terus menggerutu. Tapi kemudian dia mengambil napas panjang saat dia sadar jika dia salah sudah terlalu fokus pada Altares. "Duh, apa sih.... biarin aja dia mau kerja. Lagian nggak penting juga. Ngapain aku bingung." Velove akhirnya naik kembali ke kamarnya, dengan wajah yang di tekuk. Altares yang tersadar istrinya tak ada di kamar celingukan, dan saat dia ingin mencari Velove bertepatan dengan itu Velove masuk ke dalam kamar. "Dari mana?" selidik Altares. Velove yang sedikit terkejut berjingkat, dia mengusap dadanya pelan. "Ngagetin aja, kenapa sih?" omel Velove kesal. Sret ..... "Kya..... Al ...." Velove berteriak keras saat Altares tiba tiba menariknya sampai duduk di atas pangkuannya. Velove menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tak terlalu dekat dengan Altares. "Kenapa nggak tidur? Ini udah malam Vel." Velove masih menetralkan detak jantungnya karena tiba tiba di tarik oleh Altares. Bahkan saat ini dia duduk di atas pangkuan Altares. "Tadi udah jawab kan kalau habis ambil minum. Kenapa masih tanya." dumel Velove. Altares selalu gemas saat melihat wajah Velove yang mengomel seperti itu. Entah kenapa dia betah melihat wajah Velove. Velove menjadi diam saat Altares malah terus melihatnya tanpa berkedip. Mata Velove terpaku pada wajah Altares saat ini. Tangan Altares meraih dagu Velove dan menarik wajah itu mendekat ke arahnya. Velove tak berani bernapas karena instingnya mengatakan hal yang membuatnya diam seperti patung saat ini. Kedua tangannya meremas gaun tidur yang sedang dia pakai. Dan benar saja, sedetik kemudian bibir Altares menempel di bibirnya. Altares sudah menutup matanya sedangkan Velove mengedipkan matanya berkali kali mencerna apa yang terjadi. Tapi saat dia merasakan tangan Altares bergerak di punggungnya barulah dia sadar dengan apa yang terjadi. Velove ingin kabur saat ini juga tapi rengkuhan Altares pada pinggangnya membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. Dan sialnya tubuhnya malah mengkhianati nya. Perlahan mata Velove tertutup mengikuti apa yang Altares mau. "Ah, persetan dengan malu. Lagian kami sudah sah bukan!!" umpat Velove dalam hati. Tangan Velove terulur ke belakang leher Altares sedangkan tangan Altares menekan tengkuk Velove agar ciuman mereka lebih dalam. Lidah Altares sudah meledak masuk ke dalam mulut Velove dan mengobrak abrik isi di dalamnya. "Eungh ... " Velove mulai gelisah karena ciuman Altares berpindah ke leher miliknya, gaun tidur Velove sudah terbuka di bagian pundaknya karena ulah Altares. "Al.... jangann....." Velove menghalangi Altares yang ingin meninggalkan jejak di pundaknya dan Altares menuruti. Dia meneruskan apa yang ingin dia lakukan pada istri kecilnya itu. Perlahan ciuman itu turun ke d**a milik Velove. Di sana Altares terdiam melihat wajah merah Velove. "Velove, kamu marah nggak kalau aku pegang pegang?" tanya Altares dengan wajah polosnya. Blush .... Wajah Velove memerah karena pertanyaan Konyol Altares. Bagaimana bisa di saat mereka melakukan itu malah Altares sempat bertanya hal gila menurut Velove. "Al, kamu bertanya seperti itu tapi tangan mu sudah menyentuhnya? Apa kau gila hah?" Altares tersenyum lebar dan dengan gerakan cepat dia meremas bagian d**a Velove. "All.... ah ......" Suara Velove dengan sialnya malah keluar seperti itu karena tangan Altares bergerak cepat. Dada Velove yang masih terbungkus dua benda itu terlihat jelas di depan Altares saat ini. Kepala Velove langsung terasa berdenyut karena tindakan Altares. Dan baru kali ini ada yang menyentuh Velove seperti itu. "Al, pelan.... Ssshh....." desis Velove. Tak lama setelahnya Altares dengan brutal membuka penutup itu. Mata Altares berbinar saat melihatnya. Tubuh Velove merinding dan membuat Velove semakin gelisah. Deru napas Altares mengenai kulit Velove saat ini. "Eungh ......" Velove melenguh pelan saat lidah kasar Altares mengenai puncak benda kenyal itu. Kepala Velove semakin berdenyut gila karena ulah Altares.. Altares melakukan itu seperti bayi besar yang sedang menyusu pada ibunya. Tangan Altares yang terbebas juga tak di biarkan menganggur. Dia meraba benda kenyal yang tak di hisapnya itu. Lalu memainkannya pelan. Apa yang di lakukan Altares membuat napas Velove semakin memburu. Tanpa sadar kedua tangan Velove menekan kepala Altares untuk melakukannya lebih kencang. "Kamu menikmatinya Vel?" Mata Velove yang awalnya tertutup menjadi terbuka saat mendengar pertanyaan Altares. Di lihatnya mata Altares masih sayu dengan wajah yang memerah. "Apa hanya aku yang menikmatinya?" tanya Velove balik. Altares tersenyum, dia menarik dagu Velove lalu mendaratkan ciuman lembut di bibir Velove lagi. Velove menyambut ciuman itu dengan tak kalah panasnya. Altares lebih berani mengeksplor semua yang ada pada Velove saat ini. Altares memulai semuanya tanpa pikir panjang, dia mengangkat tubuh Velove untuk di bawanya ke arah ranjang. Merebahkannya di sana dengan pelan dengan masih berciuman panas dengan Velove. Altares mulai menjelajah kemana mana. Saat tangan Altares mulai bergerak ke bawah dan menyingkap gaun tidur Velove barulah Velove tersadar. Dengan napas yang tersengal, Velove menahan tangan Altares yang ada akan bermain di bagian inti miliknya. "Al, tidak..... maaf...." ucap Velove penuh rasa tak nyaman. Altares memejamkan matanya sejenak lalu membukanya cepat. Senyum tipis muncul di wajah tampan nya. Dia menarik kembali tangannya, merapikan gaun tidur Velove, mencium kening Velove lama. Cup..... "Tidur lah Vel, aku nggak akan melanjutkannya kalau kamu tak mengijinkannya." ucap Altares lembut. Altares tak marah, dia merutuki kebodohannya karena ulahnya sendiri. Harusnya dia tak terburu buru untuk membuat Velove mau melakukan itu dengannya. Altares bangkit dari atas Velove, dia berbalik dan menuju kamar mandi. Velove yang baru saja di tinggalkan mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Maaf Al, tapi aku takut. Aku nggak mungkin ngelakuin itu kalau aku aja nggak tahu kita ini bagaimana?" gumam Velove lirih. Velove bangun dari tidurnya, dia merapikan gaun tidurnya dan saat tak sengaja melihat cermin dia melihat tanda merah disana. Velove hanya bisa menghela napasnya panjang. Dia lalu naik ke ranjang kembali, merebahkan tubuhnya membelakangi Altares. Velove tahu apa yang di lakukan Altares yang masih lama di kamar mandi. Tapi Velove tak ingin membahas itu. Perlahan matanya terpejam, dan Velove masuk ke dalam mimpinya sendiri. Sementara itu Altares memijat kepalanya yang berdenyut pusing. Dia harus menenangkan belalainya yang masih berdiri dengan tegak di bawah sana. Terpaksa, malam malam dia harus mandi air dingin. "Ayolah, Al, kamu harus sabar. Dia baru kamu nikahi dan malah ingin cepat cepat kamu unboxing." dumel Altares pelan. Altares memejamkan matanya pelan, tangannya bergerak pelan di belalai miliknya. Membayangkan milik Velove yang sempat di cicipinya tadi. Altares menggeram tertahan saat dia sudah hampir sampai hanya dengan membayangkan milik Velove yang kenyal meskipun masih mungil saat dia memegangnya. "Huft, jangan sampai aku bersolo karir terus tiap malam hanya karena menginginkannya." Altares lalu membersihkan diri dan mandi dengan air dingin. Di saat dia sudah selesai dan kembali ke kamar, dia melihat Velove yang sudah tidur dengan pulas. Tapi posisi Velove yang membelakangi nya membuatnya berdecak kesal. "Bagaimana bisa dia tidur menghadap kesana? Apa dia kira aku ini tak ada?" Altares naik ke atas ranjang perlahan, meraih bahu Velove lalu menariknya masuk ke dalam pelukannya. Velove yang sudah tertidur nyenyak sejak tadi tak terusik sedikitpun dan itu membuat Altares tersenyum. Dia mencium puncak kepala Velove lalu tak lama Altares juga sudah masuk ke dalam alam mimpinya menyusul Velove. # Keesokan paginya, Velove bangun seperti biasa. Tapi dia tak menemukan Altares di kamar itu. "Kemana dia pagi pagi?" gumam Velove. Dia bangun dan segera membersihkan dirinya. Turun ke bawah tapi tak juga menemukan Altares disana. Nesa melihat putrinya tengah kebingungan pun tersenyum. "Nyari suaminya pasti?" goda Nesa. Reflek Velove mengangguk, tapi detik berikutnya dia menggelengkan kepalanya pelan. Nesa tertawa pelan, dia menyuruh Velove duduk untuk sarapan. Sedangkan Velove kali ini malu sekali karena terkesan dia mencari Altares saat ini. Tapi memang itu kenyataannya, meskipun Velove masih menampik semuanya. "Udah berangkat ke kantor, katanya ada meting pagi." jelas Nesa pada Velove. Velove hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia juga tak melihat Daddy-nya di meja makan. Dan seperti biasa, Daddy nya pasti juga sudah berangkat sejak tadi. Velove sarapan dengan diam. Sedangkan Nesa sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun ada pelayan di rumah besar mereka, tapi masalah dapur dan makanan Nesa tetap turun tangan. "Mom, aku berangkat dulu. Jadwal kuliah bentar lagi dan mungkin sampai sore." pamit Velove. Dia mencium pipi sang Mommy. "Hati hati di jalan, jangan ngebut. Kabari suamimu kalau kamu udah berangkat." Velove mengangguk dan berlalu dari sana. Mobilnya juga sudah terparkir rapi di rumah sang mommy. Kemungkinan Carlos sudah membawanya kesana. Velove melakukan mobilnya dengan pelan. Tak terburu buru, dia ingin mampir ke sebuah toko kue. Ingin membawanya ke kampus sebagai bekal nantinya. Tapi saat hendak berhenti, matanya melotot lebar dan tangannya mencengkeram setir mobilnya dengan erat. "Dia bilang pada Mommy kalau dia pergi ke kantor pagi. Ada meting, lalu ini apa?" gumam Velove marah. Di depan sana, terlihat Altares sedang bersama seorang wanita yang anggun. Dengan gaun yang sedikit panjang. Terlihat dari wajah mereka jika mereka bahagia dan senang. Sementara itu, Altares sudah ingin pergi dari sana setelah mengantar Kalina. Tapi saat dia ingin pergi, dia melihat mobil sang istri tepat di seberang jalan. Altares ingin menghampiri Velove, tapi dia mulai panik saat tiba tiba Kalina memeluk lengannya. Altares semakin panik saat mobil Velove pergi dari sana dengan kecepatan tinggi. "Sial, Velove!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD