Bab 7

1617 Words
Mata Velove melotot mendengar semua percakapan ketiga orang yang ada di dalam sana. Velove yang kesal ingin meringsek masuk ke dalam tapi di cegah oleh Altares. "Kenapa di cegah sih?" protes Velove. "Biarin aja, yang penting aku nggak nanggepin. Kita pulang aja sekarang." Velove mendengus kesal, dia berbalik arah sembari menghentakkan kakinya kesal. Altares terkekeh pelan, dia menyusul istrinya pergi tapi sekilas dia melirik keluarga Viona yang penuh drama itu. Matanya menatap tajam ke arah mereka. "Aku nggak akan lupa semua kesakitan yang kalian kasih sama aku dan keluargaku!" batin Altares. Sebelum dia benar benar pergi dari sana, dia menyuruh Carlos untuk mengawasi mereka. Jika ada yang ingin berbuat yang aneh atau melewati batas Altares mengijinkan Carlos untuk bertindak. # "Viona, kamu yakin kalau Altares bakal datang kemari? Tapi ini sudah hampir satu jam berlalu dan dia belum terlihat batang hidungnya sama sekali." Viona juga terlihat gelisah karena pesannya tak kunjung di balas. Telfonnya juga tak di respon oleh Altares. Papanya Viona juga berusaha menghubungi Altares kembali tapi panggilan telfon itu di alihkan ke pesan suara. "Apa dia tahu kalau kamu pura pura Vi?" tanya Papanya curiga. Viona menggelengkan kepalanya, dia juga ragu apa Altares benar benar akan datang kesana. Sedangkan mamanya sudah mengomel tanpa henti sejak tadi. Bayangan jika Altares datang dan kembali bersama Viona serta mendapat pundi pundi uang pun sirna seketika. "Ini semua kesalahan kamu, kalau dulu kamu nggak main gila sama laki laki lain kamu nggak akan di buang kayak gini. Sekarang lihat? Kamu dapat apa hah? Kamu bahkan udah nggak segel lagi. Dan kita kehilangan semuanya!!!" teriak Mamanya Viona semakin geram. Viona memejamkan matanya cepat menerima semua cacian dari sang mama. Viona meremas selimut yang menutupi badannya. Dia marah pada sang mama karena selalu di tuntut ini itu tapi saat dia menuruti dan tak menghasilkan mamanya akan selalu mencacinya. Sedangkan papanya memijat keningnya pusing melihat pertengkaran ibu dan anak itu. "Lebih baik kita bawa pulang lagi kamu, tagihan disini mahal. Dan kamu minta masuk ruang VVIP. Jika sampai Altares tak datang siapa yang akan mau bayar?" Ucapan sang papa membuat mamanya Viona dan Viona terdiam. Papanya benar, jika sampai dia di rawat berhari hari tentu tak sedikit uang yang akan di keluarkan nanti. # Berbeda dengan dua sejoli yang hanya saling diam di dalam mobil. Sejak tadi Velove berkali kali menghela napas panjang dan membuat Altares mengerutkan keningnya bingung. Alhasil, dia memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan. Velove melihat sekeliling bingung, dan menoleh ke arah Altares. Tapi matanya membeliak saat dia menoleh wajah Altares sudah ada di depan wajahnya. "Ke-kenapa berhenti di pinggir jalan?" tanya Velove gugup. Altares diam tak menyahut, tapi matanya menelisik semua wajah Velove yang terlihat gugup saat ini. "Harusnya aku yang bertanya, kamu kenapa diam aja? Sariawan apa gimana?" "Hah?" Jari Altares meraih dagu Velove, mengusap lembut pipi Velove yang tiba tiba memerah karena ulah Altares kepadanya. Dan itu membuat Altares tersenyum samar dengan mata yang terus terpaku pada mata Velove. "Jangan banyak berpikir dan banyak diam, aku lebih senang melihatmu mengomel." "Ap....mph....." Mata Velove membola sempurna, saat dia belum menjawab perkataan Altares tapi Altares sudah menciumnya terlebih dahulu. Tak hanya ciuman biasa tapi Altares juga melumat bibir Velove dengan rakus. Velove yang terbawa suasana mengalungkan kedua tangannya di leher Altares. Jangan lupakan tangan jahil Altares yang sudah berpindah memeluk tubuh Velove. Mengusap punggung Velove yang menimbulkan getaran aneh pada tubuh Velove. "Eungh......" Suara lenguhan terdengar dari bibir Velove, tapi saat Altares ingin berbuat lebih terdengar suara ketukan pada jendela mobilnya. Mereka berdua sontak membuka mata mereka dengan cepat. Altares dan Velove menoleh bersamaan saat melihat polisi patroli lah yang mengetuk kaca mobil mereka. "Sial ...." Altares mengumpat kasar, beruntung kaca mobil itu tak tembus di lihat dari luar. Altares melepas pelukannya pada tubuh sang istri begitu juga dengan Velove yang merapikan baju dan rambutnya. Jangan sampai mereka di gelandang polisi karena di tuduh berbuat m***m di pinggir jalan. "Iya ada apa ya pak?" tanya Altares santai. Polisi itu menjalankan prosedur dengan menanyai Altares kenapa Altares berhenti di pinggir jalan. "Maaf, kenapa anda berhenti di tempat sepi seperti ini?" "Ah, ini istri saya tiba tiba mual pak. Sedikit tak enak badan, jadi saya berhenti sebentar." Altares lalu memberikan kartu identitas dan bukti jika memang Velove adalah istrinya. Polisi itu mengangguk, dia juga sempat melirik sekilas ke arah Velove. Tapi saat melihat identitas Altares polisi itu enggan menanyai lebih lanjut. "Baik pak, lebih baik segera di bawa ke dokter. Disini rawan begal. Silahkan di lanjutkan perjalanannya kalau sudah membaik. Kami permisi!" Altares mengangguk, sedangkan Velove menghela napas lega. Bugh..... Velove yang kesal memukul lengan Altares keras. Bisa bisanya sampai ada polisi yang menegur mereka. Sedangkan Altares hanya cengengesan saja. "Nggak sengaja, tapi kamu juga nikmatin. Jadi adil kan?" Velove yang masih kesal karena godaan Altares masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu mobil. Altares menggelengkan kepalanya pelan. Bahkan di dalam rumah pun Velove tak menyapa Daddy dan Mommy nya karena kesal dengan Altares. Mereka berdua saling pandang bingung, lalu tak lama Altares duduk di sana dengan tenang. "Kenapa istrimu Al?" Altares lalu menceritakan semuanya kepada mertuanya. Lalu Mahen mengangguk mengerti, dia juga tahu tentang masalah Altares dengan Viona dari dulu. Begitu juga Nesa, hanya sebatas tahu jika Viona adalah mantan Altares. Jika ada tambahan cerita lainnya baru lah hari ini mereka mengetahuinya. Dan beruntung mereka tahu semua itu dari Altares secara langsung. "Al, maafkan putri mommy yang masih sering merajuk seperti itu. Maklum dia selalu memakai emosinya jika sedang ada masalah." Altares mengangguk mengerti, lalu wajah Altares kali ini berubah menjadi serius saat menatap ke arah Mahen. Mahen yang sedang menikmati kopinya pun menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?" "Damian mengganggu Velove di kampus tadi Dad, apa perlu Altares turun tangan?" Altares tak bermaksud mengadu, tapi dia ingin meminta pertimbangan Mahen soal itu. Biar bagaimanapun dia orang baru di hidup Velove saat ini. " Damian? Mantan kekasih Velove yang selingkuh itu? " Altares mengangguk, lalu dia menceritakan semuanya lagi pada mertuanya. Dia tak ingin gegabah dan sampai membuat Velove menderita nanti di kemudian hari. "Kamu bisa mengatasinya Al? Dia hanya serangga kecil sebenarnya, tapi jika di biarkan akan mengumpulkan serangga yang lain dan membuat rumah yang besar." ucap Mahen. Altares mengangguk, lalu kedua mertuanya menyuruh Altares menyusul Velove naik ke atas kamar mereka. Mertua Altares juga tahu jika Altares membeli rumah baru untuk di tempati dan mereka tak keberatan tentang hal itu. Mereka malah senang jika Velove juga bisa bersikap mandiri nanti. Saat sampai di kamar, Altares tak melihat istrinya tapi terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. "Dia mandi nggak ngajakin aku." Altares rebahan di kasur milik istrinya itu sambil menutup matanya lelah. Sebenarnya banyak pekerjaannya yang tertunda karena dia memaksa mempercepat pernikahannya dengan Velove. Berbarengan dengan Altares memejamkan matanya, Velove keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang di lilitkan saja. Karena dia lupa membawa jubah mandinya. Dia keluar dengan perlahan, dan mengintip ke dalam kamar. Matanya melotot saat mendapati Altares bahkan sudah ada di tempat tidurnya dengan menutup matanya. Dia menunggu beberapa saat untuk memastikan Altares benar benar tidur. "Huft, untung dia sudah tidur. Kalau dia masih bangun bisa habis aku keluar pakai beginian. Mana dia mesumnya nggak ketulungan." dumel Velove tanpa sadar. Velove berjalan pelan masuk ke dalam kamar sampai berjinjit. Dia mengambil pakaian tanpa tahu jika Altares tak benar benar tidur bahkan sekarang sedang memperhatikannya dari ranjang. " Ternyata, kulit istriku mulus dan putih ya? " Tubuh Velove membeku, dan sialnya handuk yang melekat di badannya jatuh tanpa dia bisa cegah. Altares yang melihat itu menyeringai, dia mendekati Velove yang berdiri seperti patung membelakanginya. Altares meraih handuk itu dan membungkus kan kembali pada badan Velove. "Tapi sayang, dua buah tomat itu belum bersemi." bisik Altares di samping telinga Velove. Velove langsung menoleh saat tersadar tapi Altares sudah berada dalam kamar mandi. "Altares, m***m banget kamu!!" teriak Velove kencang. Napas Velove sampai tersengal saking kesalnya. Tapi dia juga malu dengan yang terjadi. Tanpa sadar dia melirik gunung kembarnya sendiri. "Sial, kenapa yang di katakannya malah benar!" rutuk Velove kesal. Sementara itu, Altares memijat pangkal hidungnya yang mulai pusing. Bayangan tubuh Velove tentu saja mengganggunya. Dan itu membuatnya tersiksa. Juniornya bangun tanpa bisa dia cegah. "Normal, aku kira dia nggak mau bangun lihat benda kecil begitu!" kekeh Altares. Terpaksa dia harus bersolo karir hari ini, karena dia tak akan memaksa Velove memberikan haknya sebelum Velove benar benar jatuh cinta dengannya. "Ugh...... Kenapa harus solo sih, padahal ada istri!" racau Altares sambil terus menggerakan tangannya sendiri. Jangan lupakan bayangan tubuh Velove saat telanjang tadi. Hampir satu jam lamanya Altares tak keluar kamar mandi. Velove yang berada di dalam kamar pun tak curiga sama sekali Dia yang kesal memilih memunggungi Altares saat ini. "Uh, malunya. Gimana bisa sih dia bilang kayak gitu? Apa jangan jangan dia terbiasa melihat yang besar besar?" dumel Velove pelan. Velove bahkan memukul kepalanya karena pikirannya sudah kemana mana. Dan itu membuat Altares yang baru saja keluar dari kamar mandi menatapnya bingung. "Kepala kamu kenapa? Ada kutunya?" tanya Altares asal. Velove langsung terbangun dan melempar bantal ke arahnya. Bugh.... "Kamu ngatain aku punya kutu?" Altares menggeleng dengan wajah polosnya. "Nggak gitu, lagian kamu aneh. Ngapain kepala di pukul pukul." jawab Altares santai. Velove berbalik membelakangi Altares. Dan Altares memilih berbaring di sebelah Velove sambil memainkan ponselnya. Tak lama dia kembali turun dari ranjang dan memilih mengambil laptop miliknya. Velove yang merasakan pergerakan sang suami lalu berbalik dan menatap Altares heran. Pasalnya ini sudah menunjuk untuk jam istirahat tapi Altares malah mau mulai bekerja. "Tidur duluan Vel, ada kerjaan yang harus aku urus." ucap Altares tanpa melihat ke arah Velove. Velove yang awalnya sudah membuka mulutnya untuk bicara kembali menutup mulutnya setelah mendengar perkataan Altares. "Dia udah kayak paranormal aja." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD