7. Siapa Wanita Itu?

1088 Words
“Sedang apa kau di sini?” Orang itu mengulangi pertanyaan pada Illeana yang hanya diam di tempatnya. “Halo,” sapa Illeana dengan formal. Tapi tidak ada balasan dari lawan bicara gadis itu selain menatap dengan angkuh. Illeana sendiri tampak gugup. “Aku tidak tahu kapan kau kembali dan apa yang kau lakukan di sini. Tapi, sampai kapanpun itu, aku tidak akan pernah meberikan izinku. Sebaiknya kau ingat itu,” kata orang itu. Seorang wanita yang berpakaian begitu anggun dan glamour. Setelah mengatakan itu wanita tersebut melewati Illeana begitu saja dan masuk ke toilet membiarkan Illeana diam di tempat dengan perasaan yang terguncang. Bunyi ponsel gadis itu menyadarkannya, membuat Illeana meninggalkan tempat tersebut dan bergegas untuk pergi menemui atasannya. Illeana pikir, menghadapi William yang marah lebih menakutkan daripada menghadapi keangkuhan wanita tadi yang merupakan ibu dari Boby. Langkah Illeana tergesa menemui William yang sedang bersama seorang pria yang tadi menyapa di luar hotel. Kedua pria itu tampak sedang menyobrol. Illeana mendekat, menayapa William dengan sopan sebagai bawahan. “Duduklah,” perintah William. Illeana menurut dan duduk di dekatnya. “Aku akan mengenalkannya,” kata William pada pria itu. “Ini adalah desainer perhiasan yang baru, Illeana Fagrethia, kedepannya tentang desain merek, atau yang menyangkut desain perhiasan di perusahaan kami, dia yang akan bertanggung jawab,” lanjut William mengenalkan Illeana. Pria di depan mereka itu menganggukkan kepalanya. Seorang pria paruh baya yang telah menjadi klien William selama beberapa tahun ini. “Ternyata begitu. Halo, aku Mark Kim dari MK Jewelry, senang bertemu secara langsung denganmu,” ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya. Illeana membalas, dan memperkenalkan diri, juga mengaku senang bertemu. Mark juga mengenal Illeana lewat karyanya yang terkenal. “Aku tersanjung, terima kasih,” ucap Illeana. Mereka mulai rapat itu. William memang tidak berbohong, hanya saja dia tidak mengatakan dengan jelas pada Illeana soal rapat yang sudah diaturnya itu. Rapat itu masuk dalam agenda William karena sebelumnya ketua tim desain perhiasan perusahaan mereka mengajukan cuti, siapa yang menyangka bahwa ibunya William akan secepat itu mengontrak pengganti, dan yang menggantikan posisi desain perhiasan perusahan itu adalah seseorang yang selama ini ditunggunya. Sementara Illeana dan Mark membahas desain perhiasan, William hanya memperhatikan dalam diam, membiarkan mereka leluasa membahas sampel dan sebagainya. Dalam pekerjaan Illeana cukup professional juga, gadis itu mencatat apa yang dikatakan sang klien. “Kalau begitu, kami akan menunggu hasilnya,” kata Mark mengakhiri rapat itu. “Tentu, aku akan segera mengabari,” kata Illeana. “Baiklah. Sepertinya aku harus segera kembali. Bekerjasama dengan WA Jewelry, anak perusahaan Virs Group memang selalu hebat.” Mark berdiri dari duduknya sambil menglurkan tangan. William ikut berdiri dan menjabat tangan itu. “Anda terlalu memuji. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada kami. Semoga kerja sama kita selalu terjaga dengan baik,” balas William. “Tentu,” Mark kemudian beralih pada Illeana. “Aku akan menunggu karyamu yang hebat, Nona Illeana.” “Baik. Aku akan segera mengabari bila sudah selesai nanti.” Mark mengangguk dan kemudian pamit menyisakan Illeana dan William di tempat itu. Ruang privasi di salah satu restoran yang ada di hotel bintang lima tersebut kerap kali didatangi orang penting. Illeana menghabiskan segelas air putih di atas meja. Gadis itu kembali duduk, menyandarkan punggung lalu menghela napas lega. Mungkin terlihat professional, tapi Illeana gugup setengah mati karena tidak ada persiapan apapun untuk mengikuti rapat itu, serta William tak menjelaskan apapun soal rapat tersebut. Sekarang Illeana mengarahkan tatapan tajam pada atasannya itu yang masih bersikap santai. “Anda mempermainkanku, ya?” tuduh Illeana. William menatapnya. Tapi kali ini pria itu tampak acuh. “Makanlah lebih dulu, setelah ini kau boleh pulang,” kata William. Illeana menatap atasannya itu tak percaya. “Setelah mengacaukan kencanku, kau dengan mudahnya mengusirku? Sungguh tak bertanggung jawab.” Lirikan mata William membuat Illeana memalingkan wajah. “Lalu, kau ingin ikut denganku, begitu?” Ada nada sindiran di sana. “Oh, tidak perlu. Aku akan pulang saja setelah menghabiskan ini,” kata Illeana seraya memutar bola matanya jengah. William hanya menghela napas, dan membiarkan Illeana mengambil makanan yang tersaji di sana. Tidak ada makanan berat, hanya makanan ringan yang dipesankannya karena William tahu gadis itu sudah makan. Melihat bagaimana Illeana menghabiskan desert di atas meja dengan begitu lahap, tanpa sadar pria itu menarik sudut bbirnya untuk membentuk senyum kecil yang samar tapi itu cukup membuat perasaannya lebih baik, dan menilai bahwa selera makan gadis itu sama sekali tak berubah. “Meskipun aku akui, sikapmu berubah jadi lebih berani,” kata William pelan. “Apa?” Rupanya Illeana mendengar suara pria meskipun tak jelas apa yang dikatakannya. “Tidak ada. Kau habiskan itu, aku akan keluar,” kata William bangun dari duduk. “Tidak perlu. Aku sudah selesai menghabiskan bagianku,” balas Illeana seraya bangun dari duduknya dengan tisu di tangan dan melap sudut bibirnya. Tidak ada protes dari William dan mereka keluar bersama. Namun, entah kesialan apa lagi yang menyambut Illeana ketika sampai lobi. Langkah kecil gadis itu kembali terhenti. Wanita itu menatap tajam pada Illeana yang berjalan berdampingan dengan William. Tatapan angkuh yang menyiratkan ketidaksukaannya terhadap Illeana itu tak segan untuk diperlihatkan pada William. “Aku tahu bahwa penilaianku tidak akan pernah salah,” kata wanita itu ketika Illeana berhadapan dengannya. “Halo, Ibu,” sapa Illeana pelan. “Bukankah sudah aku katakan untuk tak memanggilku begitu? Sungguh menjijikan sekali,” hardik wanita itu. Illeana seketika bungkam. Tatapan tajam itu mengarah pada William yang tak tahu apa-apa. “Kau memang hebat dalam merayu seseorang yang memiliki kasta. Aku rasa itu sudah cukup sebagai bukti agar kau berhenti.” Tanpa permisi wanita itu mengambil gambar Illeana dengan William di belakangnya yang hanya berjarak satu langkah. Ponsel canggih milik wanita tersebut mengabadikan momen dalam sekali jepret dan hasilnya cukup lumayan. “Tidak, Bu, Anda salah paham. Kami –“ “Aku tidak menerima pembelaan apa pun darimu, sudah terlambat.” Wanita itu tak peduli lalu melengos begitu saja setelah menatap Illeana dengan tatapan merendahkan. Terdiam. Gadis itu hanya mampun mematung di tempat. Ada sudut yang menyakitkan di dalam hatinya. Apa salah Illeana kali ini? “Aku tak berharap kau melihat ini. Tapi, cukup kau tahu saja. Aku permisi,” ujar Illeana begitu sadar dari lamunannya dan pergi dari hadapan William yang masih terdiam. Menatap kepergian Illeana, William bertanya-tanya apa yang sedang terjadi? “Siapa wanita itu? Tidak mungkin ibunya, bukan?” Pikir William karena bagaimanapun juga dia tahu sejarah keluarga Illeana yang menyedihkan. Mungkin tidak akan mengetahui apapun saat ini, tapi William bertekad untuk mengetahui sesuatu dari gadis itu kedepannya dan bersumpah untuk tak lagi melepaskannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD