Di dalam mobil itu Illeana marah, sama sekali tak ingin melihat William yang duduk santai di sampingnya. Andai Illeana bisa memilih, tentu akan duduk di samping sang supir tapi pria itu sedang menjalankan perannya sebagai bos yang tak mau dibantah. Illeana terpaksa menurut tapi keadaan menjadi canggung.
“Ini tasmu,” ujar William memberikan tas Illeana.
Tentu saja, gadis itu heran kenapa tas miliknya ada pada pria itu?
William berdeham dan memalingkan wajah keluar jendela.
“Kenapa kau … Anda bisa –“
“Aku membawanya,” sela William seraya melirik Illeana. “Sudah aku katakan, kau harus ikut denganku untuk rapat,” tegas William.
Sayangnya Illeana tampak tak percaya karena hari ini dia sama sekali tak punya jadwal untuk rapat, apalagi pertemuan di luar kantor seperti yang William katakan itu.
Tidak ingin berdebat dengan sang atasan yang Illeana kenal keras kepala, gadis itu memilih membuka tas, di dalamnya ada lengkap barang miliknya.
Hening. Suasana menjadi semakin canggung dengan diamnya Illeana.
“Apa kau harus berkencan di jam kerja? Tidakkah kau tahu, ada aturan yang harus ditaati?” kata William. Entah mengapa diamnya Illeana membuatnya tak nyaman.
Bola mata Illeana melirik William tajam.
“Apa salahnya? Lagi pula itu tidak dilakukan di kantor. Lagi pula, jam istrihat masih lama. Apakah itu masalah? Aku tahu dengan jelas kalau aturan itu tidak ada,” balas Illeana.
“Aku yang mengadakannya,” kata William.
“Kapan?”
“Barusan.”
Gadis itu tertawa tak percaya lalu menatap sang atasannya itu.
“Kau hanya ingin menyiksaku, bukan?” tuduh Illeana.
Tentu saja, William menyangkal dengan keras.
“Memangnya aku tidak punya kerjaan apa?”
“Bukankah memang begitu? Lagu pula, kekasihmu sendiri datang ke perusahaan, lihat siapa yang melanggar aturan?” sindir Illeana.
Mendengar apa yang gadis itu katakan William terdiam, ekspresinya berubah menjadi datar tapi Illeana tidak peduli dan membuka layar ponselnya karena ada pesan masuk dari kekasihnya.
[Kau baik-baik saja?]
Beberapa saat Illeana diam.
[Ya, aku tidak apa-apa. Maaf untuk hari ini.] Balas Illeana masih merasa bersalah.
[Tidak apa-apa. Aku sudah kembali ke kantor, dan mungkin akan sibuk hingga malam nanti. Bila butuh sesuatu, hubungi saja ya.]
[Ya. Selamat bekerja.]
Hanya pesan singkat yang Illeana kirimkan sebagai balasan lalu menghela napas panjang.
“Bisakah kau fokus saat bekerja?” Suara itu terdengar kesal.
Illeana melirik ke arah pria itu.
“Apa lagi masalahnya sekarang? Lagi pula hanya pesan teks, dan ini di jalan, masih ada waktu sepuluh menit sebelum jam masuk kerja setelah istirahat siang,” balas Illeana tidak terima dengan perkataan William.
“Tapi kau sedang bersamaku, jadi waktu kerjamu hanya untukku.”
“Aku bukan asistenmu. Kenapa Anda –“
“Aku tidak ingin dibantah!” sela William tegas sambil mengarahkan tatapan tajamnya pada Illeana yang seketika bungkam dengan ekspresi kesal.
Wajah Illeana terasa panas karena marah.
Sementara itu sang sopir sesekali melirik apa yang terjadi di belakang, dan sedikit mengerutkan kening melihat sikap William yang tidak biasanya.
Mereka akhirnya tiba di tujuan, William memerintah agar Illeana mengikutinya turun dari mobil. Mereka berada di depan hotel. Illeana menatap William curiga.
“Apa?” William bertanya karena tak nyaman dengan tatapan yang Illeana arahkan padanya.
“Tidakkah Anda, ah, tidak. Tidakkah kau bisa bersikap professional layaknya seorang direktur? Untuk apa membawaku ke hotel dengan alasan untuk rapat?” kata Illeana dengan nada tajam.
“Apa maksudmu? Aku –“
“Aku tidak ingin tahu!” sela Illeana kembali marah dan menghadap William. “Kau sama sekali tidak berubah, ya, Will? Kau masih sama seperti dulu, padahal sepuluh tahun telah berlalu,” lanjutnya dengan tatapan merendahkan.
Dahi William mengerut, ekspresinya seperti tak terima dengan apa yang Illeana katakan itu.
William tertawa tak percaya ketika pikirannya menangkap apa maksud dari perkataan Illeana itu.
“Kenapa? Kau tidak tahu?” balas William mengambil langkah maju pada gadis itu yang secara otomatis mundur.
Melihat tatapan William yang berubah menjadi gelap membuat Illeana waspada. Gadis itu menelan ludah, sedikit takut bila William sudah seperti itu.
“Kalau saja kau tak muncul lagi setelah sekian lama, aku tidak akan bersikap seperti ini,” kata William mengarahkan tatapannya pada Illeana yang masih mengambil langkah mundur untuk menyelamatkan diri dari cengkraman menakutkan William.
Namun, usaha Illeana sia-saia saja karena punggungnya terbentur pilar besar yang berada di luar hotel dan William memerangkapnya di sana.
“Aku –“ Illeana menelan ludahnya gugup ketika William semakin dekat.
“Kenapa? Kau takut?”
Tidak mungkin Illeana mengatakannya bukan?
“Kau yang lebih tahu seperti apa aku ketika marah,” kata pria itu sedikit mengancam.
Illeana menahan napas ketika William semakin dekat. Dalam hati gadis itu berdoa seseorang muncul untuk menyelamatkannya dari William.
“Will, aku –“
“Kenapa?”
“Aku –“
Illeana kehilangan kata-kata untuk membalas William.
“Direktur William?”
Seseorang memanggil nama William dari arah belakang pria itu yang seketika menghentikan langkah pria itu yang kian dekat dengan Illeana.
Illeana sendiri masih menahan napasnya. William menarik diri emudian tapi tidak segera berbalik, pria itu meneralan ekspresi wajahnya agar tak terlihat begitu menakutkan. Sebelum berbalik, William mengarahkan tatapan tajamnya sekali lagi pada Illeana.
“Ternyata memang Anda,” ujar seorang pria yang memanggil William tadi.
“Oh, halo. Maaf aku sedikit terlambat,” ucap William.
“Oh, tidak. Kebetulan sekali aku pun baru sampai. Mari, kita masuk saja, dan membahasnya di dalam?” ajak pria itu.
William menganggukkan kepala dan mereka pun masuk ke hotel. Sebelum pergi pria tadi sempat melirik Illeana yang mengambil napas banyk-banyak.
Andai saja bukan di tempat umum, Illeana pastu sudah terduduk lemas karena sikap William itu. Napasnya bahkan sedikit cepat sekarang. Gadis itu memilih pergi ke toilet untuk menenangkan diri sebelum ikut bergabung dengan atasannya itu.
Apakah Illeana salah telah mengatakan sesuatu tadi? Tapi, sikap William itu membuatnya marah.
“Kau sedikit berubah,” gumam Illeana seraya menatap pantulan dirinya di cermin. “Dan kau masih hidup sekarang, Ileana,” lanjurnya. “Sepuluh tahun berlalu, ternyata aku tak bisa menghadapinya. Aku tak berdaya di depannya.”
Illeana menatap wajahnya di cermin dengan tatapan yang miris lalu tertawa tak percaua karena persiapannya menghadapi William, untuh begitu saja dalam sekejap mata di hadapannya.
“Sungguh memalukan.”
[Di mana kau? Datanglah atau aku akan membuat perhitungan denganmu.]
Pesan teks itu dikirim oleh atasannya dengan sedikit ancaman.
Illeana menghela napas kasar lalu meraih ponselnya dan bersiap untuk pergi dari sana. Namun, langkah Illeana tertahan di depan toilet ketika seseorang yang dikenalnya berdiri di depan hendak ke toilet.
“Kenapa kau di sini?”
Illeana terdiam. Apakah kembalinya dia ke tanah airnya itu adalah awal dari kesialannya atau awal dari kehidupannya? Kenapa bertemu dengan orang yang selalu ingin dihindarinya?