5. Tidak Mungkin Sendiri

1175 Words
“Jadi, bagaimana harimu di tempat baru?” tanya pria itu pada Illeana yang duduk manis. “Hm. Menyenangkan. Rekan baruku baik,” jawab Illeana yang menyembunyikan fakta bahwa atasannya sendiri menyakiti perasaannya. “Begitu? Sykurlah. Kalau kau mendapat masalah, kau bisa mencariku,” kata pria itu. Illeana terkekeh. “Bagaimana mungkin? Aku tidak akan menderita. Kau tenang saja,” timpal Illeana seraya tersenyum. “Ya, aku percaya padamu, Leana. Hanya sudah bisa menjaga diri, tapi tetap saja, sebagai kekasihmu aku pasti khawatir. Apalagi kau di tempat baru sekarang, pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” kata pria itu lagi. Tampak jelas sekali dia khawatir akan Illeana. Sekali lagi Illeana terkekeh. Bersama pria itu Illeana tampak rileks. “Terima kasih sudah mencemaskan aku, Boby. Tapi aku sudah dewasa, bisa menjaga diri jadi aku baik-baik saja,” ucap Illeana sepenuh hatinya. Boby melirik Illeana beberapa saat, memperhatikan lalu mengangguk. “Tentu, aku akan percaya padamu.” Senyum Illeana terbit. Sementara Boby Brandon fokus menyetir, pikiran Illeana kembali teringat dengan kedatangan Maria, dan bagaimana sikap Maria terhadap William. “Telah sepuluh tahun, tentu saja, dia tidak mungkin sendiri. Apa yang aku harapkan?” Batin Illeana terdengar begitu miris. Bohong bila Illeana mengatakan tidak berharap. Nyatanya, jauh di lubuk hati, rasa itu masih tersimpan apik walaupun sekarang dia pun tak lagi sendiri karena ada Boby sebagai kekasihnya. Mereka tiba di restoran untuk makan siang. Boby begitu baik pada Illeana yang bahkan menarik kursi sebelum gadis itu duduk, dan menuangkan air pada gelas Illeana. Sikap pria itu selalu membuat Illeana nyaman, tapi meski begitu ada pantangan yang harus Illeana taklukan. “Bukankah seharusnya kau sibuk? Kenapa masih mencariku?” tanya Illeana. Boby tak segera menjawab, pria itu selalu tersenyum sebelum menanggapi perkataan Illeana. “Karena aku merindukan kekasihku. Apakah tidak boleh?” jawab Boby. Illeana mendesah tak percaya tapi pada akhirnya dia tersenyum juga. Bagaimanapun, Boby sudah menjadi teman bagi Illeana. Selama sepuluh tahun sejak pertemuan pertama mereka saat studi di luar negeri. Mereka berbincang ringan sambil menggu pesanan mereka terhidang. Boby selalu santai, tersenyum, ramah, dan begitu baik, bahkan tak pernah membuat Illeana merasa sedih selalu ada saja humor yang pria itu bawakan sehingga suasana menjadi santai. Di tengah obrolan mereka tentang tempat tinggal Illeana yang masih dirahasiakan gadis itu, ponsel miliknya berbunyi di atas meja tapi Illeana tak mengangkatnya hingga beberapa kali ponsel itu bordering. “Kenapa tidak mengangkatnya?” tanya Boby. “Itu hanya panggilan biasa tak perlu dihiraukan,” jawab Illeana. Tapi setelahnya nomor yang sama masih menghubungi Illena hingga kesabaran gadis itu menipis karena menganggu privasi mereka. “Aku akan menerima panggilan ini dulu, maaf,” ucap Illena merasa bersalah pada Boby. “Tidak apa-apa.” Pria itu menanggapi. Illeana harus menjauh dari meja untuk menerima panggilan telepon tersebut. Illeana keluar dari restoran itu dan dengan kesal menempelkan ponselnya ke telinga. “Apa?” Tanpa basa-basi Illeana segera menodong si penelepon. “Di mana kau?” “Apa pedulimu? Di mana aku, itu bukan urusanmu.” “Itu menjadi urusanku karena kau adalah bawahanku jadi aku berhak membuat aturan untukmu. Cepat kembali!” “Aku tidak mau. Ini masih jam makan siang. Waktuku masih satu jam untuk kembali. Kenapa kau perhitungan sekali denganku?” “Aku tidak peduli. Aku ada urusan denganmu jadi cepat kembali.” “Aku bilang tidak, ya tidak. Kenapa kau menuntutku?” “Aku tidak akan memberimu alasan. Cepat! Atau, haruskan aku datang menjemputmu, dan membawamu dari hadapannya?” Kali ini Illeana terdiam mendengar apa yang dikatakan pria itu dari sambungan telepon. Illeana membuang napas kasar, kesal sekali karena William mengusiknya. “Ada rapat yang harua kau hadiri sekarang. Waktumu hanya dua puluh menit.” “Rapat apa? Aku tidak punya jadwal untuk rapat hari ini.” “Kau punya. Baru saja ku memberitahumu.” “Hei! Apa hakmu mengaturku?” “Aku atasanmu. Cepat kembali. Aku akan memberimu waktu dua lima belas menit untuk bersiap dan aku akan menjemputmu.” “Aku – halo? Halo?“ Sambungan terputus begitu saja sebelum Illeana protes lebih keras lagi. Dia menghela napas dan membuangnya kasar. “Kau hanya ingin menyiksaku sialan!” umpat Illeana. Kembali memasuki restoran dan duduk di kursinya. Pesanan Illeana sudah terhidang di atas meja. Boby menyambut dengan tersenyum. “Makanlah selagi hangat,” kata pria itu. Illeana tak mempedulikan ancaman William dan memilih untuk menyantap makan siangnya. Menghadapi atasannya itu butuh tenaga jadi selagi sempat Illeana bertekad untuk menghabiskan makanannya. Boby tersenyum melihat Illeana yang makan dengan lahap. “Kau seperti biasa bila sudah dihadapkan pada makanan,” komentar Boby. Mendengar itu gerakan tangan Illeana terhenti dan menatap Boby. “Apakah aneh?” “Tidak. Aku senang kau makan dengan lahap.” Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Benar. Aku harus makan untuk bertahan,” kata Illeana pelan. “Apa?” “Oh, bukan apa-apa. Ayo makan, punyamu bisa aku ambil nanti bila tidak kau makan.” Boby tertawa. “Tidak masalah, aku senang kalau begitu.” “Astaga.” Illeana berdecak lalu kembali melanjutkan makan. Tidak butuh waktu lama, Illeana sudah menandaskan makan siangnya dengan bernafsu. Gadis itu menyisakan air sedikit di gelas lalu melap bibirnya. “Aku sudah kenyang,” desah Illeana. Sekali lagi Boby menunjukan senyumannya. Baru saja Illeana selesai makan, ponselnya sudah kembali bordering. Dalam hati gadis itu mengumpat, merutuki si penelepon. “Aku harus pergi sekarang, Boby,” ucap Illeana. Boby menatapnya. “Atasanku yang cerewet dan menyebalkan memintaku untuk ikut rapat. Dia bahkan tidak bisa bersabar menunggu beberapa menit,” keluh Illeana. “Begitu. Apakah kau ingin mengantarmu?” “Aku –“ “Kau memang di sini!” Suara itu menginterupsi sebelum Illeana menjawab. William berjalan dengan gagah menuju meja di mana Illeana berada. Boby juga memperhatikan kedatangan William yang berwibawa itu. Pengunjung yang melihat kedatangan William itu bahkan terpesona, beberapa menjerit, berbeda dengan Illeana yang mengutuk dalam hati. “Aku sudah memperingatkanmu. Kenapa kau lama sekali?” kata William tak sabar. “Apa? Itu masih tersisa beberapa menit lagi. Kenapa Anda datang lebih cepat seolah Anda sudah ada di sekitar sini?” kata Illeana curiga. William memasang ekspresi datar sehingga tak menunjukan reaksi apapun pada Illeana yang menebak demikian. “Aku ada urusan dengannya, jadi aku akan membawanya pergi,” kata William pada Boby yang sudah bangun dari duduknya. “Itu –“ Boby melirik Illeana yang seperti tak nyaman. “Aku adalah atasannya, jadi aku punya hak untuknya. Ayo pergi Illeana,” tegas William. Boby menganggukkan kepala ketika Illeana menatapnya dengan menyesal tapi William keras kepala, dan dilihat dari sikapnya pria itu sepertinya sedang kesal. Illeana tentu tidak tahu apa yang membuat pria itu bersikap demikian. “Tidak apa-apa. Aku akan menghubungimu lagi nanti,” kata Boby pada kekasihnya itu. “Aku sungguh minta maaf,” ucap gadis itu. Sekali lagi Boby hanya mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya. Illeana keluar dari restoran sambil tetap melirik ke belakang merasa tidak enak terhadap kekasihnya yang sudah meluangkan waktu sibuk hanya untuknya. Sementara itu, William menunggu di mobil dengan ekspresi datar tapi d**a pria itu naik turun seperti menahan marah. Ada apa dengan William?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD