4. Wanita Cantik Bernama Maria

1091 Words
Ketika pagi akhirnya menyapa, Illeana terbangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa begitu berat. Begitu kesadarannya diraih sepenuhnya, Illeana melihat troli yang berisi makanan di luar kamar, serta sebuah harpers ukuran sedang. Gadis itu mendekat, memperhatikan beberapa saat. Harpers itu berisi baju ganti untuk Illeana. Tidak ada note di sana jadi tidak tahu siapa yang memenannya. “Siapa yang peduli? Ini layanan kamar. Aku harus segera ke kantor,” gumam Illeana berusaha untuk tidak memikirkan apapun. Setelah selesai, Illeana bersiap untuk pergi ke kantor, tentu saja dengan baju baru yang didapatkannya tadi. “Pagi,” sapa gadis itu pada rekan kerjanya begitu tiba di depan kantornya. Mereka balas menyapa seperti biasa dan mereka mengobrol beberapa saat hingga kedatangan William membuat mereka segera kembali ke meja masing-masing. Pria itu berhenti sesaat dalam perjalannya dan melirik Illeana kemudian melanjutkan langkah masuk ke rungannya. Illeana juga masuk ke ruangannya, duduk di kursi dan bersiap untuk bekerja. Pada awal bekerja di sana Illeana tak begitu sibuk karena tidak terlibat dalam proyek apapun tapi meski begitu ada beberapa hal yang harus dikerjakan Illeana, dan mempelajari beberapa file yang dikirimkan oleh karyawan lain. Beruntungnya Illeana sudah punya pengalam kerja jadi tidak harus menunggu tanpa mengerjakan apa-apa. Waktu makan siang tiba, tapi sebuah suara riang datang menyapa. Illeana mengangkat pandangan, mengintip keluar kaca besar ruangannya itu untuk melihat siapa yang datang. “Aku datang untuk mengantarkan makan siang. Kalian belum makan bukan?” Suara itu begitu lembut dan ramah. Seorang wanita dengan dress abu selutut dan rambut hitam tergerai hingga punggung. Illeana yang masih duduk di kursinya saja terpesona melihat kecantikan bak dewi itu dengan senyum lebarnya yang indah. Wanita itu sedang membagikan makan siang pada yang lain. “Kak Illeana ayo makan siang. Ada Kak Maria,” ujar salah seorang gadis yang usianya di bawah umur Illeana. “Ya, aku akan keluar sebentar lagi. Terima kasih Natalia,” ucap Illeana. Gadis itu mengangguk. Rekan baru Illeana sudah memperkenalkan diri dan usia kemarin serta posisi mereka di tim itu. Natalia mengangguk lantas keluar lagi dari ruangan Illeana. Bukannya penasaran, Illeana seperti enggan untuk keluar meski begitu dia memutuskan untuk keluar dan menghampiri wanita bernama Maria itu. Maria menyapa Illeana dengan ramah. Dilihat secara langsung Maria lebih cantik dan manis. “Aku diberitahu kalau ada karyawan baru di sini jadi aku membeli lebih. Ini untukmu, Illeana,” kata Maria seraya memberikan kotak makan siang pada Illeana yang sedikit terkejut. Begitu Illeana menerima kotak makan siang tersebut dan mengucap terima kasih, perhatian Maria teralihkan ketika William baru saja datang. Illeana sekilas melirik kedatangan pria itu. Maria menghampiri William dengan senyumannya lalu bersikap manja dan menyerahkan makan siang yang dikemas khusus itu. Tapi respon William biasa saja, bahkan terkesan dingin. Meski begitu Maria seperti sudah biasa menghadapi William dan terus bicara. “Siapa?” tanya Illeana pada Natalia yang berdiri di dekatnya. “Kekasihnya Direktur Will,” jawab Natalia dengan berbisik. Illeana mengangguk tak peduli dan memilih untuk masuk ke ruangannya. Tapi belum sempat duduk ponsel gadis itu berbunyi, ada telepon masuk. “Kau di sini? Oke, aku akan turun sekarang.” Illeana menutup sambungan setelah mengatakan itu dan menyambar dompet miliknya di atas meja lalu keluar lagi dari sana. “Kau akan pergi?” Suara William menginterupsi Illeana. “Ya,” jawab Illeana singkat. “Ke mana?” Seolah tak puas, William kembali bertanya. Mendapat pertanyaan yang seperti itu membuat Illeana melirik William dingin. “Apa aku harus melapor?” “Ya. Kau harus.” William menegaskan. Illeana mendengkus tak percaya. “Aku rasa, itu bukan urusanmu, Direktur. Jadi aku permisi dulu,” ucap Illeana tak peduli. Namun, sepertinya apa yang Illeana katakan itu justru membuat William kesal dan meraih tangan gadis itu dengan mudah dan menghentikan langkahnya. Sementara Illeana dan William kembali berseteru, Maria serta yang lain diam menonton. Maria yang sedikit terkejut melihat perubahan sikap William yang tiba-tiba saja marah pada Illeana. “Kau hendak ke mana?” Nada suara William kali ini lebih tegas dari sebelumnya. Illena tentu tak terima. “Apakah aku harus mengatakannya padamu, Direktur?” “Ya!” “Kalau begitu, haruskan aku melapor bila ingin ke toilet dan sedang dalam kondisi darurat sakit perut? Haruskan aku melapor padaku dan berapa lama aku akan berada di sana?” kata Illeana sinis. Mendengar apa yang Illeana katakan William melepaskan tangannya. “Anda tak punya hak untuk membuat aturan masalah pribadi setiap orang. Tolong ingat posisi Anda, Direktur,” kata Illeana menekankan seraya melirik Maria yang terdiam di belakang William. Seolah diingatkan, William melirik ke belakang di mana Maria mematung menatapnya tak percaya. Itu menyakitkan bagi Illenaca secara tiba-tiba dan gadis itu memilih untuk pergi dari sana dan menemui seseorang yang menunggunya di bawah. “Aku datang untuk mengatarkan makan siang. Ayo makan selagi hangat,” ujar Maria dengan sikap seperti biasa seolah tak pernah melihat apa yang terjadi antara William dan Illeana. “Tidak perlu. Aku sudah makan siang setelah rapat tadi,” timpal William datar dan melengos begitu saja meninggalkan Maria. Mereka berpura-pura sibuk padahal menonton apa yang baru saja terjadi. Maria terdiam, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedih. Tapi itu hanya beberapa saat saja lalu kembali mengukir senyum ramah di wajahnya. “Aku pergi dulu. Selamat bekerja kalian,” kata Maria ceria. “Ya, terima kasih makan siangnya Kak Maria,” ujar karyawan pria. Maria hanya mengangguk lalu pergi dari sana. “Astaga. Kasihan sekali Kak Maria,” ucap pria itu lagi. “Kau memang tak peka ya, Lex,” sindir rekan kerja yang lain. “Hhhaah. Itu menyedihkan sekali. Tapi jelas bukan bila Direktur telah –“ “Apa yang kalian tahu, hah? Kalian tidak tahu apa-apa soal Kak Maria dan Direktur Will. Kalian juga tahu kalau Kak Maria telah bekerja keras. Apakah kalian akan bisa menemukan seseorang sebaik Kak Maria?” kata Alex sedikit marah. Tidak ada yang bicara lagi setelah itu karena mereka tidak ingin berdebat tapi cukuplah tahu masalah di antara Maria dan William yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Entah Maria tak punya harga diri atau terlalu terobsesi terhadap William, yang mereka tahu hanyalah sikap dingin William tak sekalipun berubah. Perubahan itu justru ketika Illeana datang. Tanpa mempedulikan Maria, William mencari Illeana hingga ke lobi perusahaan dan bahkan keluar dari gedung hingga akhirnya William melihat gadis itu yang sedang bersama seorang pria, bahkan pria itu membukakan pintu mobil sambil tersenyum. Langkah William terhenti sepenuhnya, diam di tempat dengan tatapan tertuju ke depan melihat Illeana masuk ke mobil pria itu. Siapa pria itu? Kenapa William tampak begitu marah seolah tak terima Illeana dengan pria lain sementara itu William sendiri memiliki kekasih?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD