Daniel duduk dengan resah di ruang tamu, sudah tiga puluh menit lebih ia di sana. Meskipun penat dan belum juga membersihkan diri pasca pulang kerja, namun ia memilih menunggu di ruangan itu dan baru bisa tenang kalau sudah melihat anak dan istrinya pulang. “Diminum dulu tehnya, Tuan.” Ima membawakan segelas teh hangat dan dua toples cemilan tanpa disuruh. Gadis pelayan itu berinisiatif sendiri lantaran melihat tuannya yang baru pulang kerja dan enggan makan malam. Dalam pikiran Ima, saat ini tuannya pasti sengaja menahan lapar demi bisa makan bersama keluarga kecilnya. Daniel melirik Ima sekilas kemudian tersenyum, “Makasih Ima.” Ima senang mendengar ucapan itu, sangat jarang dilontarkan oleh tuannya yang satu itu. “Sama sama tuan, Ima permisi dulu.” Seru Ima kemudian dengan badan sete

