“Pak?” Lusi bertanya ulang karena belum juga mendapatkan jawaban, yang ada Daniel malah terlihat melamun. Mendengar namanya dipanggil membuat Danel terkesiap, kesadarannya baru terkumpul lagi setelah sempat berkelana dalam pikiran dan keraguan. Antara mau menerima atau mengabaikan kiriman tanpa nama itu. Namun rasa penasarannya mendesak untuk mencar tahu apa isi amplop itu. “Berikan padaku.” Jawab Daniel singkat. Lusi berjalan menghampiri meja direktur kemudian meletakkan pelan amplop itu di atas meja. Perhatiannya masih terpusat pada reaks Daniel, terlebih Lusi pun ikut penasaran dengan isi kiriman misterius itu. Tanpa Lusi sadari ia pun ikut berdiri antusias ingin ikut melihat bersama bosnya. Daniel meraih amplop itu, memperhatikannya bolak balik. Tidak ada yang mencurigakan kalau dil

