“There you are.” Mata pria itu berbinar, ketika Kinara membuka pintu apartemennya. “Hello. Apa kabar? Akhirnya kita bisa bertemu dengan layak.” “Kita pergi sekarang?” tanya Kinara. “Sebentar.” Dengan seringai jail, Dewa menutup pintu di belakangnya dengan kaki. Lantas dia berjalan mendekati Kinara dengan langkah-langkah yang mantap, memaksa Kinara berjalan mundur merapat ke sisi kanan lorong apartemennya. “Beri waktu sedikit, aku mau mengagumi pacarku.” Kinara tergelak. “Jijik tahu, nggak?” Namun, Dewa nggak membalas. Masih dengan senyum di wajah, pria itu terus menatapnya. Jarak di antara mereka tidak lebih dari satu telapak kaki. Kinara tidak bisa mundur lagi, karena punggungnya sudah beradu dengan rak tinggi yang ada di lorong apartemennya. Dewa menatapnya lekat, tetapi pria itu tid

