Bab 6

1128 Words
Begitu pintu lift pribadi itu tertutup, senyum palsu Dina luntur seketika. Rasanya seperti topeng semen yang baru saja dipalu sampai hancur. Dia langsung melepas sepatu hak tingginya dan berdiri bertelanjang kaki di atas lantai lift yang dingin. "Gila! Itu cewek atau jelmaan ular kobra sih?" sembur Dina, tidak tahan lagi untuk tidak mengeluh sambat. "Matanya itu loh, Pak. Kayak pengen ngebakar saya hidup-hidup. Untung gaun ini nggak beneran meledak pas dia natap saya tadi." Aksa diam saja. Dia berdiri membelakangi Dina, menatap angka lantai yang bergerak naik. Bahunya tegang, dan tangannya masih terkepal di samping tubuh. "Pak? Suami? Halo?" Dina melambai-lambaikan tangannya di depan bahu Aksa. "Bapak denger saya nggak sih? Mantan Bapak itu ngeri banget, sumpah. Saya ngerasa kayak baru aja diajak gelud tanpa persiapan." Aksa berbalik mendadak. Gerakannya begitu cepat sampai Dina mundur selangkah, hampir menabrak dinding lift. Wajah Aksa sekarang bukan lagi wajah "manusia robot" yang datar. Ada kemarahan yang tertahan di sana, matanya tajam dan gelap. "Saya sudah bilang, jangan pernah bicara kalau tidak perlu. Terutama di depan Clara," kata Aksa, suaranya rendah dan mengancam. Dina melotot. "Lah? Kok jadi saya yang disalahin? Dia yang nyerang duluan, saya cuma membela diri! Bapak mau saya diem aja pas dia bilang saya mirip lemper?" Aksa melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka sampai Dina bisa mencium aroma parfum mahal yang kini terasa mengintimidasi. "Dina, dengar baik-baik," Aksa mencondongkan tubuh, suaranya kini nyaris berupa bisikan yang membuat seluruh rambut di tubuh merinding. "Clara bukan orang yang suka main-main. Dia bukan tipe orang yang cuma nyinyir di media sosial. Dia berbahaya. Kalau dia sudah mulai mengincar sesuatu, dia tidak akan berhenti sampai sesuatu itu hancur." Dina menelan ludah. Keberaniannya sedikit ciut melihat keseriusan di mata Aksa. 'b******k. Kenapa batin ku mendadak ciut gini?' Tatapan Dina menurun ke d**a bidang Aksa. Dia tahu Aksa serius, tapi melihat sang CEO seperti itu membuat Dina sadar kalau dunia yang gadis itu masuki tidak hanya soal uang. Ada sesuatu yang lebih gelap di balik jas mahalnya. Dina merasa seperti sedang berdiri di pinggir jurang, dan Aksa adalah satu-satunya pegangannya, meskipun pegangan itu sedingin es. "Maksud Bapak ... dia bakal apa? Mukul saya?" tanya Dina, mencoba tetap terlihat berani meskipun suaranya sedikit bergetar. Aksa menatap Dina lama, tatapannya seolah sedang menakar seberapa kuat Dina bisa bertahan. "Dia bisa melakukan lebih dari itu. Jadi, mulai sekarang, jangan pernah pergi ke mana pun tanpa pengawalan Aris atau saya. Dan satu lagi ...." Aksa mengulurkan tangan, merapikan sehelai rambut Dina yang berantakan dengan gerakan yang pelan dan lembut meski masih kaku. "Jangan pernah memancing emosinya lagi. Saya tidak mau membayar lima miliar hanya untuk melihat Anda berakhir di rumah sakit sebelum kontrak ini selesai," lanjutnya dingin, lalu menarik tangannya kembali tepat saat pintu lift berdenting terbuka. Dina mematung di dalam lift selama beberapa detik sementara Aksa melangkah keluar dengan angkuh. "Dasar kulkas dua pintu!" teriak Dina setelah sadar dari bengongnya. "Bilang aja Bapak khawatir sama saya, pake bawa-bawa kontrak segala!" Aksa tidak menoleh, tapi langkah kakinya sempat terhenti sebentar sebelum lanjut masuk ke dalam penthouse. Malam itu, Dina tidak bisa tidur. Dia terus guling-guling di atas kasur lipatnya sambil menatap punggung Aksa yang tidur membelakanginya di ranjang besar. Pikiran Dina berkecamuk berisik, dia kira menjadi istri CEO itu sesederhana soal belanja dan gaya-gayaan. Ternyata dia malah dapat paket lengkap bersama ancaman nyawa. Clara ... wanita itu benar-benar menjadi mimpi buruk untuk Dina sekarang. 'Kenapa jantungku malah deg-degan pas Pak Aksa benerin rambutku tadi?' Dina menggelengkan kepalanya. 'Aneh banget! Pasti ini gara-gara efek kurang oksigen karena kelamaan pakai gaun ketat tadi. Iya, pasti itu,' ucapnya dalam pikiran batinnya. ​"Bisa berhenti gerak, nggak? Anda berisik sekali." ​Suara berat dan serak khas bangun tidur itu membuat Dina terlonjak kaget sampai hampir terguling keluar dari kasur lipatnya. Dia tidak menyangka Aksa masih terjaga. ​"Loh? Bapak belum tidur?" tanya Dina, suaranya sedikit cempreng di tengah kesunyian kamar. ​Aksa membalikkan tubuhnya perlahan, lalu menyandarkan punggung pada headboard ranjang. Dalam temaram lampu tidur, wajahnya terlihat lebih lembut, tanpa kacamata bingkai kotak yang biasanya membuatnya tampak seperti predator bisnis. ​"Bagaimana saya bisa tidur kalau ada orang di bawah saya yang bergerak seperti cacing kepanasan?" Aksa menatapnya datar. ​"Ya habisnya kasur ini tipis banget, Pak! Badan saya pegal semua. Belum lagi otak saya isinya muka mantan Bapak yang serem itu terus," bela Dina sambil duduk bersila di atas kasurnya. ​Aksa terdiam sejenak. Ia melihat Dina yang tampak kecil di bawah sana, dengan rambut berantakan dan wajah yang terlihat lelah sekaligus cemas. ​"Naiklah." ​Dina melongo. "Hah? Apa, Pak?" ​"Saya bilang naik ke ranjang," ulang Aksa, suaranya terdengar tidak sabar. "Ranjang ini cukup besar untuk tiga orang. Tidurlah di sisi kiri. Saya tidak mau besok pagi melihat wajah Anda pucat saat bertemu kolega saya hanya karena kurang tidur." ​"Tapi. .. tapi klausul kebersihan pribadi Bapak gimana? Katanya nggak boleh ada kontak?" Dina mencoba mengingatkan, meski sebenarnya punggungnya sudah menjerit ingin merasakan empuknya kasur seharga puluhan juta itu. ​"Ini perintah, bukan tawaran, Nona Dina," potong Aksa dingin. "Atau Anda lebih suka saya seret ke atas?" ​Dina langsung berdiri secepat kilat. "Eh, jangan dong! Orang mau naik sendiri kok." ​Dengan gerakan canggung, Dina merangkak naik ke atas ranjang mewah itu. Begitu tubuhnya menyentuh seprai sutra, Dina hampir saja mendesah lega. 'Ya Tuhan! Gila, empuk banget! Rasanya seperti tidur di atas awan yang wangi parfume mahal Aksa.' ​Dina segera membungkus dirinya dengan selimut, membuat jarak sejauh mungkin dari Aksa sampai dia berada di pinggiran kasur. ​"Jangan jauh-jauh. Anda bisa jatuh kalau bergerak sedikit saja," gumam Aksa sambil kembali berbaring membelakangi Dina. ​"I-iya, Pak. Eh, Suami," sahut Dina gugup. ​Keheningan kembali melanda, tapi kali ini suasananya berbeda. Ada ketegangan yang lebih intens, tapi entah kenapa, Dina merasa lebih aman. Aroma kayu cendana dari tubuh Aksa entah bagaimana perlahan membius rasa takutnya pada Clara. ​"Pak ...," panggil Dina lirih. ​"Hm?" ​"Kalau nanti Clara beneran ngelakuin sesuatu yang jahat ... Bapak bakal tetep bayar lima miliarnya ke Ibu saya, kan?" ​Aksa terdiam cukup lama. Dina mengira laki-laki itu sudah tidur, sampai terdengar jawaban pelan yang hampir tak terdengar. ​"Jangan memikirkan hal yang belum terjadi. Tidurlah." ​Dina menghela napas, menutup matanya. Dia tidak tahu kalau di kegelapan, Aksa sedang mengepalkan tangannya di balik selimut. ​Dina tidak tahu, bahwa bagi Aksa, uang lima miliar itu sekarang terasa sangat murah dibanding harga untuk memastikan wanita berisik di sampingnya ini tetap bisa mengomel setiap pagi. Ada sesuatu yang berdenyut aneh di dadanya—sebuah rasa protektif yang sudah lama ia kubur dalam-dalam di balik tembok esnya. ​"Satu tahun, Dina," bisik Aksa dalam hati. "Hanya satu tahun, dan setelah itu aku harus memastikan kamu pergi dari hidupku sebelum aku benar-benar kehilangan kendali."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD