Pagi hari yang cerah, Dina terbangun dengan perasaan paling aneh sepanjang hidupnya. Bukan karena dia berada di kamar seharga rumah subsidi, tetapi karena dia mendapati kakinya menindih sesuatu yang keras dan hangat.
Dina membuka mata perlahan, dan jantungnya hampir copot melompat keluar. Kakinya yang masih terbalut kaus kaki gambar ayam warna-warni, berada tepat di atas paha Aksa. Rupanya, di tengah mimpi makan tempe mendoan semalam, Dina telah melakukan invasi wilayah secara brutal.
Dina melotot. Dia langsung menarik kakinya secepat kilat sebelum Aksa sadar kalau aset mahalnya baru saja dijadikan guling oleh rakyat jelata. Tapi terlambat. Aksa sudah bangun. Pria itu sedang bersandar pada bantal, membaca laporan di tabletnya dengan ekspresi datar, seolah-olah kaki Dina yang "nangkring" di sana hanyalah sebuah bantal guling yang tidak sengaja lewat menindihnya.
"Sudah puas menendang saya sepanjang malam, Nona Dina?" tanya Aksa tanpa mengalihkan pandangan dari layar, tetapi alisnya terlihat terangkat satu.
Dina meneguk ludahnya yang terasa kering. "Eh ... maaf, Pak! Eh, Suami! Saya nggak sengaja. Itu ... refleks pertahanan diri kalau lagi mimpi dikejar debt collector."
Aksa meletakkan tabletnya, lalu menoleh. Matanya terlihat lelah. "Lain kali, tidur dalam posisi tegak lurus jika Anda tidak bisa mengontrol tungkai Anda. Sekarang mandi, Aris akan mengantar Anda ke butik untuk fitting gaun acara ulang tahun perusahaan."
"Fitting lagi? Bapak mau bikin saya jadi mumi pakai kain mahal?" keluh Dina sambil turun dari ranjang dengan gaya canggung.
Aksa terus menatap Dina. Matanya terlihat agak merah, karena kurang tidur gara-gara serangan kaki ayam semalam. "Kalau Anda mengulanginya, saya ikat kaki Anda ke pinggiran kasur."
***
Satu jam kemudian, Aksa sudah berangkat ke kantor, meninggalkan Dina sendirian di penthouse sebelum Aris menjemput. Rasa sepi di ruangan itu mendadak terasa menyesakkan. Dina berjalan ke dapur, menatap barisan peralatan masak yang lebih mirip pajangan museum daripada alat dapur.
Dina tidak tahan. Dia butuh asupan micin. Sesuatu yang berbau "rumah" untuk mengobati rasa rindunya.
Dina merogoh tasnya, mengeluarkan "harta karun" yang sempat ia selundupkan kemarin: sebungkus mi instan rasa kari ayam. Dengan gerakan lihai seperti agen rahasia, Dina merebus air dan menyeduh mi itu. Begitu aroma bumbunya memenuhi ruangan, Dina memejamkan mata.
'Waaa ... mantap kali.' Dina menghirup udara gurih itu dalam-dalam, memastikan memenuhi paru-parunya sampai penuh.
Itu adalah bau yang menyelamatkan Dina dari hari-hari melelahkan di rumah lama. Bagi Dina, ini adalah wangi kebebasan. Tapi di tempat ini, wangi ini adalah dosa.
Dina merasa seperti pencuri di rumah sendiri, mencoba mencuri sedikit rasa nyaman di tengah kemewahan yang tidak punya jiwa. Setiap hirupan napas ini adalah pengingat bahwa Dina hanyalah penumpang gelap dalam hidup Aksa yang sempurna.
Baru saja Dina menyeruput kuahnya satu sendok, bel pintu lift penthouse berbunyi. Dina tersedak.
'Mampus, apa Aksa balik lagi?' batinnya sambil terbatuk-batuk, rasa kari yang meluncur di tenggorokkannya menyisakan sensasi pedas dan sedikit perih.
Dina segera menyembunyikan mangkuknya ke dalam oven yang tentu saja tidak menyala dan berlari ke depan pintu dapur, berdiri kaku seperti tentara.
Selang beberapa detik, pintu terbuka. Kaki Aksa melangkah masuk. Jasnya disampirkan di lengan, dan kemejanya sedikit berantakan. Namun, langkahnya langsung terhenti saat tubuhnya sampai di depan sofa. Hidungnya mengkerut, dan ekspresinya berubah seolah-olah dia baru saja memasuki area pembuangan limbah.
"Dina?" Aksa menutup hidungnya dengan punggung tangan. "Apa yang Anda lakukan? Kenapa baunya ... sangat tajam?"
"Hah? Bau apa, Pak? Saya nggak nyium apa-apa tuh," bohong Dina dengan wajah polos yang dipaksakan.
Aksa melangkah mendekat, auranya yang dominan seketika mengintimidasi udara di sekitar Dina. "Jangan berbohong. Baunya menyerang seluruh sensor indra penciuman saya. Ini bau bumbu dan minyak murahan. Kamu masak apa sih?"
Aksa melewati Dina dan langsung menuju ke arah kompor. Matanya tertuju pada oven. Dia menggeser lengan Dina dengan jari telunjuknya. Dengan satu gerakan elegan namun penuh amarah, dia membuka pintu oven itu.
Asap kari yang terperangkap langsung menyeruak keluar, mengepul memenuhi wajah Aksa. Pria itu langsung mundur dua langkah, wajahnya memucat dramatis. Dia menatap mangkuk mi instan itu seolah-olah itu adalah barang bukti kejahatan tingkat tinggi.
"Anda ... memasak ini di dapur saya?" suara Aksa rendah dan gemetar. Dina yakin, Manusia Patung ini sedang kaget, terlihat dari kedua matanya yang melotot marah.
"Ya habisnya saya laper, Pak! Dan makanan di kulkas Bapak cuma ada sayuran mentah yang rasanya kayak rumput tetangga!" Dina membela diri, meski hatinya menciut.
Aksa menoleh ke arah Dina. Matanya yang biasanya dingin kini tampak berkilat karena rasa muak yang bercampur dengan pening. "Buang ini sekarang. Saya tidak bisa membiarkan bau ini menetap di sofa atau karpet kasmir saya. Baunya sangat menyedihkan."
"Menyedihkan Bapak bilang?!" Dina melotot. "Ini makanan orang susah, Pak! Dan orang susah itu yang sekarang lagi Bapak kontrak jadi istri Bapak!"
"Justru karena itu," potong Aksa tajam. "Saya membayar lima miliar agar Anda meninggalkan kebiasaan 'orang susah' Anda, Dina. Bukan untuk membawa aroma kemiskinan ini ke dalam tempat tinggal saya."
Kata-kata itu menghantam Dina lebih keras dari tamparan mana pun. Telinganya panas, dan matanya mendadak terasa pedih.
"Begitu ya? Jadi ini bukan soal bau, tapi soal derajat?" suara Dina merendah, getarannya hilang berganti dengan nada yang getir.
Dina menyambar mangkuk panas itu dengan tangan telanjang, mengabaikan rasa perih di ujung jarinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia membawa mangkuk itu keluar dari dapur, menuju area belakang yang sempit, ia menuju ruang jemuran dan mesin cuci.
Di sana, di antara deru mesin cuci yang sunyi dan gantungan baju kosong, Dina duduk jongkok di lantai semen yang kasar. Dia menyeruput minya dengan rakus, meski air matanya nyaris jatuh ke dalam kuah kari itu.
'Aku adalah noda. Sekeras apa pun Aksa mencoba membersihkanku, aku akan selalu menjadi noda di atas kemeja putihnya yang sempurna. Lima miliar ini bukan bayaran untuk kehadiranku, tapi bayaran untuk penghapusanku. Dia ingin aku ada, tapi dia tidak ingin 'aku' yang sebenarnya ada di sini.'
Di ruangan sempit itu, Dina baru menyadari bahwa penjara paling mengerikan bukan yang memiliki jeruji besi, tetapi yang memiliki lantai marmer dan aroma lilin mahal yang mencoba membunuh jati dirinya.
Sedangnkan di ruang tengah, Aksa berdiri mematung di dekat jendela yang ia buka lebar-lebar. Angin kencang bertiup masuk, mencoba menyapu aroma kari yang kini ia sadari ... juga membawa aroma Dina.
Aksa melihat ke arah lorong menuju area belakang. Tangannya yang terkepal perlahan melonggar. Ada denyut penyesalan yang asing di dadanya. Dia tidak bermaksud menghina "derajat" wanita itu, tapi dia tidak tahu bagaimana cara bicara dengan benar tanpa menggunakan tembok kekuasaannya.
"Dina ...," bisiknya lirih, suaranya hilang ditelan angin.
Aksa menyadari bahwa meski dia telah menutup semua akses dan mengunci pintu, dia tidak pernah benar-benar bisa mengunci aroma kehidupan yang dibawa Dina ke dalam kehidupannya yang mati. Dan itu, entah kenapa, membuatnya merasa lebih takut daripada saat menghadapi Clara semalam.