Sisa hari itu dilewati Dina dengan keheningan yang menyesakkan. Setelah insiden "aroma kemiskinan" di dapur, Dina memilih untuk mengurung diri di kamar, menatap jendela besar yang menampilkan gemerlap Jakarta yang terasa sangat asing. Perih di ujung jarinya akibat memegang mangkuk panas tadi tidak sebanding dengan perih di hatinya yang terus-menerus mengulang kalimat tajam Aksa.
Malam telah larut ketika pintu lift pribadi kembali berdenting. Dina yang sedang duduk di sofa ruang tengah, berusaha terlihat sibuk dengan ponselnya agar tidak dianggap pengangguran, ia melihat Aksa masuk. Pria itu tidak lagi memakai jasnya. Dasinya sudah dilepas, dan kemeja putihnya yang biasanya licin tanpa cela kini tampak kusut di bagian lengan.
Aksa tidak menyapanya. Dia bahkan tidak melirik ke arah dapur. Langkahnya berat, menyeret aroma kelelahan yang begitu pekat. Pria itu langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan membanting pintu kayu jati itu dengan suara yang cukup keras untuk membuat Dina terlonjak.
Dina terdiam.
'Gila ya, udah ngehina orang, sekarang pulang-pulang malah pasang muka kayak mau ngajak perang dunia ketiga,' batin Dina dongkol.
Namun, satu jam berlalu, dan tidak ada suara apa pun dari dalam ruangan itu. Biasanya, suara dentingan jemari di atas papan ketik atau gumaman Aksa saat menelepon koleganya akan terdengar sayup-sayup. Tapi kali ini, sunyi. Kesunyian yang lebih mengerikan daripada omelan Bu Rosa atau hinaan Aksa tadi siang.
Dina berdiri. Rasa ingin tahunya selalu lebih besar daripada rasa sakit hatinya. Dengan langkah pelan, ia mendekati pintu ruang kerja itu. Ia ragu, tangannya menggantung di depan knop pintu selama beberapa detik.
"Pak Aksa? Suami?" panggil Dina lirih. "Bapak belum makan malam loh. Mau saya pesenin ... anu, makanan orang kaya?"
Tidak ada jawaban.
"Pak Aksa ketiduran di dalam, ya?"
Dina memberanikan diri memutar knop pintu. Ternyata tidak dikunci. Ia mendorong pintu itu sedikit, menciptakan celah kecil untuk mengintip ke dalam. Cahaya di ruangan itu sangat redup, hanya berasal dari lampu meja yang cahayanya tidak sampai ke sudut ruangan.
Dina terpaku. Aksa tidak sedang berada di meja kerjanya. Pria itu sedang duduk di lantai marmer, bersandar pada rak buku tinggi yang berisi tumpukan dokumen legal dan sejarah ekonomi. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Bahunya naik turun, napasnya terdengar pendek dan terputus-putus.
Dina masuk dengan langkah tanpa suara. Semakin ia mendekat, semakin jelas ia mendengar suara itu, seperti seseorang yang sedang berusaha agar paru-parunya tidak meledak, diiringi suara erangan yang lirih. 'Apa dia menangis?' batin Dina menerka.
"Pak Aksa? Bapak ... nggak apa-apa?" Dina berlutut di sampingnya, suaranya bergetar cemas. Sebuah pemandangan yang berbeda dan cukup membuat Dina terkejut.
Aksa mendongak perlahan. Matanya merah dan berkilat ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Namun, saat bibirnya terbuka, kata-katanya tetap setajam biasanya.
"Keluar, Dina. Saya sedang tidak ingin melihat siapa pun," gumamnya parau.
"Bapak kenapa sih? Stres kerjaan ya? Apa saham perusahaan Bapak anjlok gara-gara aroma mi instan saya tadi siang?" tanya Dina, mencoba bercanda untuk menutupi rasa takutnya melihat Aksa yang hancur.
Aksa tidak menjawab. Ia justru memalingkan wajah, menyembunyikan kerapuhannya di balik bayang-bayang rak buku.
'Dina tidak akan pernah mengerti. Gadis ini mengira duniaku hanya soal angka dan grafik saham yang memerah. Dia tidak tahu bahwa aroma kari ayam yang ia puja itu adalah hantu yang menyeret paksa ingatanku kembali ke lorong panti asuhan yang dingin. Aroma itu adalah bau terakhir yang kucium sebelum pintu kayu itu ditutup rapat, memisahkanku dari satu-satunya kehidupan yang kukenal. Bagiku, bau itu bukan makanan; itu adalah bau penolakan, bau kemiskinan yang mencekik, dan bau kesepian yang tidak pernah bisa dihapus oleh parfum semahal apa pun.'
"Bapak kenapa? Serangan jantung?" tanya Dina lagi, masih mencoba mencairkan susasana dengan sarkasmenya.
Aksa memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan bocah kecil yang menangis di pojokan panti asuhan. Ia benci dirinya sendiri yang terlihat begitu lemah di depan wanita "noda" ini.
"Dina, saya bilang keluar," ulang Aksa, kali ini dengan nada yang lebih tegas, meski napasnya masih belum stabil.
"Nggak mau. Bapak kelihatan kayak mau mati," balas Dina keras kepala. Tanpa mempedulikan aturan, Dina mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Aksa pelan. "Udah lah, Pak. Duit bisa dicari lagi kalau emang rugi. Jangan nyiksa diri sendiri begini. Lagian duit Bapak juga masih banyak."
Aksa tertegun. Sentuhan di bahunya terasa begitu hangat dan nyata, sangat berbeda dengan ingatan panti asuhannya yang membeku. Ia menatap Dina yang tampak benar-benar cemas.
'Lihatlah dia. Dia mengira aku sedang menangisi harta, sementara aku sedang menangisi jiwaku yang cacat. Kenapa dia harus hadir dengan kehangatan yang jujur ini di saat aku sedang mencoba untuk tetap menjadi batu?' Aksa ingin mengusir Dina, tetapi jemari gadis polos yang berada di bahunya terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahan Aksa agar tidak hanyut dalam kegelapan masa lalu. Pria itu benci betapa ia membutuhkan kehadiran wanita yang baru saja dia hina derajatnya siang tadi.
"Saya tidak rugi secara finansial, Dina," ucap Aksa akhirnya, suaranya kembali kaku meskipun matanya masih terlihat letih. "Hanya ... ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai rencana."
Dina menghela napas panjang, mengira dugaannya benar soal pekerjaan. "Tuh kan! Makanya, Pak, hidup itu jangan dibawa serius-serius banget. Kadang kita harus kalah biar tahu rasanya berjuang. Ayo berdiri, lantai ini dingin, loh. Bapak bisa masuk angin, terus saya yang repot ngerokin."
Aksa menatap Dina lama. 'Kerokin?' Pria itu bahkan tidak tahu apa artinya, tapi nada bicara Dina yang ceplas-ceplos entah bagaimana membuat sesak di dadanya sedikit berkurang.
"Jangan menyentuh saya lagi," ucap Aksa sambil berdiri, mencoba mengembalikan martabatnya sebagai Manusia Marmer. Namun, saat dia melangkah menuju ranjang, dia sempat menoleh sebentar. "Terima kasih. Dan ... lupakan apa yang Anda lihat malam ini."
Dina mendengus sambil mengikuti Aksa keluar dari ruang kerja. "Iya, iya, Suami. Rahasia Bapak aman sama saya. Besok-besok kalau stres lagi, mending sambat ke saya daripada jambak rambut sendiri. Sayang rambutnya, Pak, mahal perawatan di salonnya pasti."
Aksa tidak menjawab, tapi dalam kegelapan menuju kamar, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Lantai ini memang tetap dingin, tapi kehadiran badai bernama Dina ini mulai membuat udara di sekitarnya terasa lebih hidup. Aksa tidak tahu apakah ia sanggup bertahan satu tahun bersamanya tanpa benar-benar meruntuhkan tembok yang susah payah ia bangun. Tapi untuk malam ini, Aksa akan membiarkannya mengira bahwa dirinya hanyalah pria gila kerja yang sedang stres, selama itu artinya dia tetap berada di dekat Aksa.