Bab 21

1476 Words

Malam itu, penthouse mewah milik Aksa terasa lebih luas dan lebih sepi dari biasanya. Cahaya lampu kota Jakarta yang masuk melalui dinding kaca raksasa tidak mampu mengusir rasa dingin yang merayap di tengkuk Dina. ​Dina duduk di sofa ruang tengah, masih dengan perban kecil di tangannya dan napas yang sesekali masih terasa berat. Matanya terus melirik ke arah pintu besar, seolah-olah bayangan orang asing yang jahat bisa mendobrak masuk kapan saja. ​"Pak ... kenapa kita nggak pulang ke rumah biasanya aja, sih? Di sini terlalu tinggi, saya pusing," bisik Dina, suaranya mencicit. ​Aksa, yang baru saja selesai bicara di telepon dengan Aris di sudut ruangan, menoleh. Ia melepas kacamata kotaknya, memijat pangkal hidungnya yang mancung. "Rumah itu sedang dibersihkan. Untuk sementara, di sini

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD