Matahari sudah cukup tinggi saat Dina membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan bukan lagi dinginnya AC 16 derajat, melainkan kehangatan yang luar biasa nyaman. Ia menyadari posisinya sekarang: kakinya entah sejak kapan sudah menindih kaki Aksa, dan wajahnya terkubur di d**a pria itu. Dina mematung. Pelan-pelan ia mendongak dan menemukan Aksa sudah terjaga, sedang menatapnya dengan tatapan datar—namun ada kilat yang berbeda di matanya. "Sudah puas menjadikan saya guling?" suara berat Aksa menggetarkan d**a yang sedang disandari Dina. Dina langsung melompat mundur sampai hampir jatuh dari ranjang. "E-eh! Itu... refleks, Suami! Kan saya tadi malam kedinginan, Bapak sendiri yang bilang jadikan Bapak pemanas!" Aksa hanya mendeham, bangkit dari ranjang dengan santai seolah tidak terjadi

