Bab 22

1105 Words

Matahari sudah cukup tinggi saat Dina membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan bukan lagi dinginnya AC 16 derajat, melainkan kehangatan yang luar biasa nyaman. Ia menyadari posisinya sekarang: kakinya entah sejak kapan sudah menindih kaki Aksa, dan wajahnya terkubur di d**a pria itu. Dina mematung. Pelan-pelan ia mendongak dan menemukan Aksa sudah terjaga, sedang menatapnya dengan tatapan datar—namun ada kilat yang berbeda di matanya. "Sudah puas menjadikan saya guling?" suara berat Aksa menggetarkan d**a yang sedang disandari Dina. Dina langsung melompat mundur sampai hampir jatuh dari ranjang. "E-eh! Itu... refleks, Suami! Kan saya tadi malam kedinginan, Bapak sendiri yang bilang jadikan Bapak pemanas!" Aksa hanya mendeham, bangkit dari ranjang dengan santai seolah tidak terjadi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD