Bab 23

1443 Words

Pagi hari, penthouse Aksa terasa seperti sangkar emas yang sepi seperti makam pahlawan. Matahari Jakarta menyelinap masuk melalui dinding kaca, menyinari deretan perabotan minimalis yang harganya mungkin bisa untuk membeli satu blok perumahan di kampung halaman Dina. ​Aksa berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemejanya yang sudah rapi. Di pantulan cermin, ia melihat Dina sedang duduk di tepi ranjang, menekuk lututnya sambil menatap kosong ke arah balkon. ​"Saya harus ke kantor, rapat pemegang saham. Aris akan berjaga di depan," ucap Aksa tanpa menoleh. Suaranya datar, namun ada nada perintah yang mutlak. "Jangan menyentuh makanan yang dikirim dari luar. Jangan membukakan pintu untuk siapa pun kecuali Aris atau perawat wanita yang saya kirim nanti siang. Dan yang paling penting,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD