Hari ini libur, dan Reina berniat untuk mengganti penampilannya. Reina berdiri di depan lemari pakaiannya sambil menghela napas pelan. Sebagian besar isi lemari itu penuh dengan pakaian kerja warna netral, abu, hitam, biru gelap, semuanya tampak formal, kaku, dan entah kenapa sekarang terasa membosankan.
"Mau beli baju baru," gumamnya sambil menutup pintu lemari.
Setelah mandi dan sarapan, ia memutuskan keluar. Ingin memanjakan diri, memakai uang gaji yang biasanya hanya akan habis untuk kebutuhan sang ibu dan adik-adiknya.
Mall tidak terlalu ramai siang itu. Reina berjalan pelan menyusuri lantai-lantai toko fashion, matanya melihat setiap etalase dengan teliti. Ia sempat ragu saat melihat deretan dress big size berwarna pastel dan model-model feminin yang biasanya ia hindari. Ia masuk ke salah satu toko pakaian big size .
Seorang penjaga toko menghampirinya dengan senyum ramah. "Siang, mau cari apa, Kak?"
Reina memandangi rak baju yang rapi. "Dress yang santai, tapi nggak terlalu terbuka. Aku mau manis gitu kak."
"Boleh kak, nanti kita pilihin baju yang sesuai sama bentuk badan dan warnanya senada sama warna kulit kakak juga. Mari," ajak sang penjaga toko.
Reina mengikuti langkah sang penjaga toko, lalu mulai mencoba satu per satu: dress selutut dengan potongan A-line, blouse lembut yang jatuh mengikuti bentuk tubuh, bahkan celana kain warna nude yang terasa nyaman. Di depan cermin, Reina melihat pantulan dirinya dengan dress warna dusty pink, bahannya ringan, lengan tiga perempat, dengan detail kecil di bagian kerah.
Ia tersenyum tipis. "Yang ini aku ambil," katanya akhirnya.
Setelah membayar beberapa setel baju, langkah Reina mengarah ke lantai dua, ke bagian kosmetik. Ia berdiri cukup lama di depan counter make up. Seorang beauty advisor menyapanya dengan ramah, lalu mulai menawarkan concealer, cushion, dan blush yang cocok untuk warna kulit Reina yang hangat.
"Pakai ini ya, Kak. Cocok banget buat look natural tapi fresh, bisa buat formal atau daily kak," ujar si mbak sambil mengoleskan warna peach muda ke punggung tangan Reina.
Reina tertawa kecil. "Aku baru mulai belajar dandan mbak, biasanya cuma bedak sama lip cream."
"Padahal mata kakak cantik banget kalau dirias agak menonjol ala Thailand make-up look," balas si mbak sambil bercanda.
Reina akhirnya membeli beberapa produk makeup seperti cusion, lipstik warna nude, pensil alis, dan maskara. Tak lupa juga dengan skincare sesuai dengan saran Tas belanja di tangannya mulai terasa berat, tapi hatinya merasa bahagia.
Saat keluar dari toko make up, langkahnya terhenti di depan salon besar. Jendela transparan memperlihatkan deretan kursi dengan cermin besar, dan perempuan-perempuan yang tengah dipotong rambutnya.
Reina membuka pintu.
"Selamat siang, Kak. Ada yang bisa dibantu?" sapa resepsionis ramah.
"Saya mau potong rambut dan cat rambut mbak, bisa hari ini?"
"Bisa banget. Pas banget kak ada slot kosong sekarang, pas banget kakaknya dateng."
Tak lama kemudian, Reina sudah duduk di kursi salon dengan jubah pelindung menutupi tubuhnya. Rambut panjangnya disisir pelan, disentuh oleh hairstylist yang tampak paham dengan bentuk wajah Reina.
"Mau potong model apa, Kak?"
"Yang cocok aja kak, jangan terlalu pendek."
"Warnanya mau apa?"
Reina berpikir sejenak. "Ash grey. Tapi nggak usah terang banget. Saya mau tetap kelihatan kalem."
"Okay, aku potong bob, supaya wajah kakak keliatan lebih tirus ya, warnanya juga aku rasa cocok sama skin tone kakak."
Prosesnya memakan waktu cukup lama, tapi Reina menikmati setiap menitnya. Tangannya sesekali saling meremasnya di pangkuann, matanya menatap bayangan dirinya yang sedang berubah menjadi lebih cantik.
Saat semuanya selesai, Reina hampir tak percaya. Rambut barunya jatuh rapi, membuat ia semakin proporsional, dengan warna abu keperakan yang halus. Potongan bob panjangnya membuat wajah semakin cantik, membuatnya terlihat lebih segar.
***
Pagi hari Kemabli dengan rutinitas, Reina datang sedikit mepet. Biasanya, ia sudah duduk di meja kerja sebelum matahari benar-benar naik. Tapi hari ini berbeda. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, ia bangun sedikit lebih siang, mandi tanpa terburu-buru, bahkan sempat berdiri lama di depan cermin sambil memandangi rambut barunya.
Dengan dress warna gading dan riasan wajah yang ia pelajari dengan singkat, Reina melangkah masuk ke ruang kerja dengan langkah lebih mantap dari biasanya. Tak ada yang berubah di sekitarnya. Tapi dirinya... sudah berubah cukup banyak. Pertama kali dalam hidupnya ia merasa cantik.
"Cantik amat mbak Reina," kata Adit satpam kantor.
"Bisa aja bang Adit," sahut Reina.
"Suwerr," seru Adit lagi sementara Reina melangkah masuk ke dalam kantor.
Reina langsung menuju ruangannya, melewati beberapa rekan yang menatapnya dengan tatapan terkejut. Rambut barunya mencolok, begitu juga dandanan yang lebih rapi dari biasanya. Reina memang bukan tipe yang suka berdandan, tapi hari ini ia memakai lipstik nude dan setelan blazer yang lebih chic dari biasanya. Tetap formal, tapi fresh.
"Mbak Reina!" panggil salah satu staf pantry, Sari. "Eh, rambut baru ya, Mbak?"
Reina tersenyum singkat, "Iya, iseng. Bagus nggak?"
"Bagus banget, cocok."
"Makasih," ucap Reina.
Biaasanya, Reina akan berjalan ke pantry sendiri dan menyeduh kopi. Tapi pagi ini, ia menghentikan langkah.
"Sar," panggilnya.
Sari yang hendak masuk ke pantry menoleh. "Iya, Mbak?"
"Bisa tolong beliin aku bubur ayam sama kopi gula aren? Yang dari warung depan kopinya di tempat biasa anak-anak beli."
"Oh! Bisa banget, Mbak."
Reina mengambil dompet dan memberikan selembar seratus ribuan. "Ambil aja kembaliannya."
Sari mengedip tak percaya. "Lho, banyak amat mbak?"
"Anggap aja fee karena aku lagi malas jalan," jawab Reina.
"Oke, kek makasih mbakk," seru sari senang lalu segera berjalan membeli pesanan.
Reina tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Ia terlalu mandiri. Terlalu kaku untuk sekadar menyuruh orang lain membelikannya sarapan. Tapi pagi ini, ia merasa ingin memanjakan dirinya. Kalau hidupnya tak bisa panjang, setidaknya ia ingin mulai memperlakukan diri sendiri lebih baik.
Baru saja ia duduk, ponselnya bergetar. Notifikasi email masuk.
[Meeting Request]
Pak Eko
Dan seolah waktu sengaja memanggil, suara khas Pak Eko memecah ketenangan pagi. "Reina, sebentar ke ruangan saya ya."
"Baik, Pak," jawabnya, lalu segera melangkah ke ruang atasan yang dikenal perfeksionis itu.
Saat masuk, Pak Eko mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya. Mata pria itu langsung menyapu Reina dari atas sampai bawah.
"Hmm," gumamnya. "Gaya kamu hari ini beda ya. Rambut baru?"
Reina tersenyum lalu mengangguk, "iya, Pak."
"Bagus. Lebih modern, enggak kuno lagi."
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Iya." Pak Eko menyandarkan punggung ke kursi, lalu menyilangkan tangan di d**a. "Besok ada perwakilan dari kantor pusat yang akan datang. Suruhan langsung dari komisaris. Dia analis bisnis, akan mau tau gimana proyeksi perusahaan dua tahun ke depan. Bos besar minta kamu yang dampingi dia."
Reina mengerutkan dahi. "Saya, Pak?"
"Ya. Kamu itu kan, paling ngerti laporan-laporan dan strategi kita. Dan kamu senior juga di sini. Kamu bisa handle, kan?"
Reina mengangguk cepat. "Bisa, Pak. Saya nanti siapin data dan projection analysis-nya."
"Bagus, oangnya kritis. Jadi jangan kaku kamu. Kadang orang-orang seperti itu lebih senang ngobrol santai. Kamu bisa, saya yakin."
"Baik, Pak. Saya usahakan yang terbaik."
Pak Eko mengangguk, lalu kembali tenggelam dalam dokumennya. Reina pamit keluar dan berjalan kembali ke ruang kerjanya.