sembilan

1008 Words
"Bu Reina makan siang?" tanya salah seorang karyawan bawahannya sopan. "Iya duluan kamu, saya mau keluar." Reina katakan sambil merapikan meja kerjanya. Setelahnya ia merapikan tas, kemudian berjalan keluar. Ingin makanan yang lebih enak dibandingkan makanan kantin yang biasa ia makan. Mulai hari ini tidak ada lagi irit-iritan, dia akan memanjakan diri menikmati masa-masa terakhir. "Pokoknya gue harus makan makanan enak selama gue masih bisa hidup." Biasanya, dia hanya makan di kantin belakang kantor. Murah, cepat, dan cukup mengenyangkan. Tapi hari ini, ia ingin sesuatu yang berbeda. Setelah beberapa bulan hidup hemat, mungkin tak ada salahnya memanjakan diri. Ia berjalan menuju restoran kecil di sudut jalan, tempat yang sering ia lewati tapi jarang ia singgahi. Interiornya bagus dan eapi, ada aroma pasta dan keju panggang menguar dari dapur terbuka. Reina memilih duduk di dekat jendela, tempat cahaya matahari jatuh pas di sisi meja, menyinari gelas air lemon yang dipesannya. Belum sempat memesan makanan, ponselnya berdering, sang mama. Reina diam sesaat. Tangannya berada di depan ponsel tapi dia ragu untuk menerima. Reina tidak sedang ingin bicara, tapi tahu jika tak diangkat, telepon itu akan kembali dan kembali. Dengan berat hati, ia menjawab. "Halo, Ma." "Reina, kamu lagi sibuk?" Sang Ibu bertanya dengan cepat, terdengar Kalau ia sedikit marah karena lama diterima panggilannya. "Lagi nunggu makanan. Ada apa, Ma?" Ada jeda sebentar. Lalu suara ibunya terdengar agak ragu. "Itu, si Aura butuh uang buat ongkos cari kerja. Katanya dia mau ke Surabaya minggu ini. Kamu bisa bantu kan?" Reina menahan napas. Seketika, suasana restoran yang tenang terasa riuh di telinganya. "Ma," katanya pelan. "Kan aku tiap bulan udah transfer ke Mama. Uang tabungan Mama harusnya cukup buat hal-hal kayak gitu." "Ya, tapi kan tabungan itu buat kebutuhan lain, Nak." "‘Kebutuhan lain’ itu apa? Buat siapa?" Nada Reina mulai meninggi. "Mama simpan, buat jaga-jaga. Aura kan baru kerja, dia belum punya uang." Reina menyandarkan punggungnya ke kursi, pandangannya menerobos ke jalan di luar jendela. "Kalau gitu, minta aja sama Rama. Dia udah kerja kan, gajinya gede. Nggak mungkin dia nggak punya uang buat bantu adiknya sendiri." "Mama nggak enak, dia lagi nabung buat nikah. Masa kamu tega ganggu tabungan dia?" Reina tertawa, tapi bukan tawa bahagia melainkan karena perasaannya yang getir. Seperti orang yang sudah terlalu sering menerima ketidakadilan tapi tidak lagi punya tenaga untuk marah. "Terus aku nggak punya kebutuhan, Ma?" suaranya pelan tapi menusuk. "Aku juga mau nikah. Aku juga mau pacaran, kenal cowok. Tapi semua itu terhalang karena aku sibuk kerja dan kerja terus. Semua buat siapa? Buat bantu Mama, bantu Aura, bantu semuanya, kan?" Akhirnya semua perasaan yang selama ini dia rasakan tertumpah. "Reina!" Hayu memanggil nama itu dengan keras merasa kesal dengan apa yang ia dengar barusan. "Kenapa harus selalu aku? Kenapa selalu aku yang diminta ngerti dan ngalah?" Telepon di tangan Reina bergetar, tapi tangannya makin gemetar. Perutnya yang tadi lapar sekarang terasa mual. "Kalau semua anak Mama dijaga kebutuhannya, ya minta juga dong sama suami Mama. Papa tiriku itu lho, ngapain Mama nikah lagi kalau cuma buat punya anak tapi nggak bisa biayain apa-apa?" Lanjut Reina. Reina menyesal begitu kalimat itu meluncur. Tapi ia tidak menariknya. Karena itu kenyataan. Dan sudah terlalu lama ia memendam semua itu sendiri. Di ujung telepon, ibunya diam. Lalu dengan suara dingin, menjawab, "Kamu jangan ngomong kayak gitu." Telepon terputus, hayu di ujung telepon memutuskan untuk mematikan panggilan merasa terlalu marah dengan kelakuan putrinya. Reina terdiam untuk beberapa saat berusaha mencerna apa yang terjadi. Ia menatap ponselnya selama beberapa detik, tahu sebuah suara menyadarkannya itu adalah suara dari pelayan yang menunggu pesanan. "Maaf Bu, jadinya Mau pesan apa?" "Maaf, saya pesan aglio olio dan lemon tea hangat," ucap Reina pelan. Makanan datang sepuluh menit kemudian. Tapi hanya disentuh sedikit. Reina lebih banyak menatap ke luar jendela, ke arah kendaraan yang berlalu-lalang. Kiranya benar-benar kacau setelah sang Ibu menelepon, harapan makan makanan enak dengan perasaan senang rusak begitu saja. Ponselnya kembali menyala, chat dari Yoga. Yoga: Na kamu sibuk malam ini Reina menatap layar ponsel cukup lama sebelum menjawab. Rasanya, dia butuh sesuatu yang bisa melepaskannya dari kekacauan hari ini. Dia butuh pelarian. Butuh sesuatu yang bisa membuatnya merasa bahagia. Reina: Enggak, tapi aku mau have fun malam ini. Yoga membalas cepat. Yoga: Aku juga, Aku ke kost kamu, gimana?" Reina mengetik dengan cepat. Reina: Nggak bisa. Nggak nyaman di sana. Reina menunggu balasan tapi sepertinya Yoga juga sedang memikirkan jawaban, tak sabar Reina segera mengirim pesan lagi. Reina: Kita ketemu di hotel aja. Yoga: Oke. Kamu pilih hotelnya, aku siapin semuanya. Reina menatap layar itu, kosong. Jari-jarinya perlahan meletakkan ponsel ke meja. Ia menghela napas dalam-dalam. Apakah ini pilihan yang benar? Apakah dia hanya lari? Apakah ini bentuk balas dendam terhadap keluarga yang tak pernah memihaknya? Reina: Oke Ga. Yoga: Oke, sampai ketemu Na. Setelah Reina kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaan dengan sisa tenaga yang ada. Laporan untuk meeting besok sudah ia rapikan. Semua tabel, grafik, dan catatan analisis disusun rapi. Tapi pikirannya entah di mana. "Mikirin apa sih?" ia bergumam kesal karena hilang konsentrasi. Pukul tujuh malam, ia keluar dari kantor dan langsung menuju hotel yang sudah ia booking melalui aplikasi. Hotel kecil di tengah kota. Tidak mencolok, tapi nyaman. Reina masuk ke dalam kamar yang sudah ia pilih sendiri, minimalis, kasur putih bersih, aroma ruangan segar tercium dari diffuser di sudut ruangan. Reina berdiri di depan cermin. Melepas blazer kerjanya, menyisir rambut, menghapus lipstik nude, mengganti dengan warna merah marun. "Kalau kamu mati besok, lo mau hari ini lo habisin dengan emosi terus?" Itu pertanyaan yang pernah ia tulis di catatan kecil bulan lalu. Ponselnya berbunyi, pesan dari Yoga. Yoga: Aku udah di parkiran. Reina: Lantai 5. Kamar 507. Reina mengetik, lalu meletakkan ponsel di meja kecil dekat ranjang. Ia berjalan ke jendela, membuka tirai lebar-lebar. Dari sana, lampu-lampu kota berkelap-kelip. Malam Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur terus padat dan ramai. "Just enjoy the night," katanya pada diri sendiri. Malam ini dia tidak ingin memikirkan semua masalah tadi siang. Hidupnya akan segera berakhir, dan dia tak mau terus hidup dalam tekanan dan terus dimanfaatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD