Siang itu, Yoga memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Reina, Yoga memiliki janji temu disebuah cafe. Café ini memang tempat favorit para eksekutif dan pebisnis muda yang ingin rapat dengan suasana santai tapi tetap berkelas.
Yoga datang dengan setelan jas warna abu tua. Kemeja putih bersih di baliknya menambah kesan formal. Lengan panjang itu sengaja ia kenakan bukan hanya demi penampilan, tapi untuk menutupi tato di tangan kirinya.
Yoga duduk tenang di sudut ruangan, kursi dekat jendela yang menghadap taman kecil. Tangannya menggenggam cangkir espresso, sesekali mengecek jam tangan. Wajahnya tenang, tapi tatapannya tajam. Tak lama, seorang pria berumur awal 30-an datang dengan senyum ramah. Berkemeja biru muda dan celana kain, langkahnya mantap dan percaya diri.
"Mas Yoga?" sapanya.
Yoga berdiri dan menjabat tangan pria itu. "Betul, Mas Edwin, ya? Silakan duduk."
"Maaf saya agak terlambat, karena tadi ya tahu sendiri lah Saya harus ke kantor dulu untuk ngurus beberapa hal."
"Oke nggak papa kok, nggak masalah. "Yoga menjawab.
Setelah basa-basi singkat, mereka langsung masuk ke inti pembicaraan.
"Jadi kami ini lagi butuh banget rebranding total. Website, konten, hingga strategi digitalnya nih mas. Saya lihat dari portofolio Mas Yoga, pendekatannya tuh fresh dan relevan banget sama market anak muda sekarang, genz lah istilahnya," kata Edwin sambil membuka iPad-nya.
Yoga mengangguk. "Maksih mas Saya biasanya mulai dari analisa identitas brand, baru ke campaign dan platform yang sesuai. Nggak semua bisnis tuh cocok pakai strategi viral, kadang lebih penting sustain message dan komunitas yang organik."
Edwin mengangguk cepat. "Oh gitu ya mas, saya kira yang penting viral. Nah, untuk produk kami ini, targetnya anak-anak umur 18 sampai 25. Kami mau image-nya itu fun, kekinian lah."
Yoga mengambil pulpen dan mulai mencatat di buku kecilnya. "Produk lifestyle, ya? Oke. Saya ada beberapa ide yang mungkin nanti kita bisa dikembangkan. Salah satunya storytelling pendek via t****k—bl bukan hard selling, tapi lebih ke situasi sehari-hari yang lucu atau sehari-hari gitu lah."
Edwin tertawa kecil. "Oke tuh, pas banget. Tim saya juga sempat kepikiran itu, tapi belum ketemu narasi yang cocok."
Yoga mengangguk. "Saya bisa bantu di situ. Nanti kita buat persona brand dulu. Biar jelas karakternya seperti apa, tone of voice-nya bagaimana. Yang penting itu konsisten mas."
Percakapan mereka mengalir lancar, penuh pertukaran ide . Yoga bicara dengan tenang, profesional, dan penuh ide baru. Ia tampak sepenuhnya fokus. Namun, di sela-sela pembicaraan, sebuah bayangan di sudut café membuatnya terdiam sepersekian detik.
Seorang perempuan dengan rambut panjang bergelombang, mengenakan blouse warna dusty pink dan rok pensil, duduk di pojok cafe. Tangannya menyentuh lengan pria di depannya sambil tertawa kecil. Terlihat santai, terlalu akrab dan ia kenali, Vania.
Vania membuat yoga hilang fokus sesaat. Sorot matanya meredup sesaat, tapi dia langsung mengalihkan pandangan, berusaha tetap fokus.
"Mas Yoga?" suara Edwin menyadarkannya. "Gimana menurut Mas soal kolaborasi sama influencer pemula ?Worth it atau mending langsung ke selebgram yang udah punya nama?"
Yoga tersenyum tipis. "Tergantung objektifnya, Mas. Kalau awareness jangka pendek, selebgram bisa efektif. Tapi kalau ingin bangun koneksi lebih kuat sama followers, micro-influencer lebih natural dan interaksinya tinggi."
Edwin manggut-manggut. "Masuk akal sih. Kayaknya kita bakal explore dua-duanya. Bisa dibantu ya nanti untuk datanya ya?"
"Siap mas," jawab Yoga singkat.
Senyumnya masih ada, tapi pikirannya mulai bercabang. Ia kembali melirik ke arah pojok cafe, tepat ketika pria yang bersama Vania berdiri dan berjalan ke kasir. Yoga menahan perasaannya. Vania masih di sana, tertawa. Matanya bersinar, terlihat kalau dia sangat bahagia dan menikmati momen bersama pria itu.
Setelah pertemuan selesai dan Edwin berpamitan dengan jabat tangan hangat, Yoga tidak langsung pergi. Ia memilih menunggu. Menunggu pria itu benar-benar pergi dari café. Menunggu Vania sendiri. Ia tak tahu kenapa, tapi hatinya seperti memaksa tubuhnya untuk tetap di tempat.
Begitu Vania berjalan sendirian di depan pagar café, Yoga berdiri. Langkahnya mantap. Wajahnya datar, tapi dadanya sesak.
"Vania." Yoga memanggil, pertemuan terakhir mereka tidak ada keputusan. Yoga masih berusaha untuk mempertahankan, tapi yang dia lihat sekarang benar-benar di luar prediksi.
Vania menoleh. Butuh beberapa detik sebelum wajahnya terlihat shock. "Yo- yoga?"
Yoga tidak bicara, hanya menatap dengan penuh rasa kecewa.
"Aku bisa jelasin," kata Vania buru-buru.
"Kayaknya nggak perlu," jawab Yoga pelan. "Aku udah ngerti."
Vania menarik napas cepat. "Itu cuma teman aja Ga, serius. Kita ketemu buat ngobrol aja."
Yoga menatap ke arah tempat pria itu tadi berdiri. "Temen? Temen Kamu jadiin alasan lagi? Mana ada temen yang kayak gitu? Aku ngelihat kamu dari tadi."
"Yoga, please. Aku serius ini cuma temen aja. Kamu tuh terlalu gampang curiga Ga," kata Vania membela diri.
"Gampang curiga?" Yoga menyeringai kecil. "Kita itu pacaran nggak setahun dua tahun, atau sehari dua hari. Dan dari tahun pertama sampai sekarang, kamu nggak berubah. Selalu ada ‘teman kerja’, ‘klien’, ‘cuma chatting doang’, ‘nggak sengaja jalan bareng’, ‘nggak tahu dia suka sama aku’ dan aku selalu, selalu, berusaha ngerti."
Vania terdiam. "Ga, serius, aku cuma sayang kamu."
"Sama kayak kamu bilang dua tahun lalu. Dan tahun lalu dan bulan lalu." Yoga terkekeh lebih menertawai dirinya sendiri.
"Yoga, aku serius. Aku bisa buktiin!" Vania terlihat hampir menangis entah karena takut kehilangan Yoga atau uangnya.
"Enggak usah," potong Yoga tegas. Suaranya tenang, tapi jelas tidak akan memberi kesempatan. "Aku udah nggak butuh pembuktian. Aku cuma mau tahu, kamu sadar. Berapa kali aku bilang ke diriku sendiri, kalau kamu akan berubah’? Berapa sering aku nahan amarah cuma biar kita nggak ribut?"
Vania menunduk, bahunya sedikit gemetar. Tapi Yoga tetap berdiri tegak tidak goyah.
"Dulu kita kenal waktu umur tujuh belas, Van. Masih sama-sama remaja. Tapi sekarang, udah umur dua puluh lima. Dan kamu masih gitu-gitu aja, enggak ada perubahan."
"Yoga aku bisa berubah. Aku cuma—"
"Capek sumpah," potong Yoga. "Aku capek, Van. Bukan cuma karena kamu, tapi karena aku terus maksa diriku buat ngerti kamu. Dan makin aku ngerti, makin aku ngerasa bego."
Mereka terdiam cukup lama. Vania memikirkan apa yang harus dia katakan, Yoga diam menunggu pembelaan apa lagi yang akan Vania katakan.
Yoga menarik napas dalam, lalu berkata pelan, "Kamu tahu, yang paling nyakitin bukan karena kamu duduk bareng cowok lain. Tapi karena aku nggak kaget kayak, ya udah kebiasaan kamu."
Vania menutup wajah dengan tangan. "Jadi mau kamu apa? kamu mau putus?"
Yoga tidak langsung menjawab, ia menatap perempuan itu— Yang pernah ia bela mati-matian dari komentar buruk, mati-matian juga dia pertahankan, perempuan yang pernah ia yakini sebagai "satu-satunya". Tapi sekarang, semuanya terasa seperti sebuah kebodohan yang berulang.
"Aku mau selesai semuanya, kamu dan aku," tegas Yoga lalu berbalik, meninggalkan Vania yang berdiri mematung dengan air mata yang menetes di wajah.
Di sepanjang jalan menuju mobilnya, Yoga merasa aneh. Tidak ada emosi meledak-ledak, tidak ada keinginan untuk menghancurkan sesuatu, tidak ada rasa ingin tahu siapa pria tadi, atau mau ke mana mereka setelah ini.
Dia memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Reina.