sebelas

838 Words
Kamar hotel itu tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Reina duduk di sisi ranjang, masih mengenakan pakaian kerjanya berwarna hijau tua. Rambutnya dikuncir rendah, rapi tapi tetap terlihat santai. Ia menunggu, menatap jam di dinding, hingga pintu akhirnya diketuk dua kali. Yoga masuk dengan langkah pelah, wajahnya sedikit lelah, mata sayunya tak bisa menyembunyikan kegundahan yang ia coba tekan sejak siang tadi. "Maaf ya, lama. Aku habis ada pertemuan sama orang tadi " tanya Yoga sambil menutup pintu dan meletakkan ponsel di meja kecil dekat TV. "Nggak apa apa Ga, aku juga baru nyampe kok," jawab Reina, tersenyum singkat. Tapi matanya tajam, memperhatikan gerak-gerik Yoga yang terlihat tak seperti kemarin. Mereka duduk berdampingan di ujung tempat tidur. TV menyala menampilkan acara talkshow Korea, tapi tak satu pun dari mereka memperhatikannya. Reina memiringkan kepala, menatap Yoga yang duduk diam memandangi lantai. "Kamu kenapa Ga? Ada masalah kah?" tanya Reina hati-hati. Yoga menoleh perlahan, ada jeda sebelum ia bicara. "Aku baik baik aja Na." Reina menghela napas pendek lalu tersenyum. "Itu jawaban yang biasanya keluar dari orang yang lagi nggak baik-baik aja, tau enggak?" Yoga tersenyum kecil, tapi hambar. Dia sadar, ada sesuatu dari Reina yang berbeda. Bukan soal fisiknya. Tapi cara Reina memperhatikan, cara dia membaca ekspresi tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Sesuatu yang jarang ia temui. "Reina," panggilnya pelan. "Kamu juga kenapa?" Reina tersentak sedikit, lalu mengerucutkan bibirnya. "Loh, aku yang nanya duluan. Kok malah kamu yang tanya balik?" Yoga tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya sejak siang tadi, tawanya terdengar tulus. "Iya, maaf. Aku refleks." Mereka saling menatap, hening sesaat tak ada yang bivara5. "na," panggil Yoga pelan, "Kamu tahu nggak, kamu itu perhatian, ya." Reina berkedip, sedikit kaget karena tak mengerti apa maksud kata-kata yoga barusan. Cukup tiba-tiba. Yoga melanjutkan, "Aku nggak cerita apa-apa tadi. Tapi kamu tahu. Kamu nanya ‘kamu kenapa?’ itu aku rasanya kayak— oh, ternyata masih ada yang peduli sama gue." Reina menunduk, tersenyum simpul. "Aku cuma berusaha peka sama sekitar. Mungkin karena aku juga pernah ngerasa kayak gitu ya, nggak pernah ditanya, nggak dipeduliin." Yoga menghela napas, pikirannya teringat seseorang. Vania. Wanita yang bertahun tahun bersamanya, Yoga terlalu sering menahan disi, terlalu sering pura-pura tidak apa-apa. Dan Vania entah kenapa tak pernah sekalipun bertanya, "Kamu lagi kenapa?" Seakan masalah hanya milik dirinya, dan Yoga harus selalu jadi penampung segalanya. "Tadi," ucap Reina, membuyarkan lamunan Yoga. "Kamu kelihatan banget nggak fokus. Keliatan kayak berat banget, makannya aku tanya kamu kenapa Ga." "Hmmm," Yoga hanya mengangguk. Reina memiringkan kepala lagi, lebih dekat kali ini. "Kamu happy nggak hari ini?" Yoga mengangkat alis, menatap Reina yang matanya terlihat berbinar. "Kok nanya gitu?" "Karena aku penasaran," jawab Reina lembut. "Kadang, kita terlalu sering nanyain orang lain soal kerjaan, aktivitas, pencapaian, tapi lupa nanya, kamu bahagia nggak?" Pertanyaan itu sederhana. Tapi untuk Yoga, rasanya seperti sebuah perhatian tulus. "Jujur nggak?" tanya Yoga. Reina mengangguk pelan. "Jujur dong." "Enggak. Aku nggak happy hari ini," jawab Yoga. Hening lagi. "Na. Aku boleh meluk kamu nggak?" Reina menatap mata Yoga, tak ada nada genit, tak ada maksud tersembunyi. Hanya ada kepenatan dan emosi yang ingin diredakan. "Boleh," jawab Reina pelan. Yoga perlahan mendekat dan memeluk Reina. Kuat, tapi penuh perasaan. Reina menepuk pelan punggungnya, memberikan rasa aman yang anehnya membuat Yoga nyaman dan seperti hal yang sangat butuhkan malam itu. "Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu hari ini," bisik Reina di pelukannya. "Tapi aku harap itu semua bukan akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih baik. Dan aku harap, kamu nggak kecewa sama diri kamu sendiri." Yoga memejamkan mata, napasnya terasa lebih teratur sekarang. Dadanya yang sedari tadi sesak, mulai terasa lebih baik. "Masalah kecil sih." kata Yoga pelan, "tapi ya gitu deh. Aku ngerasa muak. Capek. Tapi sekarang udah better." Mereka tetap dalam pelukan sebentar. Tak ada yang bicara, tak ada yang bergerak. Reina membiarkan Yoga memeluknya sampai merasa lebih baik. Dia tak tau maslahah apa yang dialami Yoga. Tapi Reina berharap pelukan itu benar-benar membuat Yoga lebih baik. Yoga akhirnya melepaskan pelukannya, menatap Reina. "Kamu sendiri kenapa?" tanya Yoga sambil menatap Reina. Reina tersenyum. "Nanti aku cerita. Kalau kamu udah lebih tenang." Yoga mengangguk. "Aku tunggu kamu cerita." Mereka duduk berdampingan, menonton TV yang kini menampilkan acara komedi. Tidak ada yang lucu, tapi entah kenapa mereka merasa nyaman duduk bersama seperti ini, tanpa tekanan, tanpa kepura-puraan. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Reina bersandar di sandaran kepala tempat tidur, sementara Yoga perlahan merebahkan kepalanya di pangkuan Reina. "Capek banget," gumam Yoga. Reina mengusap pelan rambut Yoga. "Tidur aja. Aku jagain." Yoga menutup mata, tak perlu waktu lama sampai napasnya menjadi lebih berat, tanda bahwa ia sudah tertidur. Reina tetap duduk, tidak bergerak. Menatap pria di pangkuannya. Tidak ada gejolak atau hal yang dia pikirkan tadi. Tapi entah mengapa ia juga nyaman melakukan ini. Mengusap-usap lembut rambut Yoga yang tertidur. Bukan karena perasaan sayang, hanya ada rasa iba yang datang melihat tatapan yoga. Malam ini mereka tidak melakukan apapun. Tidak ada gairah, tidak ada ciuman panas. Hanya satu pelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD