Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Yoga terbangun. Ia merasa hangat. Nyaman. Lalu, matanya mengarah ke sosok Reina yang tengah tertidur di hadapannya.
Wajah perempuan itu terlihat polos, bulu matanya bergerak halus setiap kali menarik napas. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat menarik.
Yoga mengamati wajah itu tanpa suara. Dalam jarak sedekat ini, dia bisa melihat jelas garis-garis lembut di sekitar mata Reina, tapi tidak membuatnya tampak tua. Justru, sebaliknya Reina terlihat lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Bahkan, terlihat lebih muda dari dirinya sendiri. Padahal mereka terpaut sepuluh tahun.
Yoga menarik napas pelan, menatap langit-langit kamar yang sepi. “Aneh,” pikirnya. “Gue bisa tenang gini, padahal tadi kepala lagi penuh.”
Dia masih kesal pada Vania. Wajah wanita itu masih menari-nari dalam pikirannya. Tatapan acuhnya, suara tertawanya bersama pria lain di kafe kemarin, dan ekspresi kaget saat dia menghampiri.
Yoga lalu memejamkan mata lagi. Masih dalam posisi berhadapan dengan Reina, dan tanpa sadar, tangannya melingkar ke tubuh perempuan itu. Ia menarik Reina mendekat, memeluknya. Seketika, Reina ikut mengeratkan pelukannya. Dalam tidur, tubuh keduanya secara alami mencari kehangatan.
Kemudian pagi hari Reina bangun duluan. Ia membuka mata perlahan, menyesuaikan diri dengan pencahayaan kamar yang masih redup. Tubuhnya masih dalam pelukan Yoga, dan napas pria itu terasa hangat di lehernya.
Tapi Reina tidak bergerak. Ia tahu, satu gerakan saja bisa membangunkan Yoga. Dan entah kenapa dia tidak mau mengganggu.
'Kapan terakhir kali gue ngerasa aman dan senyaman ini?' pikir Reina.
Beberapa menit berlalu. Reina mulai merasa kaku. Ia bergeser sedikit. Hanya sedikit gerakan, cukup untuk melemaskan bahunya yang pegal. Tapi tiba-tiba, suara serak terdengar dari pria di depannya.
“Jangan gerak-gerak Na.” Yoga membuka mata. Separuh mengantuk, separuh sadar. Tapi tatapan mengandung sesuatu
Reina membeku. “Sorry Ga aku pegel daritadi diem.”
Yoga menarik napas panjang. Lalu dengan nada yang sedikit bergetar, ia berkata, “Bagian bawah kamu, daritadi kena ke itu aku.”
Wajah Reina menjadi merah seketika. Ia refleks menjauhkan tubuhnya, tapi Yoga menahan. Reina menatap Yoga, seolah bertanya kenapa yoga menahan tubuhnya. Reina mau menjauhkan diri lagi, tapi Yoga kembali menahan.
"Ga, katanya kena." Reina katakan, lalu menelan saliva.
“Udah terlanjur Na, kamu harus tanggung jawab,” katanya sambil menatap Reina lekat.
Mata mereka bertemu, Reina mencoba membaca maksud di balik kalimat itu bercanda, serius, atau sekadar menguji reaksi? Tapi sebelum Reina bisa menjawab, Yoga sudah bergerak lebih dulu.
Bibinya menyentuh bibir Reina. Lembut. Awalnya pelan. Seperti memastikan bahwa Reina tidak akan menolak Dan Reina tidak menolak. Yoga memperdalam ciumannya. Kali ini, lebih dalam, lebih sensual memainkan bibir menelusuri bagian dalam dengan lidahnya.
Yoga melepas sejenak menatap Reina yang menatap Dnegan mata bulatnya yang berbinar. Yoga merapikan rambut Reina, Kemudian ciuman itu berlanjut. Tak ada percakapan. Hanya suara napas mereka yang semakin berat, serta denting pelan dari ranjang yang bergoyang saat tubuh mereka saling mendekat.
Yoga memainkan seluruh bagian tubuh , jalari dengan lembut, ikuti detak jantungnya, ia lakukan tubuh Reina. Bibir mereka saling menyatu, saling mencari.
"Eeghh," lenguh Reina pelan merasakan hasrat yang perlahan naik, akibat tangan Yoga di balik tubuh bawahnya.
Bibir yoga menyusuri sisi leher Reina, kemudian tangannya yang naik ke leher, turun perlahan, menyentuh bahu dan pinggang, lalu naik lagi ke pipinya. Mengecup bibir Reina lagi, bibir itu merambat turun liar penuh hasrat. Dari luar dikecup hingga basah, satu tangan yoga bergerak ke belakang. Dan dalam satu gerakan penutup itu terbuka.
"Ga," lenguh Reina saat lembut bibir Yoga mengenai si sensitif itu. Tangan Reina menahan Yoga. Deburan rasanya tak bisa ia tahan.
Yoga menggoda Reina, membuat stimulus atas dan bawah ia permainan dengan bibirny dan tangan. Dia sesap seperti kehausan dan naik dan turun terus menerus. sampai Reina menegang, mencapai akhir permainan pertama.
"Oohh gaa!" Reina memekik matanya terpejam dengan tubuh yang membusung naik ke atas. Napasnya naik dan turun tak beraturan seperti baru saja selesai berlari maraton.
Reina masih mengatur napas saat tubuh Yoga menyatu dengannya. Dalam satu pergerakan yang membuat Reina meringis, masih terasa penuh dan nyeri. Rasanya masih ngilu sejak permainan pertama kali untuknya dengan yoga beberapa hari lalu.
"Sssshh, sakit Ga."
Yoga mendnegar, dia diam membiarkan Reina terbiasa. Kembali mencium dan menstimulasi bagian-bagian sensitif lain. Tangannya mengusap-usap bagian yang memerah karena perlakuannya.
"Masih sakit?" Yoga bertanya lembut.
Reina menggeleng, yoga mencium bibir Reina sebelum akhirnya dia bergerak mengikuti naluri hasratnya sendiri menggebu yang sejak tadi ia tahan. Tatapannya menatap Reina, sesekali jemarinya masuk ke dalam bibir Reina, menyenangkan melihat Reina seolah menurut dengan perlakuannya.
Perlakuan Yoga kadang sedikit keras, tapi Reina tak menolak seolah merasakan kenikmatan dari apa yang Yoga lakukan. Mereka sama-sama adu desah dan napas. Ruangan penuh dengan suara napas dan desahan yang tertahan tubuh mereka berkeringat. Ruangan yang dingin mendadak jadi begitu panas.
Yoga mendesah dalam gerakan yang semakin cepat. Pergerakan yang membuat Reina terhentak bergerak dengan jantung berdetak semakin cepat. Permainan gila yang mereka lakukan, tak ada janji apapun di dalamnya. Seperti hanya dua tubuh yang saling mencari pelarian dari kenyataan yang sama-sama membuat mereka terluka.
"Hmm gaa," desah Reina saat ia kembali bergerak mengentak dan akhirnya selesai untuk kedua kalinya.
Tak lama yoga juga bergerak semakin cepat, napasnya tertahan, terengah-engah. Tubuh Yoga jatuh di atas Reina. Ia memejam merasakan sisa-sisa rasa nikmat yang membuat ia lupa segalanya tadi.
Yoga mengecup pipi Reina lalu berpindah rebah di samping wanita itu. Setelahnya, mereka berbaring dalam diam. Reina memeluk selimut, menatap langit-langit, sementara Yoga berbaring telentang, satu tangan di balik kepala, satu lagi menutup matanya.
Reina melirik ke arahnya.
“Maaf,” katanya pelan.
Yoga menoleh. “Kenapa minta maaf?”
Reina menggeleng. “Nggak tahu. Aku ngerasa salah.”
Yoga tertawa singkat. "Enggak ada yang salah Na. Hmm? Jangan minta maaf."
Reina mengangguk kecil. Ia paham. Sangat paham. Ia tidak berharap apa-apa dari Yoga. Tidak cinta, tidak status, bahkan tidak pelukan kedua. Aneh memang, tapi memang dari awal Reina ingin menikmati hidupnya dengan mencari dosa kan?
Yoga menutup mata lagi, menarik napas panjang. Reina menghadap ke arahnya, tapi tidak menyentuhnya. Pagi ini, mereka bukan pasangan bukan teman, bukan juga kekasih.
Mereka hanyalah dua manusia yang sedang butuh tempat untuk melepaskan hidup yang penat.
Reina bangkit menutupi tubuh dengan selimut. "Aku mandi dulu," katanya sambil lalu.
Yoga mengangguk. "Aku pesen sarapan, kita sarapan bareng pas kamu selesai."