tiga belas

1110 Words
Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar suara garpu bersentuhan dengan piring dan sesekali tegukan kopi yang masih mengepul. Di tengah suapan ketiganya, Reina mengintip ponsel yang tergeletak di meja. Layarnya menyala sebuah panggilan masuk dari "Mama". Reina diam, hanya menatap layar itu tanpa berniat menyentuhnya. Yoga melirik, lalu bertanya sambil mengunyah roti, "Nggak diangkat?" Reina menggeleng pelan. "Enggak." Tak ada penjelasan tak ada alasan. Tapi tak ada pertanyaan lagi dari Yoga. Beberapa detik kemudian, giliran ponsel Yoga yang berdering. Suaranya memecah keheningan yang tadinya nyaman. Reina melirik ke sumber suara itu. Nama "Vania" terpampang jelas. Kini gantian Reina yang bertanya, "Nggak kamu angkat?" Yoga menoleh padanya, tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Nggak. Persis kayak yang kamu lakuin tadi." Keduanya tertawa bersamaan, tawa yang terdengar biasa saja tapi sebenarnya sebuah perasaan yang miris karena mereka sama-sama menghindari orang yang membuat mereka terluka. Sebuah kesamaan kecil yang tak disengaja, tapi terasa dekat. Sesaat kemudian, suasana kembali hening. Hanya denting sendok Reina yang terdengar. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. "Dosa apalagi yang mau kamu lakuin, Na?" tanya Yoga, setengah bercanda, tapi ia ingin tahu. Reina terdiam, lalu ia meletakkan garpu ke piringnya perlahan, menatap ke luar jendela, lalu kembali menatap Yoga. "Aku nggak tahu mau ngelakuin apalagi, tapi… yang jelas, dosa paling besar kemarin dan pagi ini." Yoga hanya mendengarkan sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Melakukan hubungan, padahal bukan suami istri. Semua agama juga ngelarang itu, kan?" lanjut Reina lagi. Yoga mengangguk kecil. "Ya udah, nikmatin aja. Bukannya kamu sendiri yang bilang? Mau nikmatin hidup." Reina tersenyum miris. "Iya, tapi lucu ya, dosa kok dicari dan dinikmati." Yoga hanya mengangkat bahu, menyesap kopinya pelan. Reina bersandar di kursinya, memeluk lutut yang ia lipat di atas kursi. Ia tampak lebih muda dari biasanya saat duduk begitu. Seperti perempuan 20-an yang baru saja mencuri waktu dari dunia untuk sekadar mencari jati diri. "Hubungan ini," kata Reina menggantung sesaat, "bener-bener cuma buat aku. Hmm, supaya aku bisa nikmati dosa, mungkin setiap hari. Tapi aku nggak mau ada komitmen. Nggak mau kita ada perasaan." Matanya menatap kosong ke luar jendela hotel lalu menatap yoga. Pria itu masih mendengarkan tapi kali ini terlihat lebih serius, dia menatap dan memerhatikan setiap kata-kata yang terucap. "Kalau nanti ada perasaan— ya itu urusan kota masing-masing. Tapi hubungan ini bakal selesai. Cepat atau lambat." Yoga mendengarkan, tanpa memotong, tanpa memberikan pendapat. Dan ketika Reina selesai bicara, ia mengangguk. "Aku setuju," ucapnya. "Toh aku pikir aku udah nggak bisa cinta lagi ke siapa pun selain mantan aku." Yoga lalu menyandarkan punggungnya, memandang keluar jendela. "Buat aku, ini. cuma pelarian, Selingan, kesenangan," lanjut Yoga berkata datar, terdengar tidak menyesal. Reina tidak terlihat tersinggung. Dia jelas tahu betul apa hal yangs udah ia pilih. Reina lalu meneguk air putihnya lalu berkata, "Makasih, Yoga, udah mau terima permintaan gila ini." Yoga menatapnya. "Terima?" "Iya, nerima aku, dalam kondisi begini. Badan nggak sempurna, penyakit ini juga bisa nyeret aku kapan aja. Tapi kamu tetap mau ngelakuin hal gila ini." Yoga menatap ke arah Reina tatapan iba. "Jujur Na, aku juga butuh tempat buat pelarian. Jadi ya, nggak usah makasih- makasihan lah." Reina tersenyum kecil senyum itu bukan senyum bahagia. Senyum dari seseorang yang menerima nasibnya, dan berusaha menciptakan sedikit ruang nyaman dalam waktu yang terbatas. Ponselnya kembali menyala. Kali ini pesan masuk dari sang ibu. Mama: mama masak ayam serundeng. Kalau bisa pulang sebentar ya, Nak. Reina tidak membalas, hanya menatap layar itu beberapa detik, lalu menguncinya dan meletakkan kembali di atas meja. Dia tau itu alasan, setelah dia pulang yang dibahas akan selalu tentang uang. Yoga memperhatikan tanpa bertanya, diantau batasan. Bagaimana pun keduanya hanya orang asing. Ada hal yang tak harus ia ketahui. *** Sorenya Yoga baru sampai di rumah setelah semalaman bersama Reina, ia berniat turun dari mobil. Baru saja mematikan mesin, matanya menangkap sosok perempuan berdiri di depan pagar rumah, Vania. Tubuh rampingnya diselimuti blouse putih yang tampaknya mahal, rambut panjangnya dikuncir setengah, dan wajahnya meskipun bermakeup, tampak kesal. Yoga menghela napas, terlihat malas. Ia berjalan pelan ke arah gerbang, matanya tak melepaskan pandangannya dari perempuan itu. "Aku nungguin kamu dari tadi," ucap Vania, nada suaranya kecewa. "Satpam itu nggak ngizinin aku masuk. Kamu apain dia?" Yoga membuka kunci pagar lalu mendorongnya perlahan. "Aku yang suruh. Karena kamu udah nggak punya kepentingan lagi di rumah ini." Vania menahan pintu pagar yang hampir menutup. Tatapan matanya membulat, tidak percaya dengan ucapan Yoga. "Aku tahu aku salah," katanya pelan. "Aku, minta maaf sayang, baby." Yoga hanya diam, tatapannya tajam dan dingin sudah muak dengan semua janji itu. Vania melangkah mendekat. Tangannya berusaha menggenggam lengan Yoga, tapi pria itu mundur. "Aku cuma jalan doang, baby," Vania memelas. "Kamu terlalu dingin, terlalu cuek sama aku. Aku pengen diperhatiin lagi, qku mau kamu kayak dulu. yang selalu nanyain aku makan apa, udah tidur belum, nyamperin aku ke salon, ke kampus, kantor." Yoga tertawa kecil, padahal perhatian itu selalu ia berikan jika ada jadwal kosong. "Jadi itu alasannya?" tanyanya. "Kamu selingkuh karena aku kurang perhatian? Aku? Kurang perhatian?" "Aku nggak selingkuh!" Vania membela diri. "Cuma jalan doang." Yoga menatap Vania maewh, wajahnya mulai memerah karena emosi yang ditahan. "Selama ini aku kerja mati-matian, Van. Aku lembur, kadang nggak tidur, berusaha nyenengin kamu. Kamu suka belanja? Aku usahain. Kamu mau liburan? Aku turutin. Semua barang branded yang kamu mau, aku beliin. Tapi kamu masih bilang aku nggak perhatian?" Vania tampak tersentak. Bibirnya gemetar, tapi tidak bisa membantah. "Aku cuma mau kamu terima, kalau waktuku banyak buat kerja. Itu aja udah cukup," lanjut Yoga, suaranya menekan. Vania menggeleng, mata mulai berkaca-kaca. "Aku juga mau dicintai, Ga. Disayang. Aku mau ngerasa jadi perempuan yang penting buat kamu." Yoga melipat tangan di d**a, menahan tawa getir. "Dicintai kayak apa lagi sih? Aku rela ninggalin kerjaan demi nemenin kamu waktu kamu mau ke klub. Aku batalin meeting penting cuma buat nganter kamu ke salon. Bahkan aku pernah jual saham aku, cuma buat nutupin utang kartu kredit kamu." Yoga menatap Vania dalam-dalam. Vania diam. "Aku cinta banget, Van. Dulu iya. Aku lakuin semua itu karena aku cinta sama kamu. Tapi kamu. selingkuh. Dan bukan cuma kemarin. Udah berapa kali, coba kamu ingat ingat?" Vania menunduk. Napasnya mulai sesak.j Yoga melanjutkan, nadanya mulai bergetar karena menahan emosi. "Aku tahu Van, aku nggak bodoh. Aku pura-pura nggak tahu aja, karena aku masih sayang. Tapi sekarang udah cukup." Yoga melangkah ke arah pintu rumah, membuka kunci. Vania mengejarnya. "Ga, aku nyesel. Aku beneran nyesel." Yoga berhenti di ambang pintu. Menoleh sebentar. "Penyesalan kamu itu bukan karena nyakitin aku. Tapi karena ketahuan. Dan kamu akan ngelakuin lagi dan lagi, basi!" Yogaa masuk. Vania tetap berdiri di luar pagar. Kali ini tidak berteriak. Tidak membantah. Karena dia tahu, semuanya udah terlambat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD