empat belas

1160 Words
Pagi ini Reina sudah berdiri di depan cermin kecil di kostannya. Blus biru muda dengan kerah V yang simpel namun rapi dipadukan dengan rok putih selutut, memberikan kesan soft dan elegan. Rambutnya diikat setengah, wajahnya diberi sedikit riasan natural. "Oke, udah cantik." Ia menjadi lebih percaya diri setelah bisa merias diri. Setidaknya dia cantik untuk diri sendiri. Seperti biasa, ia berjalan kaki ke halte kecil di dekat gang, lalu naik transportasi umum menuju kantor. Di sepanjang perjalanan, Reina memutar ulang jadwal kerjanya hari ini dalam kepala. Banyak laporan yang harus direkap. Progres desain kemasan produk baru yang harus dicek. Dan tentu saja pertemuan penting hari ini. Tapi semuanya buyar ketika ia dipanggil oleh Pak Eko tak lama setelah duduk di meja kerjanya. "Reina," suara Pak Eko terdengar di belakangnya. "Sini sebentar." Reina berbalik cepat, berdiri dan menghampiri pria berperut buncit itu. Di tangan Pak Eko sudah tergenggam map cokelat berisi dokumen yang tampaknya akan dibahas dalam pertemuan nanti. "Ingat kan? Kamu yang ikut saya dan Pak Adam ketemu analis bisnis sore ini, ya," ucap Pak Eko sambil menyerahkan map tersebut. "Baik, Pak." Reina menganggukan kepala sambil menerima map tersebut. "Kita mau diskusi tentang rencana pengembangan produk dan program baru. Kamu kan yang paling tahu perkembangan keuangan, laporan dan Sekmen pasar perusahaan Kita. Jadi saya mau kamu bisa bantu sampaikan itu ke pihak analis. Jangan gugup. Jawab aja seperti biasa, ya?" "Iya, Pak." Reina menjawab Dnegan yakin. Pak Eko kemudian menambahkan dengan suara serius, "karena kerja sama kita selanjutnya ini bukan orang sembarangan. Yang datang langsung orang penting. Harus bisa bikin progam yang bagus." "Baik pak saya usahakan yang terbaik." Reina menatap map di tangannya. Dia sudah terbiasa menangani presentasi atau briefing data, tapi tetap saja ada sedikit gugup ketika diberi tugas langsung untuk berbicara dalam rapat penting seperti ini. *** Menjelang siang, mereka bertiga masuk ke ruang rapat lantai dua. Ruangan kaca itu sudah ditata rapi. Dingin karena AC yang sudah dinyalakan sejak tadi. Reina duduk di kursi yang sudah disiapkan di sisi kanan, membuka laptopnya dan menata beberapa lembar data cetakan yang akan dibahas. Pak Eko menatap Reina. "Kamu udah siapkan Reina?" Reina mengangguk sebelum menjawab. "Sudah pak, sudah saya siapkan semua data yang mungkin diperlukan." Pak Eko dan Pak Adam mengangguk. Tidak lama pintu terbuka. Langkah tegas terdengar masuk, puara sepatu kulit yang menyentuh lantai kayu itu mendekat, disusul suara Pak Adam yang menyapa, "Silakan masuk, Pak Yoga." Reina menoleh pelan. Dan jantungnya seperti berhenti berdetak satu detik, Itu... Yoga. Pria yang baru saja semalam memeluknya erat, mencium bibirnya, dan tertidur bersamanya. Mereka saling bertatapan. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk memperlihatkan keduanya sama-sama kejut dan canggung yang luar biasa. Meski begitu, keduanya langsung menjaga ekspresi, tentu saja harus bersikap profesional. Tidak ada cara lain, mereka harus bersikap seperti orang yang baru bertemu. "Selamat sore." Yoga menyapa. Yoga duduk di sisi berlawanan. Pak Adam memperkenalkan, "Ini Pak Yoga, analis bisnis independen yang akan bantu kita dalam pengembangan strategi. Dan ini Reina, salah satu staf senior kami di bagian keuangan." Yoga mengangguk, tersenyum sopan. "Senang bisa bekerja sama, Mbak Reina." Kemudian mengulurkan tangannya. Reina menunduk sedikit, lalu membalas uluran tangan itu, "Sama-sama, Pak Yoga. Saya juga senang bisa kerjasama sama Bapak." Rapat dimulai Yoga mulai bertanya tentang kondisi keuangan saat ini, bagaimana tren pembelian konsumen selama tiga kuartal terakhir, serta bagaimana penjualan produk baru. Reina menjawab dengan tenang, jelas, sesekali membuka data dari laptop atau menunjuk grafik di dokumen cetakan. Yoga mendengarkan dengan seksama, kadang mengangguk. Tapi di beberapa momen, ia terlihat sengaja mengulang pertanyaan yang tadi sudah dijawab. Bahkan ada pertanyaan yang sedikit melenceng dari topik. "Jadi, margin keuntungan dari produk lama berapa, Mbak Reina?" tanya Yoga, padahal datanya sudah dibahas lima menit sebelumnya. Reina tetap tersenyum, "Sekitar 18% untuk kuartal 1, turun jadi 14% di kuartal 2 karena kenaikan bahan baku. Tapi estimasi kuartal 3 itu kemumh6 akan naik lagi Oak, karena supplier baru memberi harga terbaru." Yoga mengangguk. "Oh, iya. Tadi sudah saya tanya ya?" Pak Eko menyela, "Sudah. Tapi nggak apa-apa. Reina memang detail." Yoga tersenyum entah kenapa, ia justru merasa senang melihat Reina tetap tenang meski ia iseng berulang kali. 'Kamu keren banget, ternyata,' batin Yoga. Ia menatap Reina berusaha tak menunjukkan ekspresi yang berlebih. Setelah sesi diskusi selesai, rapat pun ditutup menjelang pukul empat sore. Semua orang berdiri, membereskan dokumen. Pak Adam dan Pak Eko tampak puas. Yoga menyampirkan tas kerjanya ke bahu. Sebelum keluar ruangan, ia melihat Reina masih membereskan laptop dan lembaran print out. "Mbak Reina, nanti sekalian pulang bareng saya, boleh?" Pinya yoga santai. Reina menoleh, agak kaget. Terkejut dengan permintaan yang tiba-tiba itu. Belum sempat menjawab, Pak Eko malah menimpali, "Iya, iya. Pulang bareng aja. Siapa tahu sepanjang jalan bisa muncul ide-ide cemerlang buat program baru." Pak Adam ikut tertawa kecil. "Bener tuh. Mumpung Pak Yoga belum ada kerjasama lain lagi." Reina tersenyum lalu menjawab sopan. "Kalau nggak merepotkan boleh pak Yoga." "Enggak kok," potong Yoga cepat. "Saya malah senang. Saya suka ngobrol." Pak Eko menepuk-nepuk bahu Reina. "Reina ini senior, Pak Yiga. Udah lama di sini. Sayangnya, sampai sekarang masih jomblo." Ia tertawa pelan, lalu melirik Yoga. "Mungkin karena badannya agak besar ya. Orang kadang suka lupa kalau otaknya luar biasa cerdas." Reina menunduk, tersenyum tipis. Bukan pertama kali ia mendengar sindiran semacam itu dari Pak Eko, sudah biasa. Yoga menoleh, tatapannya berubah dingin. Tapi mulutnya tetap tersenyum. "Justru karena Mbak Reina punya kapasitas yang luar biasa, saya rasa laki-laki yang enggak kompeten pasti mundur, dia butuh laki-laki yang kompeten bukan ecek ecek. Masalah fisik, itu perspektif kuno. Yang penting otaknya, hatinya, dan integritasnya. Kepintaran anak itu menurun dari ibu." Pak Eko mendadak canggung, lalu terkekeh pendek salah tingkah. "Iya juga sih, saya cuma bercanda." "Bercanda tetap harus punya batas, Pak," jawab Yoga santai. "Apalagi kalau menyangkut harga diri seseorang." Reina menatap Yoga sejenak. Tak berkata apa-apa. Tapi hatinya lega karena ada yang melindunginya. Di parkiran basement, Reina berjalan berdampingan dengan Yoga menuju mobil hitam milik pria itu. Begitu masuk dan pintu tertutup, suasana langsung hening. Reina meletakkan tas di pangkuan, memandangi dashboard. Yoga menatap ia memasangkan sabuk pengaman. Reina terdiam merasa gugup. "Maaf ya tadi," ucap Yoga, sambil mulai menyetir keluar dari parkiran. "Aku tahu kamu pasti nggak nyaman sama ucapan Pak Eko." Reina menggeleng. "Udah biasa Ga. Aku udah nggak terlalu mikirin, sih." "Tapi tetap nggak sopan dong kalau dia ngomong kayak gitu." Reina melirik Yoga, lalu menatap ke jendela. "Terima kasih udah ngebelain aku." "Bukan ngebelain," sahut Yoga cepat. "Aku cuma nggak suka aja kalau orang direndahin karena fisiknya. Apalagi kamu, kamu kerja bagus banget tadi." Reina tertawa kecil. "Kamu bilang aku pintar buat nutupin fakta aku gendut?" Yoga ikut tertawa. "Enggak Na, aku ngomong jujur. Kamu pinter, tenang, dan sabar banget." Reina menahan senyum, lalu kembali diam. Mobil melaju perlahan jalanan mulai padat oleh kendaraan pulang kantor. Musik jazz pelan terdengar dari mobil. Keduanya saling diam, masih berusaha mengingat-ingat momen tadi. Seolah bisa mengenal satu sama lain, bukan di ranjang tapi di meja kerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD