Baru saja pemuda tampan itu hendak menjawab pertanyaan Dewi, langkah cepat terdengar dari arah belakang.
“Kamu gak boleh pergi!” suara berat Rendi menggema di gang sempit itu.
Dewi menoleh, wajahnya tanpa ekspresi. “Aku tetap mau pergi,” ucapnya tegas.
Pemuda itu—Sadewa—melihat keduanya bersitegang. Udara terasa menegang.
Tatapan Rendi langsung tertuju ke pemuda itu, tajam dan penuh curiga.
“Kamu siapa?!” bentaknya.
Dewi buru-buru menengahi, tak ingin Rendi berpikir macam-macam.
“Dia cuma orang lewat yang kebetulan nyapa aku,” katanya cepat.
Namun Rendi tak mau dengar. Ia langsung menarik tangan Dewi dengan kasar, membuat perempuan itu terhuyung, lalu membawanya menjauh.
Sadewa refleks maju satu langkah hendak menghentikannya.
“Ini istriku! Jangan ikut campur!” bentak Rendi tanpa menoleh.
Langkah Sadewa terhenti. Ia terpaku. Matanya menatap punggung Dewi yang perlahan menjauh dibawa paksa.
Lelaki itu menggumam lirih, “Jadi... Bu Dewi sudah menikah...?”
Belum sempat ia beranjak dari tempatnya berdiri, sebuah mobil mewah berhenti di pinggir gang, beberapa meter darinya. Sadewa tak menyadari kehadirannya hingga suara sopan membuyarkan lamunannya.
“Tuan Sadewa, mari.”
Sadewa menoleh. Itu sopir pribadinya.
Ia masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Mobil itu pun perlahan melaju, meninggalkan gang sempit penuh kenangan singkat dan getir.
Di dalam mobil, Sadewa memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Padahal aku senang sekali bisa ketemu Bu Dewi… Tapi ternyata dia sudah menikah. Dan dari sorot matanya… dia tidak bahagia?"
Sadewa memejamkan mata. Ada luka kecil yang baru saja muncul di hatinya.
Sementara itu, di sebuah kontrakan kecil. Rendi membanting pintu dan membiarkan Dewi terjerembab ke lantai.
“Kamu tetap tinggal di sini! Aku gak akan ceraikan kamu! Gak akan pernah!”
Dewi berdiri perlahan, napasnya terengah. Tapi matanya menatap tajam, tak takut.
Rendi melanjutkan, “Kalau kamu mau cerai, kamu harus BAYAR talakku!”
Dewi mendekat perlahan. Wajahnya mendekat ke wajah Rendi. Matanya menyala.
“Bayar? Hah?! Bayar?!” suaranya meninggi. “Lima tahun aku kerja banting tulang buat hidup kamu dan keluargamu, itu belum cukup buat nebus harga diriku? Aku bahkan gak minta balik semua yang udah aku kasih! Tapi sekarang kamu minta aku bayar buat BEBAS dari kamu?!”
Rendi terdiam, tapi napasnya memburu.
Dewi tersenyum miris. “Baik. Akan aku bayar. Tapi bukan dengan uang. Tapi dengan harga diriku. Aku akan lawan kamu di pengadilan. Aku gak takut lagi, Mas. Mulai malam ini, kamu bukan siapa-siapa lagi buatku.”
Dewi melangkah pergi ke kamar, meninggalkan Rendi yang tercekat oleh kenyataan: istrinya tak lagi takut, dan dia baru saja kehilangan satu-satunya orang yang sungguh tulus padanya.
Satu jam kemudian. Kamar sempit itu remang, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu malam kecil di sudut ruangan. Dewi tidur meringkuk, menyelimuti tubuhnya rapat-rapat, berusaha mengusir dingin dan beban pikirannya.
Hening.
Hingga suara pintu yang terbuka perlahan membuat suasana berubah. Rendi masuk, langkahnya pelan, wajahnya terlihat lelah. Ia duduk perlahan di atas kasur sempit yang hanya muat dua orang.
“Maafkan aku, Dewi...” bisiknya lirih.
Dewi tetap diam. Matanya terpejam, tapi ia tidak benar-benar tidur. Ia hanya tak ingin membalas, tak ingin bicara.
Rendi menatap wajah istrinya yang membelakanginya. Mengira Dewi sudah terlelap, ia beringsut berbaring di sebelah Dewi, lalu perlahan menyentuh tangannya, hendak memeluk.
Namun tepat saat itu, Dewi langsung duduk, tatapannya tajam meski wajahnya letih.
“Aku gak mau tidur sama kamu. Keluar dari sini. Sekarang. Atau aku tidur di ruang tengah.”
Rendi terdiam. Ia tahu jika ia bersikeras, suara Dewi bisa saja membangunkan tetangga kontrakan yang tipis dindingnya. Ia menghela nafas, lalu berdiri pelan.
Tanpa bicara, ia keluar dari kamar.
Begitu pintu ditutup, Dewi segera menguncinya dari dalam. Ia tak ingin kejadian itu terulang.
Duduk di tepi ranjang, matanya mulai berkaca. Tapi bukan karena rindu. Melainkan karena ia merasa tidak lagi memiliki tempat aman, bahkan di rumahnya sendiri.
Kediaman Sadewa, di tempat lain malam itu. Mobil mewah berhenti di halaman sebuah rumah mewah. Sadewa turun, masih dengan wajah tampan dan segar.
“Besok saya ke kampus naik taksi saja. Sekalian ke bengkel ambil mobil saya,” ucap Sadewa.
“Baik, Tuan,” jawab sopirnya dengan sopan.
Sadewa melangkah masuk. Interior rumahnya sangat elegan, tangga spiral, lampu gantung kristal, dan lukisan klasik tergantung di dinding. Tapi semuanya terasa hampa malam itu.
Ia bergegas menaiki tangga, membuka pintu kamarnya dan masuk.
Begitu duduk di kursi depan meja kerjanya, Sadewa berkata pelan tapi mantap.
“Aku harus cari tahu tentang Bu Dewi... guruku tercinta.”
Senyum tipis merekah di wajahnya. Ia menyalakan laptop dan menatap layar kosong, sementara pikirannya mulai menjelajahi waktu sepuluh tahun silam.
Di sebuah ruang kelas SMA, saat jam istirahat. Seorang pemuda belasan tahun dengan rambut acak-acakan dan semangat menyala mendekati mahasiswa yang sedang praktek mengajar di sekolahnya. Mahasiswa cantik—Dewi muda.
“Namaku Sadewa. Kalau nama aku Sadewa, berarti jodoh aku pasti... Dewi, kan?” katanya polos tapi percaya diri.
Dewi tersenyum geli. “Sadewa masih kecil, fokus sekolah dulu ya.”
Sadewa menunduk kecewa. “Boleh minta nomor ponselnya?”
“Belajar dulu yang rajin, ya.” kata Dewi sambil melangkah pergi, meninggalkan remaja yang makin dibuat penasaran.
Pada hari perpisahan, Sadewa nekat memberikan setangkai bunga mawar merah. Ketika Dewi menerimanya dengan senyum, satu kelas langsung bersorak dan menggoda. Tapi Dewi tak pernah memberi nomor kontaknya, dan sejak saat itu, mereka tak pernah bertemu lagi—hingga malam ini akhirnya takdir mempertemukan mereka lagi.
Kini Sadewa terdiam. Tatapannya tajam.
“Tapi tadi... laki-laki itu bilang istrinya.”
Ia berpikir keras.
“Bu Dewi bawa tas... seolah-olah mau pergi dari rumah. Wajahnya gak bahagia.”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku harus cari tahu. Harus tahu seperti apa kehidupan Bu Dewi sekarang. Dan... apakah dia bahagia.”
Matanya menatap layar laptop yang menyala. Jarinya mulai mengetik.
Cahaya layar laptop menyinari wajahnya yang serius. Sadewa membuka folder rahasia yang telah lama tersimpan di hard disk eksternal. Folder itu dinamai "Dewi Mahasiswi Cantik_SMA_Praktek"
Dengan satu klik, terbukalah deretan foto-foto lama Dewi—wanita yang pernah menjadi guru praktiknya sepuluh tahun silam. Setiap foto terlihat diambil secara diam-diam, dari berbagai sudut: saat Dewi menulis di papan tulis, saat ia tersenyum menjelaskan pelajaran, bahkan saat ia berdiri di depan kelas sambil membawa buku.
Sadewa menatap layar dengan mata yang mulai basah.
“Hanya Bu Dewi...,” ucapnya pelan, nyaris seperti gumaman. “Hanya Bu Dewi yang mampu membuat aku jatuh cinta...”
Ia membuka satu foto—foto yang paling jernih dan dekat, wajah Dewi terlihat jelas. Wajah muda, penuh semangat, dan tersenyum meski tidak mengarah ke kamera.
Sadewa tersenyum kecil.
“Sepuluh tahun berlalu... dan akhirnya aku bisa melihat Ibu lagi.”
Ia menarik napas panjang, menyimpan foto itu, lalu mengirimkannya via aplikasi pesan ke seseorang bernama “Sumber”.
Beberapa detik kemudian, ponselnya berdering. Sadewa langsung mengangkatnya.
“Ini apa, Tuan?” suara pria di seberang terdengar curiga.