Nayla baru saja menarik napas lega, berpikir untuk membantu sesama cleaning service, mencoba menenangkan diri sejenak. Namun, belum sempat ia benar-benar bersantai, suara Veronika memanggilnya lagi.
“Sudah dipanggil, Nayla. Kali ini kau ditugaskan membeli makan siang untuk Tuan dan aku,” kata Veronika tanpa menatap Nayla lama-lama.
Nayla mengangguk, menelan rasa berat di d**a. Ia berjalan perlahan, membawa catatan pesanan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk kembali ke ruangan eksekutif.
Begitu ia sampai, Veronika langsung bertanya, menatap daftar menu:
“Tuan ingin makan apa?”
Zayn menoleh, suara dingin tapi tetap tenang:
“Terserah kamu saja, Vero. Apa yang kau pilihkan selalu cocok untukku,” ucapnya, seolah disengaja untuk menyakiti Nayla.
Kalimat itu menusuk hati Nayla. Ia masih ingat ucapan yang sama dari Zayn dulu, ketika hubungan mereka sedang manis-manisnya:
“Apapun yang kamu suka, aku pasti suka, Nay. Kalau pun tidak suka, aku akan belajar menyukainya.”
Dulu, kata-kata itu selalu membuat hatinya berbunga-bunga. Sekarang, dengan nada dingin dan tajam, kalimat yang sama terasa seperti pisau yang menoreh luka lama.
Nayla menelan ludah, menahan getaran di dadanya, dan mengambil daftar pesanan dengan tangan gemetar. Sekali lagi, ia harus bertahan, untuk Rian, untuk ibunya, dan untuk dirinya sendiri.
--------
Saat Nayla hendak keluar dari ruang Zayn, ia menunduk sambil berpura-pura menatap menu di tangannya. Sejak awal, ia selalu seperti itu, menghindari tatapan penuh dendam Zayn dan pandangan tidak suka Veronika.
Tanpa sadar, seseorang baru saja muncul di ruangan.
Buk!
Tabrakan tidak terhindarkan. Tubuh mungil Nayla hampir terpental kalau saja orang itu tidak segera menahan pinggangnya. Jantungnya berdetak kencang, hampir copot rasanya.
Entah kali ini apa lagi yang akan terjadi padaku, gumamnya dalam hati.
Mengapa aku harus seceroboh ini?
Pria di depannya menatapnya cukup lama, seakan mengenalinya. Tiba-tiba, Zayn sudah berdiri di antara mereka, menatap tajam.
“Ingat peraturanku! Apakah kau mau coba-coba menarik perhatian tamuku?” suara Zayn dingin, menusuk, membuat Nayla tersadar. Dengan cepat, ia menjauhi pria itu dan berdiri tegak, menahan gemetar.
“Maaf, Tuan,” ujar Nayla terburu-buru, membungkukkan badannya, setelah itu segera melangkah pergi untuk menyelesaikan tugasnya sebelum kembali kena sindiran.
“Zayn, aku saja tidak marah. Mengapa kamu harus semarah itu?” ujar pria yang tadi bertabrakan dengan Nayla, setelah bayangan perempuan itu benar-benar menghilang dari ruangan.
Zayn menatap pria itu dingin.
Elvan.
Anak angkat istri pertama ayahnya. Lelaki yang dulu hampir menduduki tampuk kepemimpinan Mahendra Grup, jika saja Zayn tidak berubah drastis setelah putus dengan Nayla. Jika saja ia tidak mengubur perasaannya, lalu menenggelamkan diri dalam kerja dan proyek demi proyek hingga akhirnya mengambil alih segalanya.
“Ada apa ke sini, Kak Elvan?” tanya Zayn datar, wajahnya tak menunjukkan ketertarikan sedikit pun.
“Tentu saja membicarakan proyek yang aku urus,” jawab Elvan tenang, meski terselip sindiran.
“Bukankah semuanya tetap butuh tanda tanganmu?”
Zayn hanya mengangguk tipis.
“Serahkan saja pada Veronika. Aku akan melihatnya nanti kalau sudah senggang,” ujarnya, sama sekali tidak melirik map di tangan Elvan.
Elvan mengepalkan tangannya sesaat, lalu kembali bersikap santai. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Zayn. Ia tahu, untuk saat ini, ia kalah kuasa. Maka ia memilih mengalah, sementara.
Karena Elvan tidak pernah lupa satu hal:
dalam permainan kekuasaan, yang kalah hari ini belum tentu kalah selamanya.
Ia hanya perlu kesempatan yang tepat… untuk menyerang balik.
---------
Saat keluar dari gedung perusahaan, langkah Elvan terhenti. Pandangannya tertuju pada satu sosok perempuan yang tengah berdiri di tepi jalan, bersiap menyeberang.
Perempuan itu menunduk, membawa banyak kantong di tangannya, namun entah mengapa, Elvan merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Kok… rasanya aku pernah melihat wajah perempuan ini,” gumamnya pelan. “Di mana, ya?”
Tatapannya tidak lepas dari Nayla. Wajah itu terasa begitu familiar, seolah tersimpan di sudut ingatannya yang lama terkubur. Bukan sekadar kenal sekilas, tapi seperti seseorang yang pernah hadir dalam bagian penting hidupnya, meski ia belum mampu mengingatnya dengan jelas.
Elvan menyipitkan mata, mencoba mengais ingatan.
Siapa perempuan itu?
Dan mengapa, di saat yang sama, wajahnya tiba-tiba terlintas bersamaan dengan reaksi Zayn yang begitu tidak wajar di kantor tadi?
Tiba-tiba Elvan menepuk dahinya sendiri.
Kini ia ingat.
Ia masih mengingat jelas Zayn setelah kecelakaan itu, seperti orang gila. Pria dingin yang kehilangan kendali, hanya karena ditinggal seorang perempuan. Dan sekali waktu, Elvan pernah melihat gadis itu berdiri di sisi Zayn. Sekali saja, tapi cukup untuk melekat di ingatan siapa pun.
Wajah Nayla.
Putih bersih, cantik, polos, nyaris tanpa dosa, seperti wajah seorang bayi. Wajah yang terlalu mudah diingat.
“Yang berbeda hanya pakaiannya,” gumam Elvan pelan. “Wajah perempuan itu sama sekali tidak berubah, meski waktu sudah berlalu.”
Bayangan tubuh Nayla yang tadi sempat berada dalam pelukannya kembali terlintas. Seketika, senyum tipis mengembang di sudut bibir Elvan, senyum yang tidak lagi polos.
Siapa sangka, pikirnya.
Mungkin… perempuan itu adalah celah yang selama ini kucari.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Elvan merasa permainan kekuasaan antara dirinya dan Zayn belum benar-benar berakhir.
-------
Veronika sepertinya sengaja mengerjai Nayla. Pesanan makanan yang harus dibawanya terlalu banyak, jelas tidak masuk akal untuk dua orang saja. Nayla bukan tidak sadar akan hal itu, namun ia memilih diam.
Selama ia masih sanggup, ia akan melaksanakan semua perintah Zayn dan Veronika. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia tidak boleh.
Langkah Nayla sedikit goyah saat kantong-kantong makanan itu membebani kedua tangannya. Tepat saat itulah, seseorang berlari kecil ke arahnya.
“Aduh, banyak sekali! Ayo, kubantu!”
Sebelum Nayla sempat menolak, Elvan sudah merebut beberapa kantong dari tangannya.
“Tidak, Pak...” Nayla refleks menarik kembali, gugup. “Tidak perlu, ini tugas saya.”
Elvan terkekeh ringan, tetap berjalan di sampingnya.
“Tenang saja. Anggap saja ini balas jasa karena hampir menjatuhkanmu tadi,” ujarnya santai.
Nayla menggeleng pelan, berusaha merebut kembali kantong itu, namun Elvan terlalu sigap.
“Benar-benar tidak apa-apa, Pak. Saya bisa sendiri,” ujarnya lirih, sedikit terengah.
“Elvan,” potongnya ringan.
“Panggil saja Elvan. Dan jangan keras kepala,” lanjutnya sambil melangkah mantap.
“Kalau kau jatuh di tengah jalan, nanti aku yang disalahkan.”
Nayla kehabisan alasan. Ia menunduk, berjalan di samping Elvan dengan perasaan tidak nyaman. Ia tidak tahu apakah bantuan itu tulus… atau awal dari masalah lain.
Yang pasti, Nayla tidak menyadari satu hal:
Apapun yang dia lakukan, tetapi saja akan salah di depan Zayn dan Veronika.
--------
Pintu lift eksekutif terbuka.
Langkah Nayla terhenti sepersekian detik saat menyadari siapa yang berjalan di sampingnya. Elvan masih membawa beberapa kantong makanan, tampak santai, bahkan tersenyum kecil seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun dari balik meja kerjanya, Zayn sudah melihat semuanya.
Sejak pintu lift terbuka.
Sejak Nayla melangkah masuk… bersama Elvan.
Sorot mata Zayn mengeras. Rahangnya mengatup kuat. Ada sesuatu yang berdesir panas di dadanya, amarah yang tidak sempat disaring logika. Tangannya yang semula santai di atas meja perlahan mengepal.
Elvan melangkah lebih dulu.
“Wah, pesanan makanannya luar biasa banyak,” ujarnya ringan. “Untung aku bertemu Nayla di bawah. Kalau tidak, bisa jatuh di tangga.”
Nayla.
Nama itu meluncur begitu saja dari mulut Elvan.
Cukup.
“Letakkan di meja.”
Suara Zayn datar. Terlalu datar.
Elvan menoleh, mengangkat alis. “Santai saja, Zayn. Aku hanya membantu...”
“Aku tidak meminta bantuanmu.”
Nada suara Zayn masih rendah, tapi tajam. Udara di ruangan seolah menegang. Veronika yang baru masuk langsung menghentikan langkahnya, menyadari perubahan atmosfer yang berbahaya.
Elvan tersenyum tipis.
“Kau terlalu sensitif. Dia hanya cleaning service, kan? Aku cuma...”
Zayn berdiri.
Kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras.
“Keluar.”
Satu kata.
Tegas.
Tak terbantahkan.
Elvan menatap Zayn beberapa detik, mencoba membaca wajah adik tirinya itu. Namun yang ia temukan hanya tatapan dingin, tatapan seorang pemimpin yang sedang murka.
“Baiklah,” ujar Elvan akhirnya, meletakkan kantong terakhir di meja. “Aku tidak tahu membantu seseorang bisa menjadi kesalahan besar di sini.”
Ia berbalik, melangkah pergi, tapi sebelum pintu tertutup, ia melirik Nayla sekilas, tatapan yang penuh arti.
Begitu pintu tertutup rapat, Zayn menoleh pada Nayla.
Tatapannya tajam, gelap, dan penuh tekanan.
“Sejak kapan kau begitu akrab dengan tamuku?”
Nayla membeku. “Tidak, Tuan… saya...”
“Aku tidak memberi izin siapa pun menyentuhmu. Apalagi membawa-bawa namamu dengan bebas.”
Kata-kata itu membuat Nayla terhenyak. Ia menunduk, jantungnya berdegup keras.
“Ingat posisimu,” lanjut Zayn dingin. “Kau di sini untuk bekerja. Bukan untuk menerima perhatian. Bukan dari siapa pun.”
Nayla menggigit bibir, menahan gemetar. “Maaf, Tuan.”
Zayn menatapnya lama. Terlalu lama.
Dalam diamnya, satu hal jelas:
melihat Nayla bersama Elvan bukan hanya memicu dendam lama,
itu membangkitkan rasa memiliki yang bahkan Zayn sendiri tidak mau akui.
Dan Nayla… baru saja melangkah ke medan yang jauh lebih berbahaya dari sekadar ruang eksekutif.
Sementara Veronika yang sejak tadi memperhatikan merasa semakin tidak suka dengan Nayla.
Sejak tadi Veronika hanya berdiri di sudut ruangan, memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh perhitungan, tudak satu pun detail luput dari pengamatannya.
Cara Zayn berdiri.
Nada suaranya yang berubah.
Dan yang paling mengganggunya, kehadiran Nayla.
Perempuan itu terlalu berbahaya.
Bukan karena apa yang ia lakukan, tapi karena apa yang ia bangkitkan.
Ada sesuatu tentang Nayla yang tidak Veronika ketahui. Sesuatu yang membuat Zayn kehilangan kendali, dan Elvan berani menyindir terang-terangan. Naluri Veronika berteriak: ini bukan kebetulan.
Tangannya perlahan mengepal.
Jika perempuan ini dibiarkan terlalu lama di dekat Tuan Zayn…
Veronika menatap punggung Nayla yang menunduk, lalu beralih ke wajah Zayn yang kembali membeku. Di kepalanya, satu keputusan mulai terbentuk.
Apa pun rahasia perempuan itu,
Veronika akan menemukannya.