7. Terikat Dendam Sang CEO

1424 Words
Nayla baru bisa menarik napas lega ketika jam pulang akhirnya tiba. Rasanya ia seperti keluar dari neraka setelah seharian bekerja. Namun apa pun yang terjadi, dia harus bertahan, itu tekadnya. Jika masih ingin bekerja di tempat ini, Nayla tahu dia harus terbiasa dengan sikap Zayn dan belajar tidak memedulikannya. Menaruh perasaan hanya akan membuat segalanya semakin sulit. Dan di balik ketenangan yang ia paksakan, sebuah rencana perlahan mulai terbentuk di kepalanya. Dia akan bertahan untuk sementara, hanya sampai menemukan pekerjaan lain. Nayla sadar, mencari pekerjaan bukanlah hal mudah baginya. Apalagi untuk gaji sebesar yang dia dapatkan dari perusahaan Zayn. Dengan pendidikan yang hanya sampai tingkat menengah atas, peluangnya jauh lebih kecil, bahkan mereka yang bergelar sarjana pun belum tentu mudah mendapatkan pekerjaan di zaman seperti ini. Karena itu, untuk sekarang, dia harus bertahan. Apa pun yang terjadi. Ini belum seberapa, batinnya lirih. Pikirannya melayang ke masa lalu, masa ketika dia mengandung Rian. Morning sickness yang begitu hebat membuat tubuhnya lemas hampir setiap hari. Muntah, pusing, tidak sanggup mencium aroma apa pun. Semua itu dia jalani sendirian. Tanpa suami. Tanpa bahu untuk bersandar. Bahkan untuk sekadar mengeluh pun, dia harus menahan diri. Saat itu, hanya ibunya yang menjadi sandaran. Perempuan tua itu masih memiliki sedikit tabungan, cukup untuk bertahan hidup berdua. Nayla tahu betul, setiap rupiah yang dikeluarkan ibunya adalah hasil dari pengorbanan panjang. Karena itu, dia menahan segalanya. Menahan rasa ngidam saat ingin makan sesuatu. Menahan keinginan membeli hal kecil yang seharusnya bisa membuatnya bahagia. Menahan air mata setiap kali melihat ibunya menghitung uang dengan wajah cemas. Belum lagi tatapan tetangga. Tatapan penuh bisik-bisik dan penghakiman ketika mereka tahu dia hamil tanpa suami. Seolah kesalahannya adalah dosa yang pantas diumbar. Nayla menunduk setiap kali berpapasan, berpura-pura tidak mendengar, berpura-pura kuat. Untung masih ada Rita, batinnya. Satu-satunya orang yang tidak memandangnya dengan hina. Satu-satunya yang masih menganggapnya manusia. Semua itu saja berhasil dia lalui. Nayla mengepalkan tangannya perlahan. Kalau aku bisa bertahan di masa itu… mengapa aku harus gentar sekarang? Hanya karena hinaan? Hanya karena diperlakukan rendah? Tidak. Ini belum seberapa dibandingkan neraka yang pernah ia lewati. Dia akan bertahan. Untuk Rian. Untuk ibunya. Untuk dirinya sendiri. Apa pun yang terjadi. Nayla akan mengeluarkan jurusnya yang paling ampuh, menebalkan muka dan menulikan telinga. Selama belum dipecat, atau sebelum dia mendapatkan tempat kerja baru, dia tidak akan pergi dari perusahaan ini. Apa pun kata mereka. Apa pun hinaannya. Dia akan datang bekerja, membersihkan ruangan, menunduk, lalu pulang. Tanpa berharap apa pun. Tanpa memberi celah pada luka lama untuk terbuka lebih lebar. Ini bukan soal harga diri lagi, ini soal bertahan hidup. Dan Nayla sudah terlalu terlatih untuk itu. --------- “Nay!” Suara panggilan itu menyadarkan Nayla dari lamunannya. “Sudah selesai?” tanya Rita. “Sudah, Rit,” jawab Nayla. Wajahnya terlihat lesu, kelelahan yang tidak sempat ia sembunyikan. Rita menatapnya dengan iba. “Kau kelihatan capek sekali, Nay. Apa kerja di sana lebih berat dari biasanya? Kupikir di tempat eksklusif malah lebih santai.” Nayla tersenyum tipis, senyum yang sengaja ia paksakan. “Sama saja bagiku, Rit. Untuk orang sepertiku, kerja di mana pun tetap kerja. Yang penting tiap bulan gajian lancar.” Rita menghela napas pelan. “Aku salut padamu, Nay. Tubuhmu kecil, tapi hatimu kuat.” Ia lalu tersenyum lembut. “Ayo kita jalan sambil ngobrol. Pasti Rian sudah menunggumu. Kasihan anak itu.” Nayla mengangguk dan mengikuti langkah Rita. Begitu nama Rian disebut, ada sesuatu yang hangat mengalir di dadanya. Rasa lelah yang tadi menekan bahunya perlahan memudar. Untuk anak itu, untuk satu-satunya alasan ia masih bertahan, Nayla merasa ia selalu punya tenaga lebih, meski dunia seolah tak pernah memberinya jeda. -------- "Kau pulang dulu.” Suara Zayn terdengar tiba-tiba, dingin dan tanpa celah untuk ditawar. Veronika menoleh, jelas terkejut. Biasanya mereka selalu berjalan bersama hingga ke area parkir. Bahkan posisi mobil mereka bersebelahan, kebiasaan yang tak pernah berubah sejak Zayn resmi memegang kendali perusahaan. “Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa menung...” “Tidak perlu.” Potongan kalimat itu tajam, tegas, dan final. Veronika terdiam. Wajah Zayn tidak menunjukkan sedikit pun ruang untuk bantahan. Tatapan dingin itu membuatnya memilih diam, meski rasa penasaran menggerogoti dadanya. Ada sesuatu yang jelas-jelas sedang direncanakan Zayn, dan untuk pertama kalinya… dia dikeluarkan dari lingkaran itu. Dengan langkah terpaksa, Veronika meninggalkan lobby. Ia tidak berani menoleh lagi. Ia tahu, satu kesalahan kecil saja bisa membuat Zayn semakin murka. Begitu bayangan Veronika menghilang di balik pintu kaca, Zayn berbalik arah. Ia tidak menuju ruangannya. Langkahnya justru membawa Zayn ke koridor lain,koridor yang jarang ia lewati sepulang kerja. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya, jarum menit bergerak pelan, seolah sengaja menguji kesabarannya. Masih ada waktu. Zayn mempercepat langkah menuju ruang HRD. Dalam hati, ia berharap satu hal: kepala HRD itu… belum pulang. Saat Zayn tiba-tiba berdiri di depan ruangan itu, Pak Hidayat, kepala HRD baru saja mengunci pintu dan bersiap pulang. Lelaki berusia sekitar lima puluh tahun itu refleks terhenti. Begitu mengenali sosok di hadapannya, ia segera mengangguk hormat. “Ada yang ingin saya tanyakan,” ujar Zayn singkat. Nada itu cukup membuat Pak Hidayat buru-buru membuka kembali pintu ruangannya. Tanpa banyak bicara, ia mempersilakan Zayn masuk. “Bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya hati-hati. “Saya ingin melihat data Nayla.” Pak Hidayat mengerutkan kening. Nama itu bukan nama besar, bukan pula staf penting. Namun dalam hitungan detik, ia teringat perintah mutasi yang turun mendadak siang kemaren.perintah yang datang langsung dari atas, tanpa penjelasan. Padahal Nayla masih baru, belum sebulan bekerja di perusahaan Mahendra Grup. “Yang… bagian cleaning service?” tanya pak Hidayat memastikan lagi. “Ya.” Jawaban Zayn pendek, tegas, dan tidak membuka ruang diskusi. Pak Hidayat menelan ludah. Ada sesuatu yang terasa janggal. Sejak kapan CEO turun tangan langsung mengurusi berkas pegawai level paling bawah? Namun pengalaman bertahun-tahun mengajarinya satu hal: rasa ingin tahu di perusahaan ini bisa berujung bahaya. “Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar.” Ia segera menuju lemari arsip, membuka laci berlabel Outsourcing & Support Staff. Jarinya bergerak cepat, namun pikirannya bekerja lebih cepat lagi. Perempuan itu… sebenarnya siapa? Beberapa saat kemudian, sebuah map cokelat tipis berada di tangan Pak Hidayat. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Zayn. “Ini data lengkapnya, Tuan.” Zayn menatap map itu tanpa segera menyentuhnya. Tatapannya tajam, seolah berkas sederhana itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar riwayat kerja seorang cleaning service. Dan di saat itulah, sebuah rencana mulai terbentuk dengan sangat jelas di benaknya. ------ Zayn masih ingat Nayla yang dulu. Perempuan itu lembut, terlalu lembut untuk dunia yang keras. Mudah takut, mudah terluka. Justru itu yang dulu selalu memancing nalurinya untuk melindungi dan sekarang menjadi sesuatu yang ingin ia hancurkan. Ia sempat berpikir Nayla akan menyerah. Berhenti kerja. Pergi. Menghilang lagi dari hidupnya. Kalau dia terus-menerus memberi tugas yang tidak masuk akal. Dan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Bukan karena peduli, Zayn menolak menyebutnya begitu, melainkan karena dendamnya belum tuntas. Ia belum melihat Nayla benar-benar kalah. Ia belum puas. Dia tidak boleh pergi. Belum. Ada sesuatu yang ingin ia lakukan. Cara untuk mengikat Nayla agar tetap berada dalam jangkauannya. Cara agar perempuan itu tidak punya pilihan selain bertahan… di hadapannya. Namun saat matanya terus menelusuri data di map cokelat itu, langkah pikirannya mendadak terhenti. Status keluarga: Memiliki satu anak. Tangan Zayn langsung mengepal keras. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menegang. “Anak…?” gumamnya lirih, nyaris tidak terdengar. Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang berat. Bukan sakit. melainkan kemarahan yang pekat dan mendidih. Setelah menghancurkan aku… setelah pergi begitu saja… dengan tenangnya dia bisa membangun hidup baru? Matanya bergerak cepat ke baris berikutnya, mencari satu nama yang tidak ingin ia temukan, namun sekaligus ingin ia hancurkan. Nama suami. Namun yang muncul justru keterangan lain. Singkat. Dingin. Terlalu sederhana. Ibu tunggal. Zayn terdiam beberapa detik. Bibirnya kemudian melengkung tipis, membentuk senyum dingin yang sama sekali tidak menyentuh matanya. Siapa yang bisa bertahan dengan perempuan tidak setia? batinnya sinis. “Menarik,” gumamnya pelan. Tatapan Zayn kembali turun ke data pekerjaan Nayla. Posisi: cleaning service. Penghasilan: minim. Jam kerja: panjang. “Kalau memang hidupmu baik-baik saja,” katanya lirih, penuh sindiran, “kenapa kau masih harus membersihkan lantai orang lain, Nayla?” Ia menutup map itu perlahan, seolah mengakhiri satu bab dan membuka bab baru yang jauh lebih kejam. Punya anak berarti punya kelemahan. Kini ia mengerti mengapa Nayla bertahan. Mengapa perempuan itu menelan semua penghinaan tanpa melawan. Namun itu belum cukup. Dia tetap tidak boleh pergi dari perusahaan ini sesuka hatinya. Dan Zayn Mahendra tahu betul, bagaimana cara paling efektif untuk mengikat seseorang .... Bersambung............
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD