Di saat yang sama, Lampu-lampu kristal di mansion Mahendra menyala terang, tapi tidak satu pun yang mampu mengusir dingin yang mengendap di dalamnya. Zayn duduk sendirian di ruang makan panjang, meja yang seharusnya cukup untuk belasan orang, kini hanya berisi satu piring yang nyaris tak tersentuh. Ia menatap makanan itu lama. Tidak ada rasa. Entah kenapa, bayangan Nayla kembali muncul tanpa izin. Wajahnya yang menunduk. Cara ia patuh tanpa melawan. Tatapan tenang yang tidak lagi menyisakan cinta… atau kebencian. Lalu data itu kembali terlintas di kepalanya. Ibu tunggal. Memiliki satu anak. Rahang Zayn mengeras. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Berani sekali…” gumamnya pelan. Ia tidak tahu kepada siapa amarah itu ditujukan. Kepada Nayla? Kepada lelaki yang seharusnya menjadi

