Hari sudah begitu malam, namun perasaan Nayla tidak tenang.
Entah mengapa dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menggantung dan tidak mau jatuh. Berkali-kali ia menarik napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Ia masih punya pekerjaan. Ia masih bisa membawa pulang uang untuk Rian. Itu sudah lebih dari cukup.
Namun kegelisahan itu tidak pergi.
Nayla duduk di tepi ranjang sempit, menatap dinding yang mulai mengelupas. Pikirannya melayang pada lorong lantai tiga belas, pada tatapan dingin Zayn yang tidak lagi ia kenal. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada kata-kata kasar. Justru itu yang membuatnya takut.
Zayn terlalu tenang.
Dan ketenangan itu terasa berbahaya.
Nayla memeluk tubuhnya sendiri. Ada firasat aneh yang merayap, seolah hari ini bukan akhir dari apa pun, melainkan awal dari sesuatu yang lebih rumit. Sesuatu yang akan menyeretnya lebih dalam, ke masa lalu yang mati-matian ia kubur.
Ia melirik ke arah Rian yang tertidur pulas. Wajah kecil itu membuat dadanya menghangat sekaligus perih.
“Apa pun yang terjadi, Ibu harus bertahan,” bisiknya lirih.
Namun jauh di dalam hatinya, Nayla tahu…
ketika ia kembali melangkah ke gedung itu esok hari, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
-------
“Kau kenapa, Nay?” tanya sang ibu cemas.
“Wajahmu pucat. Kalau sakit, jangan berangkat dulu.”
Rian yang duduk di sampingnya ikut menatap Nayla dengan mata polosnya.
“Iya, Ma. Mama istirahat aja,” dukungnya lirih.
Nayla berusaha tersenyum, menatap dua orang yang menjadi alasan terkuatnya untuk bertahan.
“Tidak bisa, Bu… Rian,” ujarnya pelan. “Mama baru bekerja, belum genap sebulan. Kalau sering izin, Mama bisa dipecat.”
Ia lalu mengalihkan pandangan, mencoba terdengar meyakinkan.
“Jangan khawatir. Kemarin Mama cuma susah tidur. Mungkin karena cuaca panas.”
Sang ibu menatapnya beberapa detik, seolah tahu Nayla sedang menyembunyikan sesuatu. Namun akhirnya ia memilih diam. Tidak bertanya lebih jauh.
Tidak lama setelah mereka selesai makan, suara seseorang terdengar memanggil dari luar.
“Nay! Ayo berangkat,” seru Rita, teman yang dulu mengenalkan Nayla pada pekerjaan di perusahaan itu.
Dengan tergesa, Nayla bangkit. Ia menghampiri ibunya, lalu mengecup pipi Rian dengan penuh sayang.
“Mama berangkat dulu, ya,” katanya lembut. “Di sekolah jangan nakal.”
Rian mengangguk patuh.
Saat melangkah pergi, Nayla sempat menarik napas panjang. Dalam hati, ia bersyukur karena ibunya memilih bertahan bersamanya dulu. Setidaknya, saat ia harus bekerja keras di luar sana, masih ada tangan yang menjaga Rian di rumah.
Tanpa itu… ia tak tahu bagaimana hidupnya akan bertahan.
----------
Sepanjang perjalanan, Rita beberapa kali melirik ke arah Nayla. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Biasanya, Nayla selalu bercerita, tentang lelahnya, tentang Rian, tentang kekhawatirannya sebagai ibu tunggal. Tapi pagi ini, Nayla terlalu diam.
Diam yang mengganggu.
Ingatan Rita melayang ke obrolannya kemarin dengan salah satu karyawan lain.
“Rit, teman yang kamu bawa kerja ke sini kayaknya bakal kena masalah.”
“Apa maksudmu?” tanya Rita, kaget.
Ia selalu merasa kasihan pada Nayla, perempuan itu sudah cukup terbebani hidup.
“Katanya dia tidak sengaja nabrak bos kita. Kamu tahu sendiri, CEO kita terkenal dingin. Untung fasilitas perusahaan kita bagus, kalau tidak… belum tentu ada yang bisa bertahan. Belum lagi Bu Veronika marah besar. Jujur saja, aku ragu temanmu bisa lama di sini. Bisa-bisa dipecat.”
Sejak mendengar itu, d**a Rita terasa tidak enak. Namun ia tidak berani menanyakan langsung pada Nayla. Ia takut, satu pertanyaan saja bisa membuat Nayla malu dan sedih.
Tapi kenyataannya, pagi ini Nayla tetap berangkat kerja.
Berarti ia belum dipecat…
atau justru belum?
Nayla terdiam sejenak, menimbang kata-kata. Ia harus berhati-hati. Sedikit saja salah bicara, Rita bisa mencurigai sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Gosip memang cepat menyebar, seperti api.
Dan ini bukan gosip biasa. Ini menyangkut CEO perusahaan mereka. Wajar jika semua mata tertuju padanya.
“Iya, Rit,” akhirnya Nayla bicara.
“Kemarin aku terlalu senang karena sudah mau jam pulang. Aku mikir mau cepat ketemu Rian, jadi nggak fokus… sampai nggak sengaja nabrak Tuan CEO.”
Rita langsung menoleh penuh perhatian.
“Terus? Apa yang terjadi? Kok kamu nggak bilang-bilang?”
“Kejadiannya sudah menjelang pulang,” jawab Nayla pelan.
“Aku pikir hari ini baru mau cerita. Eh… kamu sudah tanya duluan.”
Rita menggigit bibirnya.
“Tapi… kamu nggak diberhentikan, kan?”
Nayla menggeleng.
“Awalnya aku diancam sekretarisnya. Bu Veronika kelihatan sangat marah. Tapi… Tuan CEO tidak mengizinkan aku dipecat.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih lirih,
“Jujur saja, aku malah jadi cemas, Rit. Semalaman aku nggak bisa tidur. Menurutmu… apa yang bakal terjadi kalau aku tiba-tiba dipindahkan?”
“Hah? Dipindahkan?” Rita mengernyit.
“Bagus dong, Nay. Daripada langsung dipecat.”
Lalu ia mendekat sedikit, merendahkan suara.
“Soalnya, menurutku Bu Veronika dan Tuan Zayn itu nggak jauh beda. Sama-sama tegas dan agak… kejam.”
Rita cepat-cepat menambahkan,
“Tapi ini cuma pendapat pribadiku, ya. Jangan terlalu dipikirin.”
Nayla hanya tersenyum tipis.
Entah kenapa, kata-kata itu sama sekali tidak menenangkannya.
Beberapa saat mereka terdiam, hingga tiba-tiba Rita menyadari sesuatu yang terasa janggal.
Sejak kapan Tuan CEO mereka yang terkenal dingin dan menjaga jarak ikut campur mengurus seorang cleaning service? Biasanya, urusan pegawai sepenuhnya diserahkan pada HRD atau sekretarisnya. Apalagi Veronika adalah orang kepercayaan Zayn, sosok yang bahkan pihak HRD pun sangat menghormatinya.
Rita kembali menatap wajah Nayla.
Entah mengapa, sejak pertama mengenalnya, Rita langsung menyukai perempuan itu. Wajah Nayla cantik, polos, dan imut, terlalu lembut untuk dunia yang keras. Masih seperti anak sekolah, dengan tatapan yang mudah mengundang iba. Terlebih setelah Rita tahu Nayla adalah ibu tunggal yang hanya hidup bersama ibunya dan seorang anak kecil.
Apa mungkin Tuan Zayn juga merasa kasihan… seperti aku?
Tidak tega melihat wajah Nayla yang tampak tidak berdosa?
Rita berharap begitu.
“Memangnya kamu dihukum dan dipindahkan ke bagian mana, Nay?” tanyanya kemudian.
“Bagian toilet, ya? Tenang aja, nanti aku bantu.”
Ia sudah membayangkan Nayla ditempatkan di bagian yang paling tidak disukai para cleaning service, hukuman halus yang biasa.
Nayla menggeleng pelan.
“Ehm… bukan, Rit.”
Ia menelan ludah, suaranya terdengar murung.
“Aku dipindahkan ke bagian eksekutif. Langsung… di bawah Tuan CEO.”
Rita membelalak.
“Apa?!”
Bukannya dihukum, kok malah naik tingkat?
Logika itu sama sekali tidak masuk akal baginya.
Rita tentu tidak tahu, bahwa itu bukan kebaikan.
Bukan pula belas kasihan.
Itu adalah rencana Zayn.
Rencana untuk menahan Nayla di bawah kendalinya, agar perempuan itu tidak bisa lari… dan tidak bisa bernapas lega lagi.
Dan yang Rita tahu hanya satu hal:
mengapa seorang CEO dingin bisa begitu “baik” pada seorang cleaning service, bahkan karyawan baru?
Pertanyaan itu menggantung, tanpa jawaban.
Untung saja, tidak lama kemudian kendaraan yang mereka tumpangi tiba di depan perusahaan. Nayla menarik napas lega. Setidaknya, Rita tidak sempat bertanya lebih jauh. Bukan karena enggan menjawab, melainkan karena Nayla sendiri tidak tahu harus berkata apa. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Zayn. Namun satu hal ia sadari dengan jelas, apa pun itu, bukan sesuatu yang menyenangkan.
Bersambung............