3. Ambisi Seorang Ibu

1423 Words
“Sudah jam pulang, Tuan Zayn,” ujar Veronika, sekretaris setia Zayn, dengan suara hati-hati. Ia berdiri di depan meja kerja itu sambil memperhatikan ekspresi atasannya. Sejak kejadian di lorong sore tadi, Veronika bisa merasakan ada sesuatu yang berubah. Aura Zayn terasa lebih dingin dari biasanya. Lebih gelap. Veronika curiga. Namun ia cukup pintar untuk tidak bertanya langsung. Zayn tidak pernah menyukai orang yang mencampuri urusan pribadinya. Maka ia memilih memancing. “Maaf, Tuan,” lanjutnya pelan, seolah ragu, “apakah Tuan benar-benar yakin tidak akan memberhentikan cleaning service yang tadi?” Zayn tidak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk menutup map laporan di hadapannya. Veronika melanjutkan, nada suaranya dibuat seolah penuh kekhawatiran. “Menurut saya, kinerjanya sangat tidak profesional. Bahkan berbahaya. Saya sampai curiga… jangan-jangan dia punya maksud tertentu.” Zayn akhirnya mengangkat pandangan. “Maksud tertentu seperti apa?” tanyanya dingin. Veronika menelan ludah. “Entahlah, Tuan. Bisa saja dia sengaja mencari perhatian. Atau…” ia berhenti sejenak, lalu berkata lebih pelan, “ingin mencelakai Tuan. Kita tidak pernah tahu niat orang-orang seperti itu.” Hening. Beberapa detik terasa begitu panjang. Zayn bersandar di kursinya, bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, melainkan ekspresi yang membuat Veronika tidak nyaman. “Tenang saja,” ujar Zayn akhirnya. “Dia tidak akan pergi ke mana-mana.” Veronika terkejut. “Maksud Tuan?” Zayn bangkit berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan tenang. Tatapannya dingin, penuh kendali. “Justru aku ingin dia tetap di sini,” katanya pelan namun tegas. “Di tempat yang bisa kulihat setiap hari.” Veronika terdiam. Ada sesuatu dalam suara Zayn yang membuat bulu kuduknya meremang. “Kalau memang dia punya maksud,” lanjut Zayn datar, “aku akan jadi orang pertama yang mengetahuinya.” Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Dan satu lagi,” tambahnya tanpa menoleh. “Jangan sentuh dia tanpa perintahku.” Veronika membeku. “Baik, Tuan,” jawabnya akhirnya, meski hatinya dipenuhi tanda tanya dan kecemburuan yang mulai tumbuh. Karena kini ia yakin… cleaning service bernama Nayla itu bukan sekadar karyawan biasa bagi Zayn. -------- Mobil hitam itu melaju memasuki halaman mansion dengan kecepatan yang tidak biasa. Ban berhenti mendadak di depan pintu utama, membuat sopir refleks menahan napas. Zayn turun tanpa menunggu pintu dibukakan. “Pergi,” katanya singkat. Lampu-lampu mansion menyala terang, tetapi tidak satu pun mampu mengusir dingin yang merayap di dadanya. Sepi. Luas. Kosong. Seperti dirinya sejak hari itu. Zayn melepas jasnya dengan kasar, melemparkannya ke sofa. Langkahnya berat namun tegas menyusuri ruangan besar yang terasa lebih seperti penjara daripada rumah. Wajah itu kembali muncul di benaknya. Nayla. Wajah polos. Tatapan menunduk. Suara lembut yang dulu pernah memanggil namanya dengan penuh cinta dan hari ini muncul lagi, seolah tidak pernah menghancurkannya. “Perempuan munafik…” gumamnya pelan. Zayn berdiri di depan jendela besar, menatap gelap malam. Tangannya mengepal. Mansion itu selalu menyambutnya dengan sunyi yang menyesakkan. Tidak ada suara selain langkah kakinya sendiri yang menggema di lantai marmer. Para pelayan tidak ada yang berani mendekat jika tidak dipanggil. Zayn berhenti di tengah ruang tamu. Rahangnya mengeras. Perasaan itu masih ada. Marah. Terhina. Dan… tidak terima. Ia tidak lagi mengingat masa lalu. Tidak. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah satu hal: Nayla ada di wilayah kekuasaannya. Perempuan yang dulu dengan mudah membuangnya kini berada di bawah satu tanda tangannya. Zayn meraih ponselnya, menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. “Besok pagi,” ucapnya singkat saat panggilan tersambung. “Saya ingin laporan lengkap tentang cleaning service bernama Nayla. Riwayat kerja. Jam. Penempatan. Semua.” Tanpa menunggu jawaban, ia memutus sambungan. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, melainkan garis keras penuh perhitungan. “Kau akan bertahan,” gumamnya dingin. “Karena kau butuh uang. Dan aku… akan memastikan itu.” Sementara di sisi lain kota, Nayla duduk di tepi ranjang sempit, memeluk lututnya sendiri. Ia belum tahu bahwa hari ini bukan sekadar pertemuan tidak sengaja. Itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih kejam. -------- Zayn duduk di bar kecil di dalam mansionnya, tempat favoritnya. Satu-satunya sudut rumah yang memberinya ilusi tenang. Di sanalah ia biasa menenggelamkan semua luka hatinya, meski hanya sementara. Menukar rasa sakit dengan cairan pahit yang membakar tenggorokan, berharap perih itu cukup untuk meredam ingatan yang terus kembali. Namun malam ini, bahkan alkohol pun tak mampu membuatnya lupa. Ibu Zayn, Warni, langsung menarik gelas dari tangan putranya. “Cukup, Zayn,” tegurnya tegas. “Ada apa? Kenapa kau minum sebanyak ini lagi? Jaga kesehatanmu!” Zayn mengangkat wajahnya perlahan. Perempuan di hadapannya adalah ibunya. Perempuan yang membesarkannya. Sekaligus perempuan yang mengajarinya cara tidak runtuh, meski harus mengeraskan hati sendiri. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” Warni menghela napas. “Aku hanya tidak ingin melihatmu hancur karena perempuan yang tidak menganggapmu apa-apa.” Kata-kata itu kembali terngiang jelas di kepala Zayn. Kata-kata yang dulu diucapkan ibunya di rumah sakit, saat kakinya belum bisa menopang tubuhnya sendiri. Kau harus lebih kuat dari dia. Kalau dia bisa menganggap hubungan kalian tidak berarti, kenapa kamu tidak? Zayn menunduk. Rahangnya mengeras. Sejak saat itu, ia berhenti mengeluh. Berhenti berharap. Berhenti menjadi Zayn yang lembut dan mudah percaya. Ia membangun dirinya dari rasa sakit, menjadikannya ambisi, menjadikannya kekuasaan. Dan kini… perempuan itu kembali. Zayn meraih kembali gelasnya, menggenggamnya erat tanpa diminum. “Aku sudah kuat, Bu,” ucapnya dingin. “Terlalu kuat untuk disakiti lagi.” Warni terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa… mungkin ia telah menciptakan monster dari luka anaknya sendiri. Warni menyadari betul bahwa Zayn telah berubah. Sangat berubah. Sejak kecelakaan itu, sejak hari Nayla meninggalkan Zayn di saat putranya paling rapuh, sesuatu di dalam diri Zayn seolah mati dan digantikan oleh sosok lain yang lebih keras, lebih dingin, lebih berbahaya. Warni bukan tidak tahu penyebabnya. Ia tahu. Bahkan… ia ikut andil di dalamnya. Zayn dulu adalah pria yang lembut. Terlalu lembut, menurut Warni. Ia sabar, romantis, dan tidak pernah berambisi lebih dari sekadar hidup bahagia. Matanya selalu penuh cinta, terutama setiap kali menatap Nayla. Dan justru itulah yang Warni benci. Sejak menjadi istri kedua di keluarga Mahendra, Warni hidup dengan kepala tertunduk. Ia belajar tersenyum saat dihina, belajar diam saat disindir, belajar menerima kenyataan bahwa istri pertama selalu berada di posisi lebih tinggi. Tidak pernah membalas, tidak pernah melawan. Namun di dadanya, ambisi itu tumbuh diam-diam. Istri pertama tidak memiliki anak kandung. Ia hanya mengangkat anak dari saudaranya. Sedangkan Warni… punya Zayn. Ia ingin warisan itu jatuh ke tangan anaknya. Ia ingin Zayn menjadi penguasa Mahendra Group, agar tidak ada lagi yang berani merendahkannya. Dan jika harga yang harus dibayar adalah patahnya hati Zayn, maka itu harga yang pantas, menurutnya. Jika Zayn tetap lembut, tetap hidup dalam cinta, tetap menjadikan Nayla pusat dunianya, maka semua itu tidak akan pernah menjadi milik mereka. Dan benar saja. Sejak patah hati, Zayn berhenti hidup untuk perasaan. Ia hanya bekerja. Menumpahkan seluruh rasa sakitnya pada ambisi. Hingga akhirnya, sang ayah menyerahkan tampuk kepemimpinan ke tangannya, bukan karena belas kasihan, tetapi karena kemampuan. Warni menang. Setelah ayah Zayn meninggal, posisi itu resmi menjadi milik Zayn. Pemimpin keluarga Mahendra yang ditakuti, dihormati, dan tidak tersentuh. Istri pertama kehilangan kekuasaan. Anak angkat yang diandalkan akhirnya tersingkir. Hubungan darah memang lebih kental. Namun untuk mencapai itu, pengorbanannya tidak kecil. Zayn harus kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar ia cintai. Perempuan yang hanya akan menghalang kemajuan Zayn. Warni menatap punggung putranya malam itu, tanpa rasa sesal. Menurutnya, cinta bisa dicari lagi. Tapi kekuasaan… hanya datang sekali. Dan jika harus membayar dengan patahnya hati anak sendiri, itu adalah harga yang pantas. Bagi Warni, Nayla sama sekali tidak pantas berdampingan dengan Zayn. Putranya bukan diciptakan untuk hidup sederhana, apalagi terikat pada perempuan yang kelak hanya akan menjadi beban. Zayn telah ia siapkan sejak lama-dibentuk, diarahkan, dan didorong untuk menduduki tampuk kepemimpinan keluarga Mahendra. Dan untuk posisi itu, pasangan hidupnya pun harus memenuhi syarat: berkelas, berpengaruh, dan tidak membawa masa lalu yang memalukan. Warni tahu betul latar belakang Nayla. Dan justru itulah alasan ia tidak pernah ragu menyingkirkannya. Meski nasib ibu Nayla tampak mirip dengannya di mata orang luar, Warni menolak disamakan. Ibu Nayla hanyalah pembantu rumah tangga yang terpaksa dinikahi karena kehamilan. Sementara dirinya… adalah perempuan yang dipilih karena mampu memberikan seorang penerus berdarah Mahendra. Perbedaannya bukan soal status semata, melainkan nilai. Warni tidak peduli jika Nayla benar-benar mencintai Zayn. Cinta adalah kelemahan. Dan kelemahan tidak punya tempat dalam perebutan kekuasaan. Jika Zayn harus patah hati, itu demi masa depannya. Jika Nayla harus tersingkir, itu sekadar konsekuensi. Warni tidak merasa bersalah. Baginya, seorang ibu yang baik bukan yang melindungi perasaan anaknya, melainkan yang memastikan anaknya berdiri paling tinggi, meski harus menginjak orang lain. Bersambung........
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD