2. Wajah Polos yang Menipu

1338 Words
Langkah Nayla terasa berat saat ia meninggalkan gedung megah itu. Langit sore menggantung kelabu, seolah ikut memantulkan perasaannya. Di dalam angkutan yang membawanya pulang, Nayla menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya kacau. Dadanya sesak. Wajah Zayn yang dingin tadi siang terus terbayang, seperti bayangan yang menolak pergi. Tanpa sadar, ingatannya melayang ke masa lalu. Zayn yang dulu… sangat berbeda. Ia bukan pria dingin dan arogan seperti sekarang. Zayn yang Nayla kenal adalah sosok hangat, ramah, dan selalu penuh perhatian, terutama padanya. Senyumnya mudah, tawanya tulus, dan caranya memandang Nayla selalu membuatnya merasa berarti. Merasa begitu dicintai. Zayn mencintainya. Dengan cara yang polos dan penuh keyakinan. Dan Nayla… sangat bahagia kala itu. Mereka masih terlalu muda. Terlalu percaya bahwa cinta saja sudah cukup untuk melawan dunia. Terlalu larut dalam perasaan, hingga Nayla mengira menyerahkan jiwa dan raganya adalah bentuk cinta paling tulus yang bisa ia berikan. Hubungan itu melewati batas yang tidak seharusnya mereka langgar. Dan semuanya runtuh ketika Nayla mendapati dirinya hamil, tepat di saat ia bersiap mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Cinta yang dulu terasa begitu indah, mendadak berubah menjadi ketakutan. Apalagi ketika dia tidak bisa meminta tanggung jawab Zayn yang baru saja mengalami kecelakaan. Semua masa depannya, cita-citanya berubah sejak saat itu. Hubungan mereka sebenarnya bermula dari rasa senasib. Ibu Zayn dan ibu Nayla sama-sama istri kedua. Sama-sama hidup di balik bayang-bayang perempuan lain. Ibu Nayla hanyalah seorang asisten rumah tangga. Ia dinikahi tuannya setelah hamil. Namun pernikahan itu tidak pernah memberinya ketenangan. Hidup dalam keluarga seperti itu berarti hidup dalam hinaan yang tidak pernah selesai. Dan ketika Nayla hamil… Kehamilan itu dijadikan alasan. Istri pertama ayahnya menggunakan kesalahan Nayla sebagai senjata. Tanpa belas kasihan, Nayla diusir dari rumah. Dianggap memalukan nama keluarga. Sejak hari itu, Nayla belajar satu hal- cinta tidak selalu mampu menyelamatkan seseorang. ------- Angkutan berhenti. Nayla tersentak dari lamunannya. Ia turun, melangkah pulang dengan bahu menunduk. Masa lalu itu seharusnya terkubur. Namun kini, takdir justru mempertemukannya kembali dengan pria yang pernah ia cintai… dan dengan luka yang belum sempat sembuh. Sang ibu, Astuti, menyambut kepulangan Nayla di depan rumah sempit mereka sambil menggandeng Rian, anak laki-laki kecil yang kini telah berusia lima tahun. “Mama!” seru Rian ceria begitu melihat ibunya. Nayla memaksa tersenyum. Ia berjongkok, membuka tangan, lalu memeluk anak itu erat. Kehangatan tubuh kecil itu selalu menjadi alasan terkuatnya untuk bertahan dalam kehidupan yang terasa semakin berat dari hari ke hari. Astuti menatap putrinya penuh selidik. Ia tahu senyum itu dipaksakan, namun memilih diam. Sejak lama, mereka sudah terbiasa menyimpan luka masing-masing. Saat itu, lima tahun lalu, Astuti memilih pergi bersama Nayla, meninggalkan keluarga Sadewa dan segala kemewahannya. Ia tidak sanggup melihat putrinya yang masih begitu muda diperlakukan seperti aib. Astuti lebih memilih hidup sederhana, meski harus memulai dari nol, daripada membiarkan Nayla menanggung hinaan sendirian. “Masuk dulu,” ujar Astuti lembut. “Kau pasti lelah.” Nayla mengangguk pelan. Ia menggenggam tangan Rian, melangkah masuk ke rumah yang sempit, namun penuh kehangatan, satu-satunya tempat di mana ia masih merasa diterima. Di sanalah Nayla menyembunyikan seluruh air mata, kelelahan, dan ketakutannya. Karena selama Rian tersenyum… selama ibunya masih berdiri di sisinya… Nayla tahu, ia tidak boleh menyerah. Nayla berjongkok di hadapan Rian, mengusap rambut anak itu yang sedikit berantakan. “Rian sudah makan?” tanyanya lembut. Rian mengangguk cepat. “Sudah. Tapi Rian nunggu Mama pulang.” Hati Nayla terasa menghangat. Ia tersenyum, kali ini lebih tulus. “Kenapa nunggu?” “Soalnya Mama pasti capek,” jawab Rian polos. “Rian mau peluk Mama biar capeknya pergi.” Tanpa menunggu jawaban, Rian memeluk leher Nayla erat. Tubuh kecil itu hangat, napasnya teratur, seolah dunia tidak pernah kejam padanya. Nayla memejamkan mata. “Kalau Mama capek, Rian tetap sayang?” “Sayang banget,” sahut Rian mantap. “Rian kan anak Mama.” Air mata Nayla nyaris jatuh. Ia mengusap punggung anak itu perlahan. “Maaf ya, Mama sering pulang malam.” Rian menggeleng. “Nggak apa-apa. Kata Nenek, Mama kerja buat Rian.” Nayla tertawa kecil, meski suaranya bergetar. “Iya. Mama kerja supaya Rian bisa sekolah tinggi.” Rian menatapnya dengan mata berbinar. “Nanti kalau Rian sudah besar, Rian yang kerja. Mama nggak usah capek lagi.” Kalimat sederhana itu menghantam hati Nayla lebih kuat dari apa pun yang ia alami hari ini. Ia memeluk Rian kembali, lebih erat. “Iya,” bisiknya lirih. “Mama tunggu hari itu.” Dan di saat itulah Nayla tahu, selama ada pelukan kecil ini, ia akan sanggup menghadapi siapa pun. Termasuk mantan kekasih yang kini menjelma menjadi CEO arogan di tempatnya bekerja. -------- Saat Rian akhirnya tertidur, napas kecilnya terdengar teratur. Tangan mungil itu masih menggenggam ujung baju Nayla, seolah takut ibunya menghilang begitu saja. Nayla menunggu beberapa saat, memastikan putranya benar-benar terlelap. Barulah ia beranjak pelan dan menutup pintu kamar dengan hati-hati. Langkahnya ringan, nyaris tidak bersuara. Ia tidak ingin satu pun isakannya terdengar. Begitu pintu tertutup, Nayla merosot ke lantai. Air matanya jatuh tanpa aba-aba. Tangannya menutup mulut, menahan tangis yang sejak tadi menghimpit dadanya. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, sementara kenangan lama kembali menyeruak tanpa ampun. Wajah Zayn terlintas di benaknya. Bukan Zayn yang dingin dan arogan seperti hari ini, melainkan Zayn yang dulu, yang menatapnya seolah dunia hanya berisi mereka berdua. Namun semuanya berubah karena satu kejadian itu. Satu keputusan yang Nayla ambil karena desakan seseorang. Satu kepergian yang membuat Zayn membencinya. Dan satu luka yang kini tumbuh menjadi dendam. “Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu…” bisik Nayla lirih. Ia tahu, di mata Zayn, ia hanyalah perempuan kejam yang pergi tanpa penjelasan. Perempuan yang menghilang saat Zayn paling membutuhkannya. Nayla menoleh ke arah pintu kamar Rian. Untuk anak itu, ia rela menelan semua hinaan. Untuk anak itu, ia akan tetap bertahan, meski harus bekerja di bawah perintah pria yang membencinya. Karena kali ini, Nayla tidak punya hak untuk lari. -------- POV Zayn Malam merambat pelan di ruang kerja Zayn. Lampu kota berkelip di balik dinding kaca, namun tidak satu pun cahaya itu mampu menenangkan pikirannya. Perempuan itu kembali muncul. Nayla. Zayn menutup mata, rahangnya mengeras. Ingatan yang selama ini ia kubur rapi, mendadak menyeruak tanpa ampun. Hari itu… setelah kecelakaan. Tubuhnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dunia yang selama ini ia kuasai runtuh dalam sekejap. Dokter mengatakan kakinya tidak bisa digerakkan sementara. Tongkat menjadi satu-satunya sandaran untuk berdiri. Lalu Nayla datang. Zayn masih mengingat jelas betapa senangnya ia saat melihat perempuan itu melangkah masuk. Wajah cantik Nayla yang polos dan ceria, yang selalu membuatnya yakin ia tidak sendirian. Ia pikir Nayla datang karena mengkhawatirkannya. Karena mencintainya. Namun ia keliru. Tatapan Nayla saat itu… kosong. Datar. Tidak ada senyum dan keceriaan seperti biasa. juga tidak ada kepanikan. Tidak ada air mata. Dengan wajah polos yang sama, Nayla tiba-tiba memutuskan hubungan mereka. Tanpa pelukan. Tanpa penjelasan. Saat Zayn memanggilnya, Nayla sama sekali tidak menoleh. Pergi begitu saja, menghilang dari kehidupannya. Seakan-akan hubungan mereka selama ini, tidak ada artinya sama sekali. Zayn menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Ia benar-benar tidak menyangka, di saat hidupnya berada di titik terendah, perempuan yang ia cintai justru pergi begitu saja. Ia dinyatakan harus menggunakan tongkat. Harga dirinya hancur. Masa depannya terasa buram. Dan Nayla meninggalkannya. Hebat, batin Zayn getir. Saat aku jatuh, kau memilih pergi. Tangannya mengepal kuat. Untung saja kemauannya keras. Untung ia tidak menyerah. Dengan tekadnya sendiri, ia bangkit. Kakinya kembali normal. Ia berdiri lagi. Lebih kuat. Lebih kejam. Jika tidak… Zayn terkekeh dingin. Jika tidak, Nayla pasti akan kembali menatapnya dengan mata yang sama, mata penuh belas kasihan yang terasa lebih hina daripada cacian. “Awas kau, Nayla,” gumamnya tajam. Ia teringat wajah Nayla tadi siang. Polos. Tenang. Seolah tak pernah melakukan apa-apa. “Dengan wajah itu kau menipuku dulu,” lanjutnya pelan namun penuh racun. “Dan kau berani memakainya lagi di hadapanku.” Zayn menatap pantulan dirinya di kaca. “Kau pikir aku masih bisa tertipu untuk kedua kalinya?” Tidak. Kali ini, giliran Nayla yang akan merasakan bagaimana rasanya berada di posisi hina seperti itu, tanpa punya jalan untuk lari. Bersambung.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD