Pagi itu Nayla baru saja merapikan peralatan kerjanya ketika seorang staf HRD menghampirinya. “Nayla, Pak Hidayat minta kamu ke ruang HRD sekarang.” Jantung Nayla berdegup pelan. Tidak keras, tapi cukup membuat langkahnya terasa berat. Dipanggil HRD jarang berarti hal baik, apalagi untuk pegawai seperti dirinya. Namun ia tetap mengangguk patuh dan segera berjalan mengikuti staf tersebut. Begitu pintu ruang HRD tertutup, Pak Hidayat yang duduk di balik meja kerjanya menatap Nayla cukup lama. Tatapan itu bukan tajam, bukan pula dingin, melainkan penuh pertimbangan. Wajah Nayla yang pucat namun bersih, sorot mata yang lelah tapi tetap sopan, entah mengapa membuat dadanya terasa sesak. Anak ini… terlalu rapuh untuk permainan orang-orang di atas, batinnya. “Nayla, silakan duduk,” ujar Pak

