1. Dicampakkan.
"Ah! Kamu payah, Kiara! Hanya melakukannya dengan mulutmu saja tidak bisa! Lantas bagaimana kalau aku memasukinya lebih jauh! Aku juga melihat, tak ada suatu hal yang terjadi padamu! Kenapa denganmu?!" teriak Ronald Reagan.
Pria tampan turunan berdarah Indonesia dan inggris itu berdiri dan menunduk saat menatap Kiara dengan murka. Kiara yang bahkan tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya hanya mampu menunduk dalam dan juga menatap kedua tangannya yang lengket dengan cairan bening.
"Aku muak sekali denganmu! Sebaiknya sudah sampai di sini saja, aku rasa kamu bahkan akan mandul kalau aku nikahi!" balas Ronald lagi dengan suara yang meninggi.
Kiara mendongak dan menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca, apa yang dikatakan oleh Ronald membuat hatinya sakit dan perih. Dengan bibir bergetar ia mulai berusaha berkata...
"A–apa maksud, kamu?"
"Kau ini tuli juga ternyata?! Hubungan kita cukup sampai di sini! Aku tak mau lagi berhubungan denganmu, apapun itu!" Ronald merapikan pakaiannya dan akhirnya hendak beranjak pergi dari sana.
"Ti–tidak, kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Ronald! Kamu tidak bisa begini!" teriak Kiara di dalam sebuah kamar hotel yang sebelumnya mereka pesan.
Kiara terduduk di lantai dengan tangis yang tak ada suara sama sekali. Terbiasa menangis dalam diam, namun sakitnya sungguh luar biasa sakit.
Dengan mata penuh dendam, ia akhirnya kembali menegakkan kepalanya, ia ingat suatu hal yang sebelumnya ia pernah dengar, di saat ia mendengar ucapan dari beberapa teman-teman Ronald, bahwa Ayah dari Ronald merupakan seorang Casanova. "Ya, aku akan mencarinya." gumam Kiara. Kiara merapikan pakaiannya, namun– saat menatap pantulan dirinya disebuah cermin, ia mulai kembali terdiam.
"Mungkin aku kurang jalang?" gumamnya sembari menatap kearah cermin. Rok yang semula tampak selutut akhirnya berkurang karena sebuah gunting yang Kiara bawa. Setelah merasa semua sudah cukup, ia akhirnya pergi kesebuah tempat yang ia ketahui sebagai sarangnya para penjelajah kenikmatan duniawi.
Penampilan Kiara sudah jauh berbeda, dengan rasa dendam dan putus asa, ia mencari-cari seseorang yang bahkan tak pernah ia temui.
"Mister Arthur Reagan!" Panggil seseorang dengan manja di sebuah sofa. Kiara memang tengah menjauh dari orang-orang yang tengah menikmati bass musik yang terdengar memekakan telinga.
Dan pucuki cinta, ulampun tiba–ia mendengar sebuah nama yang memang tengah ia cari. Tanpa ragu, ia menatap kearah pria yang kini membuat Kiara menelan ludahnya kasar.
Seorang pria dengan tatapan liar itu menatap wanita muda yang memanggilnya dengan manja. "Apa mau aku temani di dalam, Mister?" tanya wanita itu dengan manja. Artur tersenyum nakal pada saat itu. Tangannya sudah menuju kemana-mana, bahkan kebagian yang tidak seharusnya.
"Hmm, apa kamu yakin bisa membuatku menemukan apa yang aku cari?" tanya Arthur.
"Kita akan coba, tapi aku akan usahakan semaksimal mungkin." ujar wanita muda itu.
Kiara memutar otaknya untuk mencari cara mendekati Arthur, tak mungkin ia bisa mendekati pria itu tanpa alasan yang jelas kan? Sesaat kemudian, ia akhirnya menemukan suatu cara yang cukup licik.
Kiara melihat seorang pelayan yang mendekat ke arah mereka sembari membawa nampan, dan pada saat itu–kaki jenjang Kiara menghalangi langkah wanita itu hingga...
"Astaga, Tuan! Maafkan saya, saya tersandung sesuatu!" ujar sang pelayan sembari mencoba mengelap jas hitam Arthur menggunakan saputangannya.
Arthur marah saat mendapati tubuhnya tersiram minuman yang dibawa wanita itu, ia menyingkirkan wanita itu dengan sangat kasar.
"Wanita sialan! Kalau saja bukan di sini, sudah aku habisi kau! Minggir kalian semua!" ucapnya dengan suara yang sangat kesal.
Kiara tersenyum menang, ia akhirnya mulai bergerak saat menyadari pria itu hendak menuju kesebuah toilet.
Dengan menggunakan tubuhnya, ia hendak membuat pria itu menghabiskan malam bersamanya, dan membalaskan dendamnya pada Ronal.
Kiara berjalan berlawanan arah, hingga saat ia dekat dengan pria itu, tubuhnya menabrak pria itu.
"Apa-apaan ini?!" ujar Arthur dengan suara begitu kesal.
"Ah, maaf, Tuan. Aku tidak sengaja." ujar Kiara.
Kiara menyentuh bagian d**a Arthur, dan ia merasa bagian sana sudah sangat basah karena tersiram minuman.
"Apa yang terjadi pada anda, Tuan? Kenapa basah semua? Apa anda main terlalu bringas?" tanya Kiara pada saat itu.
"Wanita kurang ajar! Sudah menabrakku, dan kini mau mencari masalah dengan aku?!" ujar Arthur dengan arogan.
"Ah, Tuan..., wanita mana yang tak mau mencari masalah dengan pria setampan anda, dan kalau anda mau, anda bisa menghukum saya semau anda. Kebetulan saya belum tahu apapun. Mungkin anda bisa mengajari saya yang masih amatir dengan kegelapan ini." ujar Kiara. Bau alkohol menyengat dari bibirnya, namun–mendengar ucapan wanita itu, Arthur merasa tertantang juga.
"Jangan menyesal nantinya, Gadis kecil!"
"Tidak akan, Daddy." gumam Kiara.
Arthur akhirnya membawa Kiara kesebuah kamar yang kerap kali Arthur pakai untuk membawa para wanita yang hendak menghabiskan malam panas dengan dirinya. Sejauh ini belum ada satu wanitapun yang bisa memberikannya suatu hal yang ia cari.
"Aku harap kau tak akan menangis, dan menyesali semua ucapanmu, Gadis Kecil!" ujar Arthur sekali lagi. Tangan besarnya mulai bergerak pelan, menyusuri area terlarang dalam diri seorang Gadis yang baru saja ia temui.
"Oh, Daddy.., tidak akan pernah. Ah!" gumam Kiara saat Arthur mulai menyentuh bagian sensitifnya.