Bab 5 - Hidup Baru

1408 Words
"Aku akan menanggung biaya pengobatan ayahmu, Nara. Kamu juga tidak perlu khawatir karena aku akan meminta pak Dadang dan bi Asih menjaganya. Kamu bisa memegang kata-kataku.” Nara menatap langit biru di sepanjang perjalanan pulang. Dia baru saja dari Villa dan kata-kata tuan Bisma setelah dia setuju untuk menikah dengan putranya kembali terngiang di kepala. Sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan. Terutama pertanyaan mengenai kondisi putra tuan Bisma yang orang-orang bicarakan. Namun, dia tak sampai hati untuk melakukannya. Rasa tak tega menyakiti hati tuan Bisma yang sudah begitu berjasa dalam hidupnya. Aku hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja. Nara menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh tanpa bisa dicegah. Berusaha terlihat baik-baik saja terlebih dia sudah melewati perkebunan. Berpapasan dengan beberapa warga yang menatapnya dengan raut wajah kasihan dan dia jelas tahu penyebabnya. “Welcome my sister ....” Kepulangan Nara kali ini disambut berbeda. Nara saja sampai terkejut begitu melihat wanita modis di depannya. Diajeng Utomo. Saudara tiri yang berhasil membuat Nara pangling karena penampilannya yang luar biasa sekali. Rambut Ajeng tergerai indah dan mengkilap. Make up yang menghias wajah cantiknya nampak mahal dan baju Ajeng yang berserat halus tanpa dikatakan pun dia tahu jika bernominal besar. Sangat berbeda dengan penampilannya yang bahkan memakai kaos usang kebesaran. Entah hal macam apa yang membuat Ajeng sudi menginjakkan kaki di rumah yang Ajeng bilang gubuk ini? Bahkan setelah 4 tahun lamanya Ajeng tinggal di ibukota. “Akhirnya kamu pulang juga, Nara,” sambut Ajeng seraya tertawa. Wanita yang tidak pernah menahan lapar itu memegang lengan Nara kemudian menariknya masuk ke dalam rumah dan setelahnya, tanpa perasaan Ajeng mengibas kedua tangannya seolah baru saja memegang sampah. “apa kabar?” Nara tersenyum tipis. “Baik.” “Tapi kamu terlihat dekil seperti pengemis. Bagaimana bisa kondisi seperti ini dikatakan baik?” Nara menghembuskan napas pelan. Ajeng masih tidak berubah. Selain manja dan suka menghina, wanita itu masih belum sadar diri juga. “Sudah jangan marah. Yang aku katakan tadi hanya lelucon semata.” Ajeng mengibas rambutnya kemudian tersenyum seperti biasa. Seolah semua orang harus memaklumi perilakunya. “jadi bagaimana? Apa keputusanmu untuk menikahi pria gila itu sudah bulat?” Manik mata Ajeng berbinar. Bukannya prihatin, wanita yang menjadi sumber masalah dalam hidup Nara itu justru girang sekali. “Ahh kepulanganku hari ini pas sekali berarti. So, selamat atas pernikahanmu dengan pria gila itu, Nara. Semoga langgeng terus sampai tua.” Nara tak menjawab. Lebih baik dia pergi daripada menjadi bahan tertawaan. Apalagi Rita sudah datang. “Apa saja yang tuan Bisma katakan?” tanya Rita sembari mencekal tangan Nara. “apakah tuan Bisma akan membayarmu mahal karena bersedia menikah dengan putranya?” Nara tertawa sebatas d**a. “Kapan Ibu berhenti memikirkan uang? Apakah Ibu selalu menganggapku sebagai barang yang bisa Ibu tukar sesuka hati tanpa perasaan?” “Jaga bicaramu, Nara.” Ajeng berteriak. “Lihat! Bukankah Ibu memiliki anak gadis modern dan berpendidikan di sana?” Nara melanjutkan. Untuk kali ini biar dia mengungkapkan semua kemarahan yang tersimpan sedari lama. Dia bukan anak kandung Rita tetapi Rita selalu membuatnya menderita. “kenapa Ibu tidak mengandalkan Ajeng saja untuk mewujudkan semua keinginan Ibu itu? Apakah Ajeng tidak mampu?” “Cih! Siapa kamu berani meragukan kemampuannya?” Rita lantas mendekati Ajeng kemudian memeluknya dengan sayang. “tentu saja Ajeng bisa melakukan semua hal karena dia pintar dan cekatan. Saat ini pun, dia sudah diterima bekerja di perusahaan besar. Benar ‘kan sayang?” Ajeng mengangguk dengan percaya dirinya. “Benar dan tak lama lagi, aku akan membawa Ibu pergi dari gubuk bau ini.” “Baguslah kalau begitu. Setidaknya kalian punya malu untuk tidak terus-terusan menumpang di rumah mendiang ibuku.” “Nara!” Nara menjauh dan Rita yang hendak mengejar untuk memberi Nara pelajaran pun, Ajeng tahan dengan segera. “Tidak usah buang-buang tenaga, Bu. Lagian hidup wanita itu akan lebih menderita di neraka yang baru.” “Ibu benar-benar sudah muak hidup di rumah ini, Ajeng.” Rita memijat pelipisnya. “Sabar dulu, Bu. Setelah aku menjadi karyawan tetap, aku akan membeli apartemen dan mengajak Ibu pindah.” “Benarkah? Kamu tidak akan ingkar janji ‘kan?” “Tentu saja.” Malam harinya, pernikahan Nara dan putra tuan Bisma benar dilaksanakan. Seadanya dan secara tertutup pula karena permintaan putra tuan Bisma yang tidak mau bertemu dengan orang banyak. Villa menjadi tempat dilaksanakannya akad dan karena kondisi Bagas tidak memungkinkan, Bagas pun menyerahkan statusnya sebagai wali nikah kepada Ustaz yang berteman baik dengannya. Nara yang menjadi mempelai pun tidak ikut serta karena tuan Bisma tidak mengajaknya. Alasan tidak memungkinkan dan tiada hal lain yang bisa Nara lakukan selain menurut saja. Di kamar yang menjadi saksi sebuah perjuangan, Nara melihat ayahnya dengan air mata berlinang. Sudah cukup lama dia berada di sana dan sengaja mengunci pintu kamar agar tidak ada yang mengganggu momen sebelum perpisahan. Ya ... seperti yang tuan Bisma bilang, besok pagi dia akan dibawa ke Jakarta yang berarti meninggalkan ayahnya sendirian. “Jika Ayah ingin tahu apakah aku bahagia, maka jawabannya adalah aku tidak tahu. Aku memang menjadi menantu tuan Bisma yang baik hati tetapi, aku harus meninggalkan Ayah di sini. Hiks!” Bagas mengerjap kecil. Rasa ingin mengusap air mata sang putri tetapi dia tak berdaya sama sekali. Lemah dan hanya bisa menyesali karena perbuatannya lah, Nara harus merasakan penderitaan ini. Akan tetapi, dibandingkan menjadi istri Bambang Hartanto yang gila wanita itu, tentu lebih baik Nara menjadi istri putra tuan Bisma meski dia pun tidak tahu bagaimana perangainya. Dia hanya bisa berdoa, apa pun yang terjadi di sana semoga Nara bisa menghadapinya. Ayah baik, Nara. Tidak apa-apa Ayah sendirian. Ayah bahagia karena akhirnya kamu bisa lepas dari Rita. Pergilah dengan senyuman. Jemput kebahagiaan yang mungkin menunggumu di depan sana. Jawaban dari doa-doamu dan buah dari kesabaranmu selama ini, Nak. Andai kata-kata itu bisa terucap, tentu Bagas akan merasa senang. Dengan begitu, Nara tidak akan berat meninggalkan. Sayang, dia hanya bisa terbaring bisu seperti mayat. “Tapi tuan Bisma sudah berjanji untuk mengutus pak Dadang dan bi Asih yang akan merawat Ayah dengan baik. Jadi, Ayah tidak perlu khawatir. Ayah tidak akan kesepian dan selalu baik-baik saja seperti ini.” Nara memeluk ayahnya sekali lagi. “jika ada waktu, aku pasti datang mengunjungi.” ** Mobil mewah tuan Bisma terparkir di halaman. Ini berarti tiba saatnya Nara meninggalkan kampung halaman yang sudah membesarkannya dengan bermacam suka dan duka. “Jaga diri baik-baik ya, Nduk. Kamu jangan khawatir. Bibi yang akan menjaga ayahmu di sini.” Bi asih memeluk Nara untuk yang terakhir kali. Wanita tua itu sampai tidak bisa menahan isak tangis. “Bibi juga jaga kesehatan dan terima kasih banyak untuk semuanya.” Setelahnya Nara berpamitan kepada sang Ayah. Berikut dua wanita ular yang tak ketinggalan menertawakan penderitaannya. “Selamat menempuh hidup baru, Nara. Semoga penderitaan di sana jauh lebih menyakitkan,” ucap Rita yang kemudian dilanjutkan Ajeng dengan lambaian tangan. “Semoga bahagia dengan suamimu yang gila, Nara. Suatu hari nanti ayo kita bertemu. Sungguh aku ingin memperlihatkan betapa beruntung dan sempurnanya masa depanku.” Nara menghela napas. Tanpa dikata, tentu mereka sangat senang jika dia hidup menderita. Berbekal tas usang yang berisi beberapa helai pakaian, Nara pun melangkah keluar dari rumah yang akan sangat dia rindukan. Membalas beberapa lambaian tangan warga yang ikut mengantar kepergiannya dan akhirnya, dia pun masuk ke mobil di mana tuan Bisma sudah menunggunya. “Sudah siap meninggalkan desa kelahiranmu, Nara?” tanya tuan Bisma yang saat itu duduk di depan. Bersama seorang pria yang Nara tebak sebagai sopir pribadinya karena usianya sudah bapak-bapak. Lalu, di mana putra tuan Bisma sekarang? “Iya, Tuan.” Nara sempat melirik ke belakang dan tindakannya dilihat tuan Bisma yang to the poin seperti biasa. “Kamu mencari putraku?” “Aa ... tidak, Tuan.” Nara merutuk malu sedang tuan Bisma tersenyum simpul. “Suamimu sedikit rewel. Dia tidak betah di sini jadi aku meminta sopir membawanya pulang lebih dulu. Tidak apa-apa ‘kan?” Nara hanya mengangguk pelan dan Mobil pun melaju meninggalkan halaman. Sempat Nara menoleh ke belakang dan sekali lagi melihat, ibu juga adik tirinya melambaikan tangan dengan penuh semangat. “Oiya, Nara. Apa kamu sudah tahu siapa nama putraku? Suamimu?” Nara terkesiap. Mendengar suara tuan Bisma, masih menjadi hal tidak biasa untuknya. “Be—belum, Tuan.” “Abiyasa Daniswara,” jawab tuan Bisma sebelum menegakkan tubuhnya, “dan aku harap kamu tidak lupa.” Nara menelan saliva. Harapnya tentu tidak sekedar lupa, tetapi bisa menghadapinya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD