Bab 6 - Abiyasa Daniswara

1466 Words
Nara mengerjap. Tertegun luar biasa saat menatap rumah besar nan megah yang berdiri kokoh di depannya. Demi Tuhan, baru kali ini dia melihat rumah sebesar itu karena rumah juragan Bambang yang menjadi rumah impian di desa pun tak ada apa-apanya. “Ayo masuk ke dalam,” ajak tuan Bisma dan Nara lekas mengekorinya. Sempat dia melepas sandal karena takut mengotori lantai yang bersih mengilap hingga membuat tuan Bisma tertawa. “sandalnya tetap dipakai, Nara.” “Maaf, Tuan.” Pintu rumah terbuka dan Nara makin terkesima oleh pemandangan di dalam ruangan. Memang benar tak banyak perabotan di sana. Hanya ada sofa, lemari kaca, guci dan lukisan. Namun, suasana rumah orang kaya jelas berbeda. “Bi Sika. Bi ....” suara tuan Bisma kembali terdengar dan tak lama kemudian, muncul wanita paruh baya—seusia bi Asih tergopoh dari dalam. “Tuan sudah sampai?” sambut Bi Sika hangat walau pandangannya tak luput dari Nara. Tentu wanita setengah baya itu tengah berpikir, siapakah wanita asing yang dibawa tuannya ke rumah. “apakah tuan sudah sarapan?” lanjutnya berbasa-basi. “Sudah, Bi dan aku ingin memperkenalkan seseorang yang mulai hari ini akan tinggal di rumah ini.” Tuan Bisma melirik Nara yang menunduk segan. “dia Dinara. Istri Abiyasa.” Hah? Siapa pun bisa membaca keterkejutan di raut wajah bi Sika. Terlebih saat wanita tua itu memastikan dengan gugupnya, “Istri tuan muda Abiyasa? Tuan sungguhan?” “Iya.” “Kapan dan kenapa—“ Bi Sika masih belum bisa menguasai perasaan terkejutnya. “Bibi cukup tahu jika gadis ini adalah istri Yasa dan kalau bisa pernikahan ini dirahasiakan dulu ya? Jangan sampai terdengar orang luar. Selainnya, aku ingin Bibi menjaga Nara juga. Tolong perlakukan dia selayaknya tuan rumah.” “Baik, Tuan.” “Dan, Nara ....” kali ini tuan Bisma menatap ke arah Nara yang masih setia menunduk di pijakan. “kamu tidak perlu merasa sungkan. Rumah ini adalah rumahmu sekarang.” Nara mengangguk pelan. “Kalau begitu, antar Nara ke kamar tamu yang ada di bawah, Bi. Mulai sekarang kamar itu akan menjadi kamarnya.” Bi Sika mengangguk sekali lagi sesaat tuan Bisma beranjak pergi. Meninggalkannya berdua dengan gadis asing yang dari penampilannya saja sudah membuatnya terkejut setengah mati. Benarkah gadis ini istri tuan Yasa? Apakah pernikahan mereka terjadi karena sebuah masalah atau paksaan tuan? Bermacam pertanyaan muncul di kepala, tapi siapa berani menanyakan? Akhirnya, tiada hal lain yang bi Sika katakan selain, “Ayo Bibi antar ke kamar, Nona.” Nara tersenyum kilas. Tanpa membuang waktu dia mengekori langkah bi Sika yang membawanya ke kamar bawah. Kamar yang menjadi tempatnya dan sepertinya ... seorang diri saja. Apakah Abiyasa ada di ruangan lain? Dengan kondisi terikat seperti yang aku pikir? Lamunan Nara terjeda manakala bi Sika kembali bersuara. “Jika ada sesuatu yang Nona butuh kan, segera panggil saya. Saya ada di paviliun belakang jika pekerjaan rumah sudah selesai.” “Baik, Bi. Terima kasih banyak.” Bi Sika melempar senyum begitu Nara bersuara. Adalah sebuah kejutan karena mulai hari ini ada tambahan tuan rumah yang harus dia layani dan berarti, rumah ini tidak akan sepi seperti kuburan lagi. ** 1 minggu sudah berlalu dan selama itu Nara tidak pernah bertemu dengan Abiyasa. Selain tuan Bisma tidak menyuruhnya untuk menemui sang suami yang sampai saat ini belum dia tahu bagaimana kondisinya, para pelayan di rumah besar ini pun tidak ada yang menegurnya. Termasuk bi Sika yang lumayan dekat dan setiap hari menemaninya. Aneh memang. Dia pikir setelah sampai di rumah besar ini, tuan Bisma akan memintanya merawat Abiyasa. Tetap bertahan dalam kondisi dan situasi apa pun tetapi, yang dia alami justru sebaliknya. Dia hidup dengan damai seolah di rumah ini tidak pernah terjadi hal buruk seperti yang dia bayangkan. Bahkan, teriakan Yasa atau semacamnya sama sekali tidak dia dengar sehingga membuatnya semakin bertanya-tanya, Benarkah Yasa gila? Ataukah hanya berita asal yang tidak sengaja tersebar di desa? “Ya Gusti ... Non Nara ngapain?” suara bi Sika membuat lamunan Nara buyar. Cepat-cepat wanita itu menarik tangan Nara yang saat itu mengepel lantai. “nanti kalau ketahuan tuan gimana, Non? Saya bisa dimarahi.” “Kenapa harus marah, Bi? Saya hanya melakukan pekerjaan kecil.” Nara tersenyum pelan sedang Bi Sika menghela napas kuat. Tidak hari ini saja Nara mengejutkannya. Gadis yang sempat membuatnya serangan jantung karena statusnya itu, nyaris setiap hari membuatnya tidak enak. Nara tidak segan membantu pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, menyapu, mencuci piring dan lainnya. Dan sekarang, dia justru melihat Nara mengepel ruang tamu yang lumayan besar. Jika tuan Bisma sampai melihat, pelayan yang bertugas bisa diberi peringatan. “Dan tuan Bisma juga tidak ada di rumah karena perjalanan bisnis.” Lanjut Nara yakin. Dia ingat sekali saat tuan Bisma pamit. Katanya ada perjalanan Bisnis jadi, dia tinggal dengan para pelayan selama beberapa hari ini dan beruntungnya, mereka semua baik. Mereka memperlakukannya seperti tuan putri sampai dia merasa begitu disayangi. “Iya tapi sewajarnya saja, Non. Biar pelayan lain yang mengerjakan. Jangan lupa kalau Non Nara itu menantu di rumah ini.” Entah berapa kali bi Sika mengatakannya yang jelas, dia sudah hafal dengan kata-kata yang diucapkannya. “Tidak apa-apa, Bi. Saya senang jika bisa membantu.” Bi Sika tersenyum lantas mengusap lengan Nara yang sedikit kurus. Sampai saat ini dia belum tahu alasan Nara menikah dengan Abiyasa. Namun, melihat kepribadian Nara yang lembut dan tulus, dia jadi bersyukur karena tuan Bisma tidak salah pilih menantu. “Ya sudah. Sekarang Non Nara istirahat saja ya? Pekerjaannya biar dilanjutkan pelayan yang bertugas.” Nara ingin menolak tetapi bi Sika sudah memperingatkan. Akhirnya, tiada hal lain yang bisa dia lakukan selain beranjak menuju kamar. Sebentar dia membersihkan tubuhnya yang berkeringat kemudian berbaring di ranjangnya yang empuk dan luas. Nara menatap langit-langit kamar yang bersih tanpa sarang laba-laba. “Apa Ayah baik-baik saja? Apa Ayah sudah makan dan minum obat?” Nara menghela napas pelan. Bohong jika selama tinggal di rumah ini dia tidak memikirkan kondisi ayahnya di sana. Adalah tidak benar jika dia lupa karena kehidupannya sekarang begitu damai. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menaruh rasa percaya jika tuan Bisma akan menepati janjinya. “Kira-kira, bagaimana reaksi Ibu dan Ajeng jika melihat keadaanku yang sekarang?” Lirih Nara seraya tersenyum kilas. Tangannya meraih bantal boneka berbentuk awan kemudian memeluknya erat. Terbayang ekspresi Ibu dan adik tirinya yang mungkin saja mengamuk tidak jelas jika melihatnya bahagia. “bertahun lamanya aku menanggung penderitaan karena kalian. Kali ini, biar Tuhan yang menyembuhkannya.” ** Nara terbangun karena haus. Sebentar dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam sebelum beranjak dari kasur dan ternyata, dia lupa mengisi botol minum. Rasa tak ingin meninggalkan kamar karena suasana rumah di jam malam sangat sepi mencekam tetapi, rasa haus ini tidak dapat dia tahan. Berbekal keberanian yang tak seberapa, dia pun beranjak. Berencana mengambil air di dapur kemudian kembali ke kamar secepatnya. “Akhirnya aku sampai,” lirih Nara lega. Cepat-cepat dia mengisi botol minumnya kemudian membuka pintu lemari pendingin di dekatnya. Mengambil beberapa potong buah yang tersisa dan membawanya keluar. Prang! Belum sampai Nara membuka pintu kamar, suara benda terjatuh yang menggema memenuhi ruangan begitu saja menghentikan langkahnya. Membuatnya terkejut luar biasa sampai tak sadar menjatuhkan potongan buah di tangan. “Suara apa itu?” Nara menelan saliva. Tangannya yang memegang botol sampai gemetar karena baru kali ini, ada hal aneh yang terjadi di rumah. Yang dia tahu, tidak ada kucing atau peliharaan lain yang mungkin saja menjatuhkan barang. Tikus apalagi. Lantas, siapa yang menjatuhkan barang tadi? “apakah Yasa—“ netra Nara yang coklat terang sontak membulat. “mungkinkah Yasa mengamuk?” Nara diterpa perasaan bimbang. Rasa ingin mencari sumber suara tapi rasa takutnya lebih besar. Bagaimana jika dia tidak bisa mengatasi Yasa? Bagaimana jika Yasa— Tap! Di tengah kemelut yang menimbang, lagi-lagi Nara dibuat terperanjat manakala muncul sosok pria tak dikenal di depannya. Pria dengan penampilan sedikit berantakan yang menatapnya dengan sorot mata tajam. “Si—siapa ... “ Nara kehilangan kata-kata. Terlebih saat pria itu mendekat dengan raut wajah sulit dijelaskan. “siapa yang mengizinkan Anda masuk ke rumah ini?” Nara memberanikan diri meski suaranya gemetar sekali dan saking takutnya, dia meraih gagang sapu yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ya Tuhan ... apa pria di depanku adalah pencuri? “A—“ “Tolong ... Tolong ... ada pencuri! Ada ... hemph ...!” Teriakan Nara teredam begitu saja manakala pria asing itu menangkap tubuh Nara dan menutup bibir Nara dengan telapak tangannya yang besar. “Dasar gadis desa! Bisa-bisanya kamu berpikir aku ini pencuri?” suara beratnya mengambil alih. “aku Abiyasa. Tuan muda pemilik rumah ini.” Apa? Tubuh Nara yang sempat memberontak menegang sempurna. Jawaban yang dia dengar, sungguh di luar nalar sampai membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar. Abiyasa? Apakah Abiyasa Daniswara?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD