Bab 7 - Batasan

1460 Words
“Anda Abiyasa Daniswara?” “Kamu pikir aku gila sampai mau mengaku sebagai dirinya? Tentu saja aku Abiyasa.” ** Nara meremas tangannya kuat. Rasa terkejutnya masih belum reda hingga membuatnya tak bisa tenang walau sebentar. Satu botol penuh minuman bahkan sudah dia habiskan. Namun, tetap saja detak jantungnya berdebar tak karuan. Insiden yang terjadi tadi benar di luar prediksinya. Bahkan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sangat tidak masuk akal sampai dia menganggap ini tidak nyata. Demi Tuhan, Abiyasa Daniswara yang dia pikir gila ternyata sehat wal afiat. Sehat akal, fisik bahkan semuanya. Pria itu bahkan ... sungguh dia telah kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan isi hatinya karena yang jelas, kabar yang beredar di desanya adalah berita mengada-ngada. “Apa yang akan tuan Bisma katakan jika aku pernah menganggap putranya gila?” Nara mengusap wajahnya yang terasa dingin tetapi, tidak dengan suhu tubuhnya yang terasa panas mendidih. Di detik Abiyasa mengakui identitasnya, di detik itu juga dia kehilangan akal. Merasa kakinya tidak lagi memijak lantai dan dunianya seolah berhenti berputar. Beruntungnya dia tidak sampai jatuh pingsan atau semuanya akan semakin runyam. Brak! Belum sampai Nara menetralkan deru napasnya yang tercekat, pintu kamarnya telah dibuka kuat dan pria bertubuh jangkung dengan raut wajah kecut itu telah muncul di permukaan. Dengan aura menakutkan yang berhasil membuat Nara beringsut—ketakutan. Ya Tuhan ... apa lagi ini? “Jadi kamu yang bernama Dinara Asmaraloka,” ucap Yasa datar—sesaat menghentikan langkah di depan Nara seraya bersedekap d**a. Manik matanya yang tajam pun menatap Nara mulai ujung kaki sampai ujung kepala. Mencari hal istimewa yang sampai membuat ayahnya memaksa menikahi gadis itu sekarang juga dan ternyata ... sama saja. Gadis itu bahkan tidak lebih baik dari anak partner kerja yang sempat meminangnya. Nara mengangguk pelan. Mendadak suaranya lenyap karena rasa takut yang mendera. Sungguh, atmosfer rumah ini telah berubah mencekam semenjak Abiyasa datang. “Kalau begitu aku tidak mau berbasa-basi.” Suara berat Yasa terdengar lagi. ”kedatanganku kemari adalah untuk memberitahumu jika aku tidak menginginkan pernikahan ini. Sama sekali. Aku mau melakukannya karena ayahku memaksa dan aku tidak bisa menolak. Kamu mengerti?” Nara mengangguk lagi. Setelah dia tahu bagaimana kondisi Abiyasa yang sebenarnya, tentu dia sadar diri sekali. Ibaratnya langit dan bumi, untuk berdekatan dengan Abiyasa sebagai teman saja dia pasti tahu diri. Apalagi menjadi istri? Yang ada, seluruh dunia akan menertawakan egonya yang ketinggian sekali. “Karena itu aku mau memperingatkan, untuk tidak serius menjalani pernikahan ini apalagi sampai menaruh hati. Tetaplah seperti orang asing dengan tidak mencampuri urusan satu sama lain. Kamu dengan hidupmu dan aku dengan duniaku. Lalu dalam beberapa bulan ke depan, aku akan mengakhiri pernikahan ini dengan dalih ke tidak cocokkan. Jadi aku berharap kamu mau bekerja sama agar semuanya menjadi lebih mudah.” Yasa sempat menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan, “selain itu aku juga ingin mengatakan jika kita berdua tidak perlu berpura-pura di depan Ayah. Bersikaplah selayaknya dua orang asing yang tidak saling mengenal. Itu saja.” Setelahnya Yasa angkat kaki dari sana. Meninggalkan Nara yang masih berusaha mencerna setiap bait perkataannya. Mengingat kembali batasan-batasan yang Yasa buat serta 1 hal yang harus dia ingat setiap detiknya, yakni jika statusnya di rumah ini bukanlah istri Yasa. Melainkan menantu tuan Bisma saja dan suatu hari nanti, dia pun akan kehilangan status itu juga. Nara menghela napasnya yang terasa sesak. Apa yang Yasa katakan tadi, sungguh tak sedikit pun melukai perasaannya. Keputusan Yasa untuk mengatakan hal itu sekarang memang tepat karena dia pun menyadari posisinya yang sama sekali tidak pantas. Hanya, dia merasa bersalah saja karena sudah berpikir yang tidak-tidak sekaligus menyetujui pernikahan yang pastilah membuat Yasa tertekan. Selainnya, apa yang bisa diharapkan dari gadis desa sepertinya? Dia tidak berpendidikan dan— Nara meremas tepian kasur kala tragedi kelam itu kembali membayang di pelupuk mata. Andai dia jujur sejak awal, tentu tuan Bisma tidak akan melanjutkan pernikahan ini. Memangnya mana ada seorang ayah yang mau memilih wanita kotor sebagai calon menantunya? Apalagi seorang terhormat seperti tuan Bisma. Namun, semua sudah terlambat. Sekarang tiada yang bisa dia lakukan selain melanjutkan apa yang sudah tersirat. Perihal bagaimana nanti, biar Yasa yang memutuskan. Nara merebahkan tubuhnya di ranjang. Meski tidak yakin bisa terlelap, setidaknya dia menemukan tumpuan untuk tubuhnya yang masih gemetar. Keesokan harinya. “Selamat pagi, Bi,” sapa Nara seperti biasa saat melihat bi Sika di dapur. Yang tidak biasa adalah dia merasa pusing karena tidak bisa tidur. Sungguh kedatangan Yasa semalam membuatnya begadang sepanjang malam. “Bibi mau masak apa?” tanyanya ketika melihat bi Sika sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan yang pagi ini dia lihat berbeda. Ada bermacam sayuran dan entah apa. Dia tidak pernah melihat seumur hidupnya. Dan bukannya menjawab, Bi Sika malah celingak-celinguk sebentar. Raut wajah wanita setengah baya itu nampak menyimpan rahasia besar sampai membuat Nara ikut terbawa suasana. “Jadi bagaimana, Non?” Tanyanya dengan tak sabaran dan Nara yang belum mengerti maksudnya jelas mengajukan pertanyaan. “Bagaimana apanya, Bi?” “Itu ... sudah ketemu tuan Yasa belum? Semalam Bibi tidak memberitahu kalau tuan Yasa datang karena non Nara sudah tidur.” Nara tersenyum kaku. Bingung harus menjawab bagaimana karena Yasa tidak mengatakan semua. Apakah dia tidak usah berpura-pura di depan ayahnya saja atau di depan para pelayan rumah juga. Hanya, bukankah semua penghuni rumah ini sama? Yang artinya, tidak perlu disajikan opera pernikahan bahagia? “Sudah ketemu, Bi,” jawab Nara dan bi Sika malah terkikik seperti anak kecil. “Terus gimana? Tuan Yasa bilang sesuatu tidak?” bi Sika sampai menggoyang tangan Nara. Berharap Yasa mau menerima pernikahannya dengan Nara meski dia tahu, sekeras apa pendirian pria itu. Ya. Bi Sika dan pelayan lain sudah tahu jika terjadinya pernikahan Yasa dan Nara itu karena paksaan tuan Bisma. Namun, mereka semua berharap jika pernikahan ini langgeng seterusnya. Apalagi Nara tidak sejelek itu sampai harus ditolak mentah-mentah. Gadis desa itu memiliki paras cantik meski ditutupi kesederhanaannya. “Ya tidak gimana-gimana, Bi dan aku rasa, Bibi sudah tahu semuanya.” Jawaban Nara kali ini, tentu membuat raut wajah bi Sika seketika berubah. Prihatin dan nampak kecewa. Namun, cepat-cepat Nara mengalihkan suasana dengan menunjukkan senyuman terbaiknya. “Tidak apa-apa, Bi. Posisi kita berdua kurang lebih sama jadi aku baik-baik saja. Tuan Yasa tidak berbuat apa-apa. Kita hanya bicara beberapa patah kata saja,” lanjut Nara seraya mengusap tangan bi Sika sebentar. Sungguh dia merasa beruntung karena ada bi Sika yang begitu peduli terhadapnya. “sekarang, ayo kita lanjutkan pekerjaan yang tertunda saja.” Bi Sika tersenyum lepas. Akhirnya dia merasa lega setelah ikut memikirkannya sepanjang malam. Takut Yasa berbuat kasar karena dia tahu benar bagaimana sikap pria itu saat melakukan penolakan. Apalagi ini menyangkut pernikahan yang mana Yasa selalu menolak tanpa alasan yang jelas. “Ya. Ayo kita memasak sarapan sebelum tuan dingin itu bangun.” Nara mengulum senyum. Panggilan itu memang cocok untuk seorang Abiyasa karena dari auranya saja, sudah membuat atmosfer di sekelilingnya seketika berubah. “Bibi mau masak apa?” “Salad sama waffle, Non.” Nara mengerjap tak paham dan bi Sika menjelaskan, “itu ... sarapan sehat orang-orang bule, Non. Saat tuan Yasa di rumah Bibi memang biasa membuatnya. Agak sulit memang tapi Bibi sudah terbiasa setelah melihat tutorial. Sudah hafal.” “Ooo ...” Nara mengangguk mengerti. Setelahnya dia agak kebingungan sendiri. “lalu sarapan pagi kita bagaimana, Bi?” tanyanya sungkan. Sebagai si tahu diri, tentu dia tidak akan sembarangan di rumah ini. Apalagi perihal makan. “Non Nara mau makan Salad sama Waffle tidak? Kalau iya, sekalian Bibi buatkan.” Kali ini Nara tertawa sampai kelopak matanya mengerut dalam. “Orang desa mana pernah makan makanan seperti itu, Bi. Aku bahkan baru mendengarnya sekarang.” “Hih! Non Nara tidak tahu saja kalau selain dua ini ada makanan orang bule lain. Oatmeal, pancake, sandwich, chicken masala, steik yang dimasak very rare, rare, medium rare sampai welldone. And you know telur dadar? Namanya saja sampai diubah Omelet sama tuan muda.” Nara tak bisa menahan tawa. Nada bicara bi Sika dan ekspresinya sungguh membuatnya sampai menitikkan air mata. Untuk pertama kalinya dia bisa tertawa selepas ini walau tak berselang lama si tuan muda sudah datang dengan raut wajah menakutkannya. Refleks membuat tawanya dan bi Sika lenyap tak tersisa. “Selamat pagi, tuan muda,” sapa bi Sika dengan wajah memerah sedang Nara ambil sikap balik badan. Pura-pura sibuk mencuci sayuran tanpa berniat menyapa. Seperti perintah Yasa, bersikaplah selayaknya orang asing yang tidak saling mengenal. “Selamat pagi juga,” jawab Yasa kemudian pergi setelah mengambil air di kulkas. Tebakan bi Sika ternyata salah. Yasa bahkan sudah selesai berolahraga. “Untung tuan Yasa tidak mendengar pembicaraan kita tadi.” Bi Sika ngeri sendiri. “Ya sudah. Bibi selesaikan sarapan untuk tuan Yasa, biar aku yang memasak sarapan untuk kita.” “Siap, Non Nara.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD