“Apa sarapannya sudah siap?” tanya Yasa begitu berpapasan dengan bi Sika di dekat tangga. Pelayan yang sudah merawatnya sedari kanak-kanak itu entah sedang melakukan apa di sana.
“Ya, Tuan muda. Sarapannya sudah siap di atas meja semua.”
Yasa mengangguk kilas kemudian melanjutkan langkah. Menuju dapur seraya mengancingkan lengan kemeja berwarna putih yang akan dia pakai ke perusahaan. Beberapa hari kemarin dia melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan mulai hari ini, dia akan beraktivitas seperti biasa.
Sebenarnya, alasan perjalanan bisnis kemarin juga karena dia ingin menghindar. Rasa tak siap dengan pernikahan yang begitu tiba-tiba sampai rasanya dia tidak ingin pulang dan bertemu sang ayah yang sudah membuatnya marah. Namun, masalah tidak akan pernah selesai jika dia terus lari seperti pecundang. Karena itu dia memutuskan pulang dan menemui gadis desa yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Tring!
Yasa yang tak memperhatikan sekitar begitu duduk di kursi meja makan, pun dikejutkan oleh denting sendok yang refleks membuatnya mendongak. Mencari sumber suara yang ternyata berada tepat di depannya.
Rupanya gadis desa itu berada di meja makan juga. Nampak sibuk menikmati sarapan dengan kepala tertunduk dalam.
Yasa berdecak.
Rasa ingin mengatakan sesuatu tetapi, gadis itu nampak takut. Jemari lentiknya yang memegang sendok saja dia lihat gemetar hingga membuatnya urung mengatakan beberapa patah kata yang sudah tersusun rapi di kepala. Akhirnya, dia pun memulai sarapannya juga. Bertingkah seolah tak peduli dengan sekitarnya dan fokus mengisi perut sebelum berangkat bekerja.
“Apa Ayah memberitahu Bibi, kapan Ayah pulang dari perjalanan bisnis?” Yasa baru menyelesaikan sarapannya dan kebetulan sekali bi Sika masuk ke dapur. Baguslah karena dia tidak berdua dengan patung.
Bi Sika menggeleng sebentar. “Tidak, Tuan muda. Tuan tidak mengatakan apa-apa.”
“Baiklah. Kalau begitu aku berangkat sekarang.” Yasa bangkit dari duduknya seraya merapikan kerah kemeja. “oiya, minta pak Eko mengantarkan makan siang. Hari ini aku mau makan siang masakan Bibi saja,” ucapnya sebelum meninggalkan ruangan.
“Siap, Tuan muda. Hati-hati di jalan.”
Setelah aura Yasa benar-benar meninggalkan dapur, barulah Nara berani mengangkat kepalanya yang terasa kaku. Sempat dia menggerutu. Mengutuk kebodohannya yang bisa-bisanya lupa jika saat ini tidak hanya ada dirinya dan bi Sika. “Ahh ... kenapa aku lupa jika tuan Yasa ada di rumah ini juga.” Nara memijat lehernya yang terasa kram. Beberapa menit lamanya dia terdiam dengan posisi menundukkan kepala. Benar-benar diam sampai untuk bergerak sedikit saja dia takut ketahuan.
Bi Sika mendekat. “Memangnya kenapa, Non? Cuma sarapan di meja yang sama harusnya tidak masalah toh?”
Nara tersenyum kilas. Menurut bi Sika mungkin iya. Tapi Abiyasa? Melihatnya tak sengaja menjatuhkan sendok saja, tatapan Abiyasa sudah ingin menerkamnya.
“Nanti-nanti, aku sarapan sama Bibi saja ya?”
Bi sika hanya mengerjap dan Nara pun melanjutkan sarapannya yang tertunda. Menyantap nasi goreng kesukaannya yang sebelumnya hangat dan sekarang sudah sedingin Abiyasa.
**
“Selamat pagi, Tuan muda.”
Beberapa sapaan terdengar saat Abiyasa melangkah memasuki perusahaannya yang besar. Perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya karena sang Ayah sudah angkat tangan. Dalam artian menyerahkan kepemimpinan kepadanya sepenuhnya karena ayahnya memilih menekuni hobinya. Yakni berbisnis di bidang perkebunan dan karena bisnis itulah, dia harus menikahi gadis desa itu.
Ngomong-ngomong soal si gadis desa.
Bisa-bisanya gadis itu tak bereaksi apa-apa saat dia mengatakan kata-kata jahat semalam? Bisa-bisanya gadis itu menurut saja saat dia beri perintah?
Harusnya gadis itu menangis bukan? Harusnya gadis itu tidak terima saat dia terang-terangan menolak pernikahan dan berjanji akan mengakhiri hubungan dalam waktu cepat.
Aneh memang.
Meski pernikahan ini terjadi karena paksaan ayahnya, tentu gadis itu harusnya bersyukur karena memiliki suami tampan, pintar dan kaya raya sepertinya. Harusnya gadis itu memohon diberi kesempatan untuk membuktikan dia layak. Harusnya gadis itu memelas seperti gadis lain yang berharap menjadi istrinya.
Abiyasa mendaratkan tubuhnya di kursi kebesaran kemudian memijat pelipisnya pelan. Mendadak dia kesal tanpa sebab. Kesal akan sesuatu tapi tidak bisa mengungkapkan.
Apakah karena baru kali ini dia bertemu gadis yang berbeda dengan gadis lainnya?
“Menyebalkan sekali."
Yasa memukul meja dan tiba-tiba saja pintu di depannya terbuka. Seorang laki-laki memakai setelah hitam masuk dengan tawa jahilnya.
Darma Hilmana.
Sahabat Yasa sejak bangku kuliah itu mendaratkan tubuhnya di kursi yang berseberangan dengan pewaris tunggal. “Nampaknya ada yang kesal sampai alisnya memerah,” ejek Darma yang begitu saja Yasa tanggapi dengan lemparan spidol warna.
“Tutup mulutmu!”
“Kenapa? Apa gadis itu memang seperti bayangan kita?” Darma menebak. Menjadi sahabat Yasa satu-satunya, tentu membuatnya tahu segalanya tentang kehidupan pria itu. Termasuk pernikahan Yasa yang begitu tiba-tiba sampai Yasa pergi dari rumah. Saking kesalnya juga, Yasa dan tuan Bisma sampai bersitegang. “kamu sudah bertemu dengannya ‘kan?” Darma melanjutkan. Sebenarnya dia tidak mau membahas ini sekarang apalagi aura Yasa tidak bersahabat. Namun, maaf saja dia tidak bisa. Dia bisa mati penasaran jika memendam.
“Aku akan menendangmu dari sini jika rahasia ini sampai diketahui orang lain.”
“Ya Tuhan, Yasa. Kapan aku ingkar janji? Kapan aku tidak menepati sumpah yang aku buat dengan sepenuh hati?”
Yasa mendengus kecil. Darma memang satu-satunya orang yang dia percayai di dunia ini. “Gadis itu justru tidak seperti bayangan kita. Sangat berbeda. Sangat bertolak belakang dari yang kita pikirkan.”
“Jadi wajahnya jelek?” Darma menerka lagi. “kalau wajahnya jelek ya salahmu sendiri. Harusnya saat itu kamu menemuinya lebih dulu. Tidak langsung setuju.”
“Aku tidak tahu mengenai hal itu tapi gadis itu seperti patung.” Yasa mulai menggerutu. “Kamu tahu sendiri kan semua gadis tergila-gila padaku? Mereka menggodaku dan berlomba ingin menjadi istriku bahkan di kali pertama bertemu. Tapi gadis desa itu ... “ Yasa diam sebentar sebelum melanjutkan, “dia diam saja saat aku terang-terangan menolak pernikahan ini, Darma. Saat aku berkata kita bukan suami istri dan menyuruhnya bersikap layaknya orang asing sampai dalam beberapa bulan ke depan aku akan menceraikannya dia juga diam tanpa reaksi apa-apa. Saat aku ada di depannya pun, dia bersikap tak peduli. Aneh sekali ‘kan?”
Darma mengetuk dagunya. “Ya. Ini fenomena yang aneh sekali kecuali ....”
“Kecuali apa?”
“Gadis itu rabun alias tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas. Bisa juga pendengarannya tidak baik hingga tidak bisa mendengar semua perkataanmu dengan seksama, atau kemungkinan terburuknya ... gadis itu tidak memiliki ketertarikan kepada seorang pria.”
“Seburuk itukah?” Yasa mengangkat sebelah alisnya. Terkadang prediksi Darma memang di luar nalar tapi ada beberapa yang benar.
“Karena itu kamu harus memastikan, Yasa. Lakukan uji coba. Tes apakah penglihatan dan pendengarannya masih sehat dan mengenai prediksi terakhir ....”
“Aku harus menidurinya?” kali ini Yasa melempari Darma dengan map di dekatnya. “jangan gila!”
Darma terbahak. Baru kali ini masalah Yasa membuatnya bahagia. “Tidak juga, Yasa. Maksudku—“
“Sudah. Aku tidak mau mendengar lagi. Berhenti membahas hal tidak penting ini karena aku juga tidak peduli. Dalam beberapa bulan ke depan aku akan menceraikan gadis itu dan ayah tidak akan bisa mengubah keputusanku.”
Titik tidak pakai koma.
Kalau Abiyasa sudah membuat keputusan, maka siapa pun tidak akan bisa mengubahnya. Termasuk tuan Bisma yang harus memiliki senjata untuk mengancam si keras kepala.
Gadis itu pasti akan jatuh hati juga padaku. Lihat saja nanti.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!”
Darma menegakkan tubuhnya saat seorang karyawan masuk ke ruangan. Tentu dia harus bersikap profesional selayaknya bawahan Abiyasa saat ada orang lain di sana.
“Selamat pagi, Tuan. Perkenalkan nama saya Diajeng Utomo. Karyawan magang yang baru masuk hari ini. Saya diperintahkan Bu Silvi untuk menyerahkan laporan keuangan bulan kemarin.”
Yasa mendongak. Hendak melihat seperti apa wajah karyawan baru yang muncul di depannya. Namun, ketika melihat wanita itu tersenyum tanpa malu, dia pun mengalihkan pandangannya ke arah map yang ditumpuk. “Hm. Letakkan saja di atas meja.”
Karyawan baru yang tak lain adalah saudara tiri Nara, pun melakukan perintah Yasa. Dengan pelan Ajeng meletakkan map di atas meja kemudian berdiri anggun dengan senyuman lebar. Dia sudah mengincar perusahaan ini sejak awal. Selain gaji karyawan tetap yang diterima cukup besar, gosip yang beredar di kampus tentang pewaris perusahaan yang masih lajang pun menarik minat.
Abiyasa Daniswara.
Siapa yang tidak tahu si tampan nan kaya raya itu? Semua wanita bahkan berlomba untuk mendapatkan hatinya dan menjadi istri Yasa, tentu menjadi mimpinya mulai sekarang.
“Apa ada hal lain yang bisa saya kerjakan, Tuan?” Ajeng mulai menarik perhatian tetapi, jawaban yang dia dapatkan sungguh membuatnya tertantang.
“Karena pekerjaanmu sudah selesai, keluar lah dari ruanganku sekarang.”