4 Tahun kemudian
“Ibu mau jual ladang. Ajeng butuh uang untuk beli make up.”
Gerak tangan Dinara yang saat itu sedang menyuapi sang Ayah berhenti sebentar. Bola mata teduhnya yang semula menatap wajah tirus Bagas Gunawan, pun beralih ke arah tembok kusam yang sudah mengelupas di beberapa bagian.
Terdengar helaan napas tertahan. Namun, Rita Ambarsari tak melihat karena posisi Dinara yang membelakanginya.
“Biasanya Ibu tidak bilang. Apa kali ini perlu persetujuanku karena ladang itu adalah kepunyaan almarhumah Ibuku?”
Gemeletuk gigi Rita terdengar bersamaan dengan langkah Rita yang mendekati Nara dan begitu saja menyambar rambut Nara yang terikat rendah. “Berani kamu menentangku hah?! Berani kamu menjawabku dengan cara tidak sopan seperti itu, Nara?!” mata Rita berkilat kejam. Bertahun lamanya dia melakukan tindakan seperti ini dan rasanya kesal sekali saat Nara tidak menunjukkan rasa sakit.
“Apalagi yang bisa aku katakan? Bukankah Ibu sudah menjual semuanya sampai tidak ada yang tersisa?” balas Nara apa adanya. Bukan tarikan kuat tangan ibu tirinya tidak menimbulkan rasa sakit tetapi, dia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. “selain itu, hutang keluarga juga menumpuk—“
“Tutup mulutmu!” Rita mendorong kepala Nara lantas menunjuknya dengan sebelah tangan. “sadar dirilah jika hutang-hutang itu menumpuk karena ayahmu yang tidak berguna ini! Andai dia tidak sakit stroke, tentu aku tidak akan menjual semua lahan dan menumpuk hutang!”
Nara tersenyum kilas. Ingin rasanya membalas karena untuk biaya pengobatan ayahnya dia lah yang bekerja keras. Akan tetapi, dia sudah lelah berdebat dan jika terus membalas, maka ibu tirinya akan semakin berulah. Selainnya, dia malu juga jika tetangga sampai mendengar.
“Pokoknya lahan itu akan Ibu jual hari ini juga! Titik!”
Lihat!
Rita memang tidak akan pernah berubah. Sekeras apa pun Nara berusaha, Rita akan tetap dengan keputusannya. Menjual semua harta benda milik ayahnya demi memanjakan putrinya yang semenjak 4 tahun lalu tinggal di ibukota.
Diajeng Utomo.
Berbeda dengan dirinya yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus banting tulang dan terkadang meminjam uang untuk membeli obat, Ajeng justru kuliah di universitas ternama. Menikmati hidup layaknya tuan putri dengan tinggal di apartemen elite. Bebas membeli apapun yang Ajeng mau termasuk jalan-jalan sesuka hati dengan dompet terisi penuh.
Wanita itu tak akan pernah peduli jika uang jajan yang lancar setiap bulannya berasal dari memerasnya. Mengambil warisan yang sama sekali bukan haknya tapi dia bisa apa?
Rita memiliki kuasa penuh atas semua harta milik ayahnya termasuk rumah yang ditempatinya sekarang. Sempat Nara mencari tahu tetapi, semua usahanya sia-sia. Semua harta milik ayahnya telah jatuh ke tangan Rita dan semua kemalangan ini memang sudah menjadi nasibnya. Jadi, apalagi yang bisa dia lakukan selain diam dan terus bertahan?
“Hemm ... Hem ....”
“Kenapa, Yah?” lamunan Nara buyar manakala suara ayahnya terdengar. Lekas dia menatap wajah yang sempat membuatnya kecewa kemudian tersenyum seperti biasa. “Ayah mau minum?” tanyanya dan Bagas menggelengkan kepalanya pelan. “mau makan lagi?” lanjutnya tertahan.
Sungguh Nara bisa melihat adanya penyesalan sekaligus kesedihan mendalam dari manik mata sayup ayahnya yang menjadi alasannya terus bertahan. Mengubur luka lama yang sempat membuatnya rapuh dan berpikir jika semuanya sudah sirna. Pupus bersama mimpi-mimpi yang selamanya tidak akan pernah bisa dia raih karena jalan hidupnya yang teramat menyakitkan.
“Jangan pikirkan aku. Cukup pikirkan kesehatan Ayah saja. Terus berjuang untuk sehat kembali ya? Sungguh, aku ingin melihat Ayah sehat seperti sedia kala.” Nara mengusap wajah ayahnya dengan telapak tangan. Kesal sekali karena dia tidak bisa membendung air mata yang tiba-tiba saja sudah membasahi pipi. Sadarnya tidak bisa terus berpura-pura kuat menghadapi. Akan tetapi, menangis di depan ayahnya adalah satu hal yang selalu dia hindari.
“Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menjalani hidup seperti ini. Sekarang Ayah minum obat kemudian beristirahat. Aku masih ada pekerjaan di luar.” Cepat Nara menyelesaikan rutinitas paginya sebelum berangkat bekerja dan setelahnya dia meninggalkan ruangan setelah mencium punggung tangan ayahnya.
Bagas Gunawan yang menatap punggung ringkih putri semata wayangnya sebelum pintu tertutup rapat pun tak kuasa menahan air mata yang berjatuhan. Dia telah melakukan dosa besar dengan menikahi Rita Ambarsari. Secara tak sadar, dia menciptakan neraka untuk putrinya sendiri dan entah kapan semua ini akan berakhir. Sudah terlalu lama Nara menderita. Sedang dirinya sama sekali tak berguna. Pikirnya, apa sebaiknya dia mati saja agar Nara bisa lepas dari ini semua?
**
“Aku mau menjual ladang.”
Rita meletakkan selembar kertas di atas meja. Dengan dagu terangkat, wanita yang dipenuhi kesombongan itu menatap pria bertubuh gempal dengan hiasan rambut putih di depannya.
Bambang Hartanto.
Mafia tanah yang ditakuti di desa karena kekejamannya. Tidak kenal ampun dan selalu semena-mena. Tidak pernah berbelas kasihan kepada orang tak punya dan salah satu hal yang harus diwaspadai dari tua bangka itu adalah, Bambang Hartanto gila wanita.
“Haha ... haha ... hahaha. Apa kamu bilang? Mau menjual ladang?” tawa Bambang menggema memenuhi ruangan. Bersama tawa anak buahnya yang ikut merayakan kesenangan sang juragan.
Brak!
“Hutangmu yang menumpuk itu belum kamu lunasi sepeser pun, Rita dan sekarang kamu ingin menjual tanah?!” Bambang mengusap dagunya yang berjanggut lumayan tebal. “sungguh tidak punya malu.”
“Jaga bicaramu!” keberanian Rita, jelas memancing kemarahan Bambang yang tidak pernah mau menerima penghinaan. Namun, cepat-cepat Rita menjilat seperti yang biasa dia lakukan. “maksudku, aku minta maaf karena belum bisa membayar semua hutang itu, Juragan. Tapi mau bagaimana lagi? Juragan tahu sendiri jika Bagas belum sembuh, dan sekarang aku butuh uang untuk biaya pengobatannya.”
“Seharusnya kamu buang saja suami tak berguna sepertinya,” komentar Bambang tanpa perasaan. Lagi-lagi pria itu bahagia melihat penderitaan orang di sekitarnya. “namun, untuk kali ini aku sudah tidak bisa melakukan transaksi jual beli denganmu, Rita. Aku sudah muak menunggu apalagi bunga dari hutangmu juga semakin menumpuk.” Bambang menyabet surat tanah di atas meja kemudian melihatnya sebentar. “aku anggap ladang yang ini sebagai alat tebus hutang saja dan ini pun tidak seberapa.”
“Bagaimana bisa?” Rita cemas luar biasa. Jika dia tidak bisa mendapatkan uang itu, apa yang akan terjadi pada Ajeng di sana? Ajeng baru saja mencari pekerjaan. Tentu penampilannya harus mendukung. “saya mohon juragan, tolong jangan lakukan ini. Saya butuh uang untuk pengobatan Bagas.”
“Aku tidak peduli! Aku butuh uang, Rita! Uang! Jadi bermimpi saja jika aku akan mengasihanimu.” Bambang Hartanto kekeh dengan keputusannya dan Rita semakin tak sabaran.
“Apa yang bisa aku lakukan agar hutang suamiku bisa berkurang?” seperti biasa Rita mencari celah untuk mengamankan dirinya. Memutar otak agar bisa lepas dari masalah sekalipun ada orang lain yang harus menjadi korban. “apakah aku bisa menjadikan putriku sebagai alat penebus hutang seperti yang orang lain lakukan?”
Tawa Bambang Hartanto lagi-lagi menggelegar dan Rita tahu, jika masalahnya kembali teratasi dengan mulusnya.
“Aku setuju.”