Bab 2 - Dipaksa Menikah

1232 Words
“Nara! Nara!” Bi Asih, satu-satunya orang yang dekat dengan Nara berlari kecil. Wanita setengah baya itu nampak menenteng tas belanjaan berisi sayur-sayuran. Nampak nya, bi Asih baru saja pulang dari pasar. “gusti ... untung ketemu kamu di sini.” Nara tersenyum kecil. “Ada apa, Bi?” “Kamu ada pekerjaan apa hari ini?” bi Asih menghela napas kecil. Belum Nara menjawab, wanita itu sudah melanjutkan. “kalau bisa jangan kerja yang lain dulu ya, Nara. Tuan Bisma mau datang. Seperti biasa, kamu cuci dulu ya kelambunya?” Nara berpikir sejenak. “Kapan tuan Bisma datang, Bi? Hari ini aku disuruh bu haji bersih-bersih. Setelahnya, masih harus ngajarin anak bu haji karena ada ujian akhir.” Selain rajin dan pekerja keras, Nara adalah gadis pintar. Sayang Nara tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah karena kondisinya sekarang. Selain faktor ekonomi, tentu Nara tidak mungkin meninggalkan ayahnya seorang. . “Belum tahu juga si, Nduk. Soalnya ‘kan tuan Bisma itu suka datang tiba-tiba. Tapi kalau sudah ada pemberitahuan begini ya pasti datang. Apalagi sedang panen raya.” Nara menatap nyalang. Pupil matanya melalanglah jauh ke ujung sana. Yakni ke arah perkebunan tuan Bisma tempat dia mencari uang sekaligus kehilangan kehormatan. Setelah malam menyakitkan itu, sempat dia berpikir untuk berhenti. Berencana mencari pekerjaan di tempat lain tetapi, dia tidak punya nyali untuk meninggalkan pak Dadang dan Bi Asih. Dia tidak pernah bisa mengatakan tragedi yang dia alami dan akhirnya memendam sendiri sampai saat ini. Selainnya, pasangan suami istri itu sudah banyak membantunya dan satu-satunya hal realistis yang membuatnya terus bertahan sampai sekarang adalah, upah bekerja di perkebunan tuan Bisma itu dia dapatkan terus menerus karena bekerja di sana tidak ada kata liburnya. Tentu sangat lumayan untuk menyambung hidup apalagi ada upah mencuci kelambu yang tidak akan pernah dia dapatkan di tempat lain. “Begini saja.” Bi Asih mendapat ide cemerlang. “kelambunya kamu cuci setelah pekerjaan kamu selesai. Nanti sore juga tidak apa-apa biar besok pagi Bibi tinggal jemur saja. Bagaimana?” Nara spontan menggelengkan kepala. Mana mau dia lewat perkebunan malam-malam? Trauma malam itu saja masih menghantui sampai sekarang. “Bibi tidak lupa ‘kan jika aku tidak bisa bekerja lewat petang?” “Nanti biar Bibi yang jelaskan, kalau ibumu yang seperti mak lampir itu mengomel. Lagian kamu pulang malam bukan karena keluyuran tapi bekerja.” “Bukan begitu, Bi.” Nara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. “aku ... aku takut hantu.” Entah dari mana kata itu berasal. Namun, takut hantu adalah alasan paling masuk akal yang bisa Nara katakan untuk meyakinkan bi Asih sekarang. “Hantu? Mana ada hantu, Nara? Bukannya kamu sendiri yang tidak percaya jika hantu itu ada?” “Mulanya iya. Tapi semenjak aku bertemu langsung dengan hantu bertubuh besar di perkebunan saat sedang sendirian, aku jadi tahu jika hantu itu benar-benar ada.” “Serius, Ra?” kali ini bi Asih yang dibuat penasaran. Dia jadi ingat cerita pak Dadang jika Nara tidak pernah mau lagi bekerja sampai malam. Terakhir, 3 atau 4 tahun silam. Saat pak Dadang meminta bantuan Nara untuk mencatat nota. “penunggu perkebunan kali, Nduk?” “Mungkin ... tapi Bibi tidak perlu takut. Lagian Bibi tidak pernah lewat perkebunan malam-malam sendirian ‘kan?” Nara mencoba meyakinkan. “dan mengenai pekerjaan mencuci kelambu, bagaimana kalau aku kerjakan besok pagi saja? Pagi-pagi sekali aku pasti datang.” “Baiklah kalau begitu. Besok pagi Bibi tunggu ya?” bi Asih akhirnya menyerah. Pekerjaan mencuci kelambu memang tak pernah diganti karena Nara lah yang paling tahu detailnya. Pernah dia mempekerjakan orang lain saat Nara tiba-tiba menolak tanpa alasan yang jelas dan berakhir merusak serat kainnya. Tentu, dia tidak mau menanggung risiko yang sama. “Siap, Bi. Sampai bertemu besok pagi. Maaf aku harus segera pergi.” Nara meninggalkan pijakan. Menghilang di antara pohon-pohon yang menjulang di tepi jalan dan bi Asih pun melakukan hal sama. Tugas wanita itu adalah menjaga rumah tuan Bisma. Jadi sudah bisa ditebak ke mana arah tujuannya. ** “Baru pulang, Nara?” Kaki putih Nara yang beralas sandal kelabu berhenti berpijak. Begitu saja pandangannya tertuju ke sumber suara. Tempat di mana seorang pria gempal yang ditakuti penduduk desa berdiri—bertolak pinggang. “Juragan?” Nara menelan saliva kasar. Spontan dia meletakkan amplop yang dipegangnya ke saku jaket yang menutup badan. Sungguh dia tidak siap jika upah yang dia dapat, juragan Bambang ambil untuk membayar hutang. Bambang Hartanto tersenyum culas. Dengan kurang ajar pria itu mendekat kemudian memegang bahu Nara yang sigap menghindar. “Kenapa menghindar, Nara?” seperti melihat kuntum bunga yang baru mekar, Bambang sampai menelan saliva kala melihat kulit Nara yang mulus tanpa cela. Meski gadis itu tak memakai riasan, aura kecantikannya tetap terpancar. Mendadak Bambang menyesal, kenapa tidak dari dulu dia menjadikan Nara sebagai selirnya? “Jangan kurang ajar!” pekik Nara dengan berani. “saya bisa membuat Anda digebuki.” “Benarkah?” Bambang tertawa kecil. Lagi-lagi mata jelalatannya menatapi Nara mulai ujung kepala sampai ujung kaki. “rasanya tidak mungkin karena semua orang takut padaku.” Lanjutnya seraya memegang lengan Nara dengan erat dan sudah bisa ditebak bagaimana respons Nara setelahnya. “Lepas! Jaga sikap Anda!” “Dengar, Dinara!” Bambang menyentak lengan Dinara kuat. “sebentar lagi kita akan menikah. Tentu aku bebas melakukan apapun karena kamu adalah calon istriku.” Apa? Dinara tercekat luar biasa. Rasanya seperti ditampar dengan kuat hingga membuatnya tidak bisa berkata-kata. “Jangan mengada-ngada. Ya. Memang benar keluarga saya punya hutang yang lumayan besar tapi saya tidak akan—“ “Ibumu sudah setuju dan kamu bisa menanyakannya langsung. Kamu ... sudah kami jadikan sebagai alat transaksi, Dinara. Kamu akan menikah denganku dan semua hutang-hutang itu lunas tanpa tersisa sepeser pun.” Dinara membeku. Sesaat kehilangan arah karena rasa tidak percaya atas apa yang dia dengar dari pria kejam itu. Namun, jangan lupa. Rita bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya termasuk membuatnya hancur, sehancur-hancurnya. Brak! Pintu rumah yang telah usang Nara buka dengan kuat. Begitu saja dia melangkah mencari ibu tirinya yang saat ini pasti tengah bersantai ria menonton acara televisi kesukaanya. “Apa yang Ibu lakukan? Kenapa ibu—“ “Diam!” Rita menutup telinga kemudian bangkit dari duduknya. Raut wajahnya yang tidak pernah bersahabat, menoleh ke arah Nara yang sudah berkaca-kaca. Dia tahu kenapa Nara datang kemudian mencecarnya. Sudah pasti karena Bambang Hartanto sudah mengatakan rencana pernikahan mereka. “Belum puas hah? Belum puas Ibu membuatku menderita? Belum puas Ibu menghancurkan semuanya? Apa yang Ibu pikirkan sampai berniat menjadikanku sebagai alat penebus hutang? Hutang yang bukan menjadi tanggunganku karena semua uang itu untuk Ajeng.” Dinara mulai terisak. Tidak lagi bisa menahan sesak yang mengimpit d**a. “aku tidak mau, Bu. Aku tidak mau menikah dengan pria itu.” “Kalau begitu bersiaplah untuk kehilangan ayahmu dan rumah peninggalan ibumu, Dinara! Juragan Bambang akan mengambil rumah ini sebagai alat penebus hutang dan ayahmu ... kamu jelas tahu apa yang akan terjadi padanya.” Rita dengan tega mencengkeram lengan Nara yang lagi-lagi dibuat tak berdaya oleh keadaan. “ma—ti. Mati dengan kondisi mengenaskan, Dinara dan kamu lah yang bertanggung jawab atasnya.” “Hiks!” Ingin rasanya berteriak—mengungkapkan rasa sakit yang kali ini tidak sanggup Nara pendam. Namun, sekali lagi Nara hanya bisa terisak. Meratapi nasibnya yang teramat menyakitkan sampai dia tidak tahu kapan bahagia itu datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD