Bugh !
Nara meletakkan ember berisi kelambu yang sudah dia cuci dan kebetulan sekali ada pak Dadang yang melangkah mendekati. “Selamat pagi, Pak,” sapanya seraya tersenyum kecil.
“Kenapa tidak minta bantuan Bapak tadi?” Pak Dadang menatap iba. Nara terlalu berat menanggung beban sampai tidak menjalani hidup seperti gadis lainnya.
“Tidak apa-apa, Pak. Ini tidak berat.” Nara hendak mengambil kelambu di dalam ember tetapi pak Dadang mencegahnya.
“Biar Bapak yang jemur, Nduk.”
“Jangan, Pak. Ini pekerjaan—“
Pak Dadang tahu Nara akan menolak bantuannya karena itu dia lekas mencari alasan. “Maksudnya biar Bapak yang mengerjakan karena Bapak mau minta tolong.” Lanjutnya, “tolong salin kan nota hasil petikan kopi para buruh, Nduk. Bapak agak pusing hitung-hitungan terus dari tadi padahal buku besarnya harus sudah selesai karena tuan Bisma mau datang.”
“Kalau aku kerjakan setelah—“
“Sudah. Ayo bertukar pekerjaan sekarang biar cepat selesai.”
Nara pun menerima. Lekas dia mengambil buku besar yang sebelumnya dipegang pak Dadang. Membawanya ke arah gazebo yang berada tidak jauh dari sana dan tak lama setelahnya, bi Asih pun datang.
“Ini, minum teh nya dulu, Nara. Nanti setelah selesai, jangan lupa sarapan. Bibi sudah masak.”
“Terima kasih, Bi.” Nara menatap bi Asih kilas kemudian melanjutkan pekerjaannya. Bi Asih memang begitu baik sampai rasanya seperti orang tua sendiri. “oiya, kapan tuan Bisma datang?” lanjut Nara memecah keheningan. Suasana di sana memang begitu sunyi. Sampai tidak ada suara yang terdengar selain kicau burung dan suara air kolam yang mengalir.
“Bibi juga tidak tahu. Bisa nanti malam atau besok pagi. Pokoknya tuan Bisma itu kalau datang tiba-tiba sekali. Sering bikin Bibi pusing karena tidak ada persiapan sama sekali.”
Nara tersenyum tipis. Sesaknya sedikit terobati karena mendengar celotehan bi Asih yang menggelitik. Sebenarnya dia tengah berpikir, bagaimana caranya lepas dari masalah ini. Tapi semua jalan terasa buntu dan akhirnya, tiada yang bisa dia lakukan selain pasrah.
Menjadi istri Juragan Bambang? Ya Tuhan ... kenapa hidupku begitu malang?
“Pernah Bibi berpikir untuk menggoreng ikan-ikan yang ada di kolam karena tidak ada lauk sama sekali. Beruntung pak Dadang sigap mencegah dan Bibi pun ingat, jika masalah besar mungkin saja terjadi.” Bi Asih melanjutkan ceritanya dengan antusias. Mimik wajahnya bahkan mendukung saat melanjutkan, “tuan Bisma memang ramah dan baik hati, Nara tapi putranya ....”
Nara mengerjap. Pernah dia mendengar gosip yang beredar di antara para pekerja jika putra tuam Bisma itu memiliki kelainan jiwa. Entah benar atau tidak tapi yang pasti, ada saksi mata yang membenarkan.
“Dinara!” suasana tenang di sana mendadak buyar manakala kedatangan tamu tak diundang. Ibu tiri Nara yang saat itu datang dengan wajah bengisnya dan begitu saja menyentak tangan Nara tanpa perasaan. “pulang sekarang!”
“Eh! Apa-apaan kamu, Rita?” Bi Asih tak terima. Sebelah tangannya juga menahan tangan Nara yang menjuntai. “bagaimana bisa kamu berbuat se kasar ini pada Nara?”
“Jangan ikut campur nenek tua!” pekik Rita sinis kemudian melihat ke arah Nara. “sudah Ibu bilang jangan ke mana-mana kenapa kamu tidak mendengarkan, Nara? Ingat! Nanti malam kamu akan menikah dengan juragan Bambang!”
“Apa?! Jangan gila kamu, Rita!” kali ini bi Asih dibuat terkejut luar biasa. Wanita tua itu sampai menarik tangan Nara dan maju selangkah. “bisa-bisanya kamu ingin menikahkan Nara dengan si hidung belang itu hah?! Kenapa tidak kamu saja yang menjadi istrinya? Kalian cocok! Sama-sama bau tanah.”
“Heh! Sialan!” Rita ingin membalas bi Asih tetapi Nara sigap menjadi penengah. Pak Dadang pun turut membantu dengan mengamankan istrinya.
“Sudah-sudah ....” Nara menatap bi Asih dengan rasa bersalah. Sungguh dia tidak mau bi Asih mendapat masalah karena membelanya. “aku pulang dulu, Bi. Sampai bertemu nanti.” Hanya kalimat itu yang terbersit sesaat dia menarik tangannya dari genggaman bi Asih. Sekuat tenaga menahan isak tangis agar bi Asih tidak ikut sedih.
“Jangan mau, Nara! Jangan mau diperbudak oleh wanita lampir itu! Kamu tidak bertanggung jawab atas semua hutang-hutang itu!” bi Asih mulai terisak. Apalagi saat melihat tubuh Nara diseret oleh Rita. “Pak, tolong Nara, Pak. Dia tidak boleh menikah dengan pria gila wanita itu. Dia—“
“Sudah, Bu. Sudah. Kita tidak punya apa-apa untuk menolong, Nara. Kita tidak akan bisa melawan juragan Bambang.” Raut wajah pak Dadang jelas menunjukkan, jika kenyataan ini pun membuatnya begitu terluka. Namun, dia sadar diri bahwa dirinya serupa tikus kecil yang sampai kapan pun tidak akan pernah menang melawan seekor anjing.
**
Brughh!
Rita mendorong Nara hingga terjerembap di lantai. Tepat di depan Bagas Gunawan yang melihatnya dengan mata membola.
“Jangan coba-coba kabur kamu, Nara. Selangkah kamu pergi dari rumah ini, Ayahmu akan mati!”
Nara meringis tertahan. Terlebih saat Rita mengatakan, “Bersiaplah, Bagas. Nanti malam kamu akan menikahkan putrimu dengan Juragan Bambang sebagai alat penebus hutang.”
Bagas terenyak. Terkejut luar biasa sampai bola matanya terlihat basah. Ingin mengatakan sesuatu tetapi yang terdengar dari mulut terbukanya hanya racauan tidak jelas.
“Dasar tidak berguna.” Rita memutar bola matanya malas. Hendak meninggalkan kamar tetapi, suara Nara telah berhasil membuat kemarahannya meledak.
“Apakah juragan Bambang akan tetap menerima kalau aku tidak perawan?”
“Apa?” kali ini Rita sampai menyejajarkan tubuhnya dengan Nara yang masih bersimpuh di lantai. “jangan main-main kamu, Nara!” ancamnya seraya mencengkeram dagu Nara kuat.
“Aku tidak berbohong, Bu. Seseorang memang pernah merenggut kehormatanku.”
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi putih Nara yang telah basah oleh air mata dan demi Tuhan, Nara sudah lelah dengan ini semua.
“Siapa? Siapa yang sudah melakukannya?“
“Aku juga tidak tahu.”
“Sial!” Rita memijat pelipisnya pelan. Dadanya terasa panas luar biasa. Dia pikir semua masalah sudah teratasi dengan sempurna tapi ternyata?
Bambang bisa membunuhku jika aku mempermainkannya. Tapi tidak mungkin juga aku mengorbankan Ajeng. Ajeng harus bahagia. Cukup Nara saja yang menderita. Batinnya sebelum kembali pada Nara.
“Aku akan mengurusnya. Kamu cukup menurut saja.”
Rita pergi meninggalkan Nara berdua dengan ayahnya yang saat ini tengah menangis dalam diam. Tanpa perasaan pula mengunci pintunya dari luar.
“Jangan menangis, Ayah. Aku baik-baik saja selama Ayah baik. Tolong jangan menangis.” Begitu yang Nara katakan sebelum dia memeluk tubuh ayahnya erat-erat. Menangis terisak—menumpahkan semua sesak di d**a karena dia sudah tidak sanggup menahan.
Malam Harinya
Iring-iringan mobil juragan Bambang dan anak buahnya tiba di depan rumah Nara. Menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang hingga mengerumuni halaman rumah karena rasa penasaran. Penampilan mobil mewah itu pun tak seperti biasanya. Terdapat pita berwarna warni selayaknya mobil pengantin dan penampilan juragan Bambang juga sangat berbeda. Jas yang pria gempal itu pakai tersemat pita berwarna merah menyala. Tak lupa sekuntum bunga mawar merah yang terletak di saku bagian d**a.
“Bawa semua seserahannya. Jangan sampai ada yang lupa,” titahnya pada anak buah yang satu persatu membawa seserahan dalam kotak. Sebuah pemandangan yang jelas membuat semua orang terkejut luar biasa.
“Apakah Nara—“
“Ya. Nara akan menikah dengan Juragan Bambang! Cepat berikan selamat!”
Berbeda dengan juragan Bambang yang memasuki rumah dengan tawa menggelegar, Nara yang Rita dandani sedemikian rupa tengah menangis terisak. Berusaha di detik terakhir sebelum semuanya terlambat. “Aku tidak mau, Bu. Aku mohon batalkan pernikahan ini.” Nara bersikeras. Terus bertahan di pijakan saat tubuhnya diseret ke ruang depan.
“Tidak bisa, Nara. Sudahlah ... terima saja. Lagi pula hidupmu akan bahagia setelah ini. Kamu tidak perlu bekerja banting tulang lagi.”
“Hiks!”
“Dia lama sekali! Cepat seret Nara ke sini.” Juragan Bambang memerintah anak buahnya yang saat itu juga telah membantu menyeret Nara. Membuat tangis Nara pecah luar biasa. Mencoba memberontak dari kekangan walau tenaganya terbuang percuma.
“Cepat nikahkan kami—“
“Berhenti!”
Di tengah asa yang porak-poranda begitu pun pasrah yang telah menjadi putus asa, suara asing itu tiba-tiba terdengar memenuhi ruangan. Sontak saja menjadi pusat perhatian semua orang terutama Nara yang mendongak dengan air mata berderai.
Tu—tuan Bisma?
Meski hanya beberapa kali, Nara jelas tahu jika pria berpakaian rapi yang tengah berdiri di depannya saat ini adalah tuan Bisma Daniswara. Hanya ... alasan apakah yang membuat pria kaya itu datang ke rumahnya? Di saat tidak tepat pula?
“Pernikahan ini tidak dapat dilanjutkan,” ucap tuan Bisma dengan tenang. Mengundang tanya semua orang yang mendengar termasuk Bambang Hartanto yang begitu saja menggebrak meja.
“Apa maksudmu?! Siapa kau sampai berani—“
“Bisma Daniswara. Orang yang sepadan menjadi lawanmu ... Juragan.”