“Nara?” panggil tuan Bisma yang saat itu ada di meja makan. Mereka baru selesai makan malam dan kebetulan Nara masih ada di sana. “sudah 1 bulan kamu di sini. Aku pikir, kamu harus mencari kegiatan lain.” Nara yang seperti biasa menundukkan kepala pun mengangkat pandangan saat mendengar perkataan tuan Bisma. “Kegiatan lain? Maaf saya tidak mengerti.” “Aku tahu ini sedikit terlambat tetapi, tidak ada salahnya kamu melanjutkan pendidikan. Kamu ingin kuliah ‘kan?” Nara tercekat. Raut wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. Ada angin apa sampai tuan Bisma mengajukan pertanyaan yang jujur menjadi cita-citanya sejak lama? Nara berusaha tenang. Tuan Bisma adalah pria baik dan murah hati. Tentu dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki garis nasib. Namun, helaan napas panjang Yasa

