bc

The Baby's Father

book_age16+
19
FOLLOW
1K
READ
family
HE
escape while being pregnant
second chance
friends to lovers
pregnant
drama
sweet
lighthearted
small town
disappearance
poor to rich
like
intro-logo
Blurb

Jonathan Fabian harus mengawasi secara langsung proyek pembangunan di lahan kosong yang baru dibelinya. Di sana dia bertemu seorang wanita dengan bayi mungilnya yang secara aneh langsung membenci John di hari pertama mereka bertemu. Tentu saja John merasa tersinggung dan berniat menjauhi wanita itu. Tapi melihat baby Bo yang selalu tersenyum cerah tiap bertemu dengannya, John malah bertekad mendekati si kecil dan membuatnya memanggil dirinya “papa” sebagai pembalasan atas sikap Zie.

Arzie Asyla bertekad menganggap Papa baby Bo sudah meninggal. Begitu pula yang dia katakan pada semua orang di kota kecil tempatnya kini tinggal. Tapi kehadiran John membuat tekadnya terguncang. Bagaimana tidak? Wajah John membuat Zie tidak bisa menghapus bayangan mantan suami yang telah menorehkan luka di hati Zie. Hidup Zie yang tenang dan damai menjadi kacau. Dan Zie merasa semakin tak terkendali saat baby Bo memanggil John “papa”.

Lalu akankah John berhenti mengusik Zie setelah rasa penasarannya akan sikap Zie padanya terjawab? Akankah dia menjauh setelah tahu dirinya sangat mirip dengan mantan suami zie?

---------------------

Post Dreame : Kamis (19.52), 13 Agustus 2026

Copyright © 2026 by Aya Emily

chap-preview
Free preview
Bab 1
Kamis (20.41), 13 Agustus 2026 ---------------------- Jonathan Fabian baru saja turun dari mobil dan hendak masuk ke kedai kopi di depannya saat perhatiannya tertuju pada wanita di seberang jalan. Wanita itu terlihat sangat kesulitan memasukkan barang-barang belanjaan di kedua tangannya ke dalam mobil sekaligus menjaga bayi dalam dekapannya agar tidak jatuh. Mengikuti insting, John menyeberang jalan lalu menghampiri wanita itu. “Hai, sini kubantu.” John tersenyum manis lalu segera mengambil alih kantong-kantong belanjaan di kedua tangan si wanita dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil yang terbuka. Setelah selesai dan berdiri menghadap si wanita, baru John sadari wanita itu mematung menatapnya. Ah, tidak. Bukan mematung. Tapi berdiri terkejut seperti baru saja melihat hantu. “Seharusnya kau minta seseorang di dalam supermarket untuk membantu,” John berbasa-basi, berniat mencairkan suasana. Namun sikap ramah John tak mendapat tanggapan. Si wanita segera menutup pintu bagasi mobil lalu berbalik menuju pintu depan untuk mendudukkan si balita di kursi bayinya dan bergegas masuk ke balik kemudi. Tanpa ucapan terima kasih. Tanpa sekedar senyum singkat. Wanita itu meninggalkan John di depan supermarket dengan perasaan bingung. Dia bahkan masih berdiri mematung hingga mobil si wanita hilang dari pandangan. “Apa itu tadi?” gumam John pada dirinya sendiri sambil menggosok belakang lehernya. Lalu refleks dia mengendus ketiak untuk memastikan badannya tidak bau hingga membuat wanita itu buru-buru melarikan diri saat John mendekat. “Hei, John!” John menoleh dan segera membalas lambaian tangan Bastin di pintu kedai seberang jalan. Dengan langkah tegap dia menghampiri lelaki itu dan membuntutinya masuk ke dalam kedai. “Kau lihat wanita yang menggendong balita di seberang jalan tadi?” tanya John begitu mereka duduk dan memesan kopi. “Ah, ya. Dia Zie dan bayinya. Baby Bo. Kau belum pernah bertemu dengannya?” John menggeleng. Sudah sebulan dia tinggal di kota itu tapi belum pernah bertemu dengan wanita yang tadi. Karena kalau pernah, John tidak mungkin melupakannya. Selain kota itu kecil hingga mudah mengingat para penduduknya, wanita yang dipanggi Zie oleh Bastin cukup menarik bagi John. Rambut sepunggungnya bergelombang cantik. Matanya menyorot tajam dengan bulu mata lentik yang melindungi manik mata sewarna madu. Dagunya lancip dan pipinya tirus tapi tidak sampai menampakkan tulang pipi hingga keseluruhan wajahnya terkesan lembut. Intinya bagi John, Zie cantik dan tidak mudah dilupakan. Tapi... “Apa sikapnya memang seperti itu? Atau hanya karena aku orang asing?” “Seperti itu bagaimana?” Sejenak Bastin berterima kasih pada gadis muda yang membawakan pesanan mereka. “Kau tidak lihat? Dia hanya menatapku seperti melihat hantu lalu kabur.” Bastin mengerutkan kening. “Benarkah?” “Untuk apa aku bohong?” Mendadak perasaan bingung John atas sikap Zie berubah menjadi kekesalan. Kalau Bastin heran dengan sikap wanita itu, berarti tidak biasanya dia bersikap tidak ramah. Yang artinya dia bersikap seperti singa betina pemarah hanya pada John. “Tidak biasanya Zie seperti itu.” Nah, kan! “Dia memang bukan orang yang mudah bergaul,” lanjut Bastin. “Cenderung penyendiri. Tapi cukup akrab dengan keluargaku terutama Julia dan si kembar. Tiap hari kerja, dia pasti menitipkan baby Bo ke rumah.” “Oh, si balita yang biasa bermain dengan si kembar itu ya?” Setelah Bastin mengangguk, John mengerutkan kening. “Mungkin karena itu dia ramah pada kalian?” “Setahuku sikapnya pada semua orang memang selalu ramah. Yah, bukan jenis wanita itu banyak bicara dan suka bertukar gosip pada siapapun yang dia temui di jalan. Tapi dia selalu tersenyum dan menyapa walau hanya singkat.” “Wah, aku mulai benar-benar kesal. Kedengarannya hanya padaku dia bersikap tidak ramah. Padahal aku tidak bermaksud merampoknya atau menculik bayinya. Hanya menolong.” Bastin menahan senyum geli sambil menyesap kopinya. “Jangan terlalu diambil hati. Mungkin dia sangat berhati-hati dengan orang asing. Wajar sih. Dia hidup sendirian. Dengar-dengar ayahnya baru meninggal lalu disusul suaminya. Karena tidak tahan tinggal di rumah lamanya, dia pindah ke kota ini dua tahun lalu. Sendirian dalam keadaan hamil. Aku sering merasa kagum dia sanggup bertahan sampai sekarang.” Mendengar hal itu, kekesalan John perlahan mereda. Dia mencoba menempatkan diri di posisi Zie dan berusaha memahami sikap waspadanya pada orang asing. “Sudah, lupakan soal Zie. Kau sudah melihat bagian proyek pembangunan itu yang bermasalah?” “Iya. Kau punya solusi?” “Menurutku harus sedikit mengatur ulang rancangan bangunannya. Akan memakan waktu dan biaya tambahan. Tapi ini lebih baik daripada berhenti total.” *** Arzie Asyla tidak langsung keluar dari mobil begitu ia tiba di halaman rumah sederhananya. Jantung Zie berdetak sangat kencang hingga terasa menyakitkan. Dia bahkan nyaris pingsan saat berhadapan dengan lelaki itu. Zie bukannya tidak tahu dengan kedatangan Jonathan Fabian ke kota ini. Apalagi suami Julia adalah kontraktor yang dipekerjakan John untuk mengurus proses pembangunan area perumahan di lahan kosong pinggiran kota yang baru dibelinya. Dan Zie sudah mencoba—dari jauh—untuk bersikap biasa saja tiap melihat wajah yang mengingatkannya pada suaminya. Pada segala masa lalu dan rasa sakitnya. Tapi ternyata Zie tidak bisa. Itu yang membuatnya berhati-hati selama sebulan ini agar tidak berpapasan langsung dengan John. Dia bahkan sudah berusaha untuk memastikan John tidak ada di kediaman Bastin saat dia harus mengantar dan menjemput baby Bo. Tapi ternyata semua usaha Zie percuma. Demi Tuhan! Zie sudah melewati yang terburuk dan berhasil. Lalu kenapa John harus datang dan mengusik ketenangannya? “Nggghhh...” Zie baru menegakkan tubuh setelah mendengar rengekan baby Bo. Si kecil tidak ada masalah terikat di kursi bayinya dalam mobil yang berjalan. Tapi dia pasti mulai bosan jika mobil dalam keadaan berhenti. Segera Zie keluar mobil lalu menuju kursi samping pengemudi untuk mengeluarkan baby Bo dan mendudukkannya di lantai beranda rumah. Saat dia mulai disibukkan dengan kantong-kantong belanjaan di bagasi mobil, baby Bo sudah berjalan dengan langkah tertatih menuju pintu masuk dan mengetuknya keras dengan kepalan tangannya yang mungil. “Tok... tok... tok...” goda Zie sambil mengeluarkan kunci pintu. “Apa ada orang di rumah?” Si kecil terkikik dan menampakkan dua gigi bawahnya yang tampak mengintip dari jejeran gusi. Saat pintu dibuka Zie dengan hati-hati, si kecil menjatuhkan diri dalam posisi merangkak lalu naik ke dalam rumah yang lantainya hanya sedikit lebih tinggi dari lantai beranda. “Bo main di situ dulu, ya. Mama mau taruh barang belanjaan di dapur.” Si kecil tak menanggapi karena dia langsung merangkak ke tumpukan mainan di sudut ruang tamu. Zie sangat bersyukur karena putra kecilnya bukanlah bayi yang rewel. Dia jarang sekali menangis. Kecuali saat lapar, popoknya basah, atau sakit. Selebihnya dia cukup mandiri sampai kadang membuat hati Zie sakit. Bagaimana tidak? Balita sekecil itu harus sering dia tinggal bekerja. Dari pagi pukul sembilan sampai pukul empat sore bukanlah waktu yang sebentar untuk seorang bayi ditinggal ibunya. Ya, memang. Wanita lain juga banyak yang melakukan hal yang sama seperti Zie. Terutama para wanita karir. Mau tak mau mereka harus meninggalkan bayi mereka. Tapi bagi Zie sebagai pendatang di kota ini, dia hanya memiliki Keivan, putranya. Jadi wajar kalau dia selalu merasa sedih karena harus sering meninggalkannya. Meski Zie sangat memercayai Julia, Bastin, dan si kembar Fia-Fanya, tapi rasa sedih itu tak bisa hilang. Ditambah rasa bersalah karena merepotkan Julia. Zie meletakkan barang belanjaan di dapur dan segera memilahnya untuk diletakkan di lemari penyimpanan. Tak lupa, tiap lima menit dia bergegas ke ruang tamu untuk memastikan baby Bo aman. Ini adalah kegiatan mingguan Zie. Tiap sabtu yang merupakan jatah liburnya, dia habiskan waktu untuk berbelanja keperluan selama seminggu ke depan. Dia tidak sempat melakukannya di hari bekerja. Karena setelah dari rumah Bibi Maria—tempat Zie bekerja sebagai penjahit—dan dilanjut menjemput baby Bo, langit sudah mulai gelap begitu ia tiba di rumah. Hidup Zie memang membosankan. Tapi dia sama sekali tidak mengeluh selama ada putra kecilnya di sampingnya. Bagi Zie kesenangannya sendiri sudah bukan hal utama. Karena yang paling penting adalah kesenangan baby Bo. Tak ada kata lelah meski dia harus duduk sepanjang hari berkutat dengan tumpukan pakaian pesanan yang selalu membanjiri rumah Bibi Maria. Dengan terus membayangkan wajah imut baby Bo dan senyum lebarnya tiap melihat Zie tiba di ambang pintu rumah Julia, sudah berhasil memacu semangat Zie untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan cepat pulang. Setelah semua keperluan dapur tersimpan rapi, Zie membawa kantong belanjaan berisi popok, bedak, makan siang, serta mainan baby Bo. Dengan agak terburu-buru Zie melempar popok dan bedak ke ranjang di kamar lalu bergegas menghampiri si kecil yang ternyata berusaha menaikkan tubuhnya ke atas sofa. “Hei, jagoan. Sudah mulai belajar naik-naik rupanya.” Zie tidak mau terlalu melarang putranya. Karena itu yang dia lakukan adalah merapatkan meja kayu berlapis kaca ke dinding hingga si kecil punya arena bermain yang lebih luas di depan sofa. Salah satu hal yang Zie syukuri memiliki rumah ini meski hanya rumah kontrakan karena segala perabotannya lengkap. Bahkan sampai tv dan kulkas pun ada. Memang agak mahal dibanding rumah kontrakan pada umumnya. Tapi Zie sama sekali tak keberatan selama tempatnya nyaman dan kebetulan dia punya uang simpanan. Setidaknya dia masih sanggup untuk terus mengontrak rumah ini sampai sepuluh tahun mendatang. “Bo, lihat! Mama punya mainan baru.” Dengan antusias Zie menyalakan mobil-mobilan polisi yang langsung berjalan di lantai dengan lampu merah-biru menyala terang dan suara keras berseru, “Fire... fire... fire...” Seketika Zie tertawa melihat ekspresi baby Bo. Si kecil agak tersentak begitu mobil itu bersuara dan bibir mungilnya langsung membentuk huruf o dengan pandangan yang tidak lepas dari mobil. Selama satu menit penuh, baby Bo yang kini memilih duduk di lantai terus memperhatikan mobilnya yang berkeliling-keliling di sekitar ruangan. Sesekali dia menunjuk mobil itu sambil menatap Zie dengan senyum lebar. Lalu bertepuk tangan saat mobilnya terhenti karena menabrak dinding. Saat rasa bosan mulai menderanya, baby Bo merangkak menghampiri mobil mainannya. Dengan penasaran, jari mungilnya menyentuh lampu di bagian atap mobil lalu tergelak. Zie memperhatikan bayi kecilnya dengan senyum bangga seorang ibu. Lalu dia tertegun saat disadarinya air mata jatuh bergulir membasahi pipi. Rupanya sekilas tadi Zie membayangkan andai Papa baby Bo ada di sini bersama mereka. Dengan perasaan marah yang dia tujukan pada diri sendiri, Zie mengusap pipinya dengan punggung tangan lalu mengeluarkan sekaleng soda. Seharusnya dia mengisi perutnya yang kosong lebih dulu. Tapi Zie sedang malas dan merasa berhak untuk sedikit melanggar aturan hidup sehat yang dia tetapkan sendiri sejak mengandung baby Bo. Hari ini adalah hari yang berat untuk Zie. Penyebabnya tentu saja pertemuannya dengan Jonathan Fabian. Dan Zie rasa ini baru awalnya. ----------------------- ♥ Aya Emily ♥

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
856.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
392.8K
bc

Not just, the Beta

read
365.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook