Bab 2

2071 Words
Kamis (20.51), 13 Agustus 2026 ----------------------- “Bagaimana penjualannya?” John menyesap kopi pertamanya di cafe dekat hotel tempatnya menginap. Rasanya tidak seenak di kedai kopi seberang supermarket. Tapi cukup untuk menyegarkannya di pagi hari. Atau lebih tepatnya menjelang siang seperti sekarang. “Lancar. Aku menaikkan harga jual dari rencana awal dan mereka langsung membelinya tanpa banyak komentar. Padahal aku sudah khawatir mereka menawar dengan sangat rendah.” Leon menjelaskan dari seberang telepon. Dia adalah mitra bisnis John dalam bisnis real estate yang mereka kelola bersama. “Bagus. Lalu bangunan bekas restoran yang terbengkalai itu, kau sudah melihatnya?” Terdengar Leon meringis. “Kau tidak serius berniat membelinya, kan? Warga sekitar bilang tempat itu berhantu.” John berdecak. “Aku lebih percaya pada instingmu daripada perasaan takutmu. Datang saja ke sana dan lihat, apa menurutmu tempat itu punya prospek yang bagus.” “Instingku mengatakan tempat itu sama sekali tidak punya harapan.” “Kau sudah tahu bahkan tanpa melihat tempatnya?” “Tentu saja. Percaya saja pada instingku.” John mendengus. Tapi dia tidak membantah lagi. Dia tidak bercanda saat mengatakan bahwa dirinya percaya pada insting Leon. Jika menurut Leon bangunan itu berpotensi menguntungkan setelah diperbaiki dan dijual kembali, gangguan hantu sama sekali tak akan menghentikan Leon. “Jadi, kau ganti nomor lagi?” tiba-tiba Leon bertanya. “Hanya selama aku di kota ini.” “Lalu nomor lamamu tidak aktif.” “Begitulah.” “Bagaimana dengan Rana? Dia terus mencecarku menanyakan di mana dirimu dan kenapa ponselmu tidak aktif.” “Bilang saja kau tidak tahu.” Rana selalu menjadi masalah terbesarnya saat ini. Secara hukum, dia adalah istri John. Tapi selama dua tahun pernikahan, tidak sekalipun John pernah menyentuhnya. Bukan karena dia membenci Rana. John menyayanginya. Masalahnya rasa sayang John pada Rana lebih seperti seorang kakak pada adiknya. Tidak bisa lebih. Leon berdecak. “Tadinya kau menolak ide mengawasi secara langsung pembangunan area perumahan itu. Sekarang kau menjadikan ini sebagai kesempatan untuk bersembunyi dan membuatku menjadi sasaran amukan Rana.” “Itulah gunanya teman.” John tergelak. Mereka masih berbincang selama beberapa menit sebelum mengakhiri panggilan telepon. Setelahnya John baru bisa tenang menikmati sarapannya yang terlambat karena sejak pagi, ponselnya tidak bisa lepas dari tangan. Usai sarapan, John masih menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya untuk menghabiskan waktu siang ini. Dia tidak harus datang ke area pembangunan karena untuk sementara situasi di sana lancar hingga Bastin tidak memerlukan kehadirannya. John baru memiliki janji temu untuk melihat lahan kosong lain di kota itu sekitar pukul empat sore nanti. Pasti akan sangat membosankan menunggu waktu bergulir tanpa melakukan apapun. Lalu perhatiannya tertuju pada poster ice cream di dinding cafe. Walau kopinya tidak terlalu enak, Bastin pernah bilang ice cream di cafe ini menjadi favorit anak-anak. Tanpa pikir panjang John langsung memesan sambil membayangkan wajah menggemaskan si kembar yang baru berusia empat setengah tahun itu penuh dengan lelehan ice cream. Tiap hari kerja, dia pasti menitipkan baby Bo ke rumah. Oh, tunggu! Sekarang adalah senin pagi. Seharusnya si kecil lucu itu juga ada di rumah Bastin, kan? John segera menambah pesanan ice creamnya dan juga beberapa biskuit. Setidaknya siang ini tidak akan terlalu membosankan. *** John datang tepat saat rumah Bastin seolah berguncang karena tangisan bayi. Suaranya berasal bukan hanya dari satu bayi, melainkan tiga bayi sekaligus. “Oh, apa yang terjadi di sini?” tanya John di depan pintu rumah Bastin yang terbuka. “Syukurlah, John. Kau benar-benar penyelamat! Cepat kemari!” Julia berseru seraya menggendong baby Bo yang menangis keras. Sementara si kembar duduk di lantai di antara tumpukan mainan, juga dalam keadaan menangis. Bahkan keduanya seperti berlomba siapa yang bisa menangis lebih keras. “Anak-anak, coba lihat apa yang dibawa Paman John!” Lalu dia menoleh ke arah John dengan raut memelas. “Kuharap itu sesuatu untuk anak-anak.” “Yeah, ada yang mau ice cream?” tanya John seraya mengangkat kantong kresek di tangannya begitu ia tiba di dekat si kembar. Tapi sepertinya sogokan John tidak menarik perhatian mereka. Keduanya masih sama-sama menangis keras. “Biar kuambilkan wadah. Mereka tidak mungkin bisa makan itu tanpa mengotori seluruh lantai.” Melihat Julia tampaknya kesulitan, John berinisiatif mengambil alih baby Bo. “Biar aku yang menggendongnya dan kau tenangkan mereka.” Julia menatapnya dengan penuh syukur. “Sebenarnya apa yang terjadi dan di mana pengasuh si kembar?” “Dia sakit. Jadi aku memaksanya pulang dan beristirahat. Lalu si kembar mulai saling berebut mainan, menangis, saling lempar, hingga mengenai baby Bo. Selanjutnya kau sudah tahu bagaimana.” John meringis membayangkan kekacauan itu. Sementara baby Bo dalam dekapannya mulai berhenti menangis dan fokus menatap John. Mungkin dia penasaran pada orang asing yang menggendongnya. Dan itu membuat John tersenyum. Reaksi si kecil sangat tidak mirip ibunya saat berhadapan dengan orang asing. “Sepertinya dia menyukaimu,” gumam Julia seraya mulai membuka bungkus ice cream yang berhasil mencuri perhatian si kembar dan membuat mereka berhenti menangis. “Atau penasaran.” “Ah, iya. Kau jarang berada di sini cukup lama selain di akhir pekan. Dia pasti menganggapmu orang asing.” John terus memandangi wajah lucu yang balas menatapnya. Lalu dia mengusap pipi baby Bo yang basah karena air mata. Kulitnya terasa sangat lembut di bawah jemari John. Pipinya tebal hingga tampak menggantung menyamai dagu kecilnya. Bulu matanya tampak selentik milik ibunya. Tapi warna matanya gelap. Hitam pekat. Saat John masih asyik membersihkan air mata di wajah baby Bo dan sesekali memencet pipi gembulnya dengan telunjuk dan ibu jari, si kecil mengangkat tangan berjari pendeknya ke wajah John lalu menyentuh rahangnya. Sejenak dia tampak terkejut dan menarik tangannya kembali saat merasakan bakal janggut John yang kasar. Tapi detik berikutnya senyumnya merekah hingga menampakkan dua gigi bawahnya. Dia terkikik saat kedua tangannya terulur lalu menepuk-nepuk rahang John dengan penuh semangat. “Kau suka, hm?” tanya John seraya dengan gemas menyentuhkan rahangnya ke pipi si kecil yang langsung membuatnya tergelak geli. “Apa dia bisa makan ice cream?” “Sebaiknya biskuit saja.” Julia menyodorkan biskuit yang dibeli John dan langsung diterima baby Bo dengan penuh semangat. “Ma... ma.... Mama...” “Mamamu masih bekerja. Jadi kau bersama Paman John saja, oke?” “Dia bilang ‘makan’, John,” jelas Julia sambil tertawa. “Katanya ‘mama’.” “Lihat, dia bilang seperti itu sambil menunjukkan bisukuitnya. Jangan hanya dengarkan ucapannya. Bahasa tubuh bayi lebih jelas daripada ucapannya.” “Ini?” tanya John sambil menunjuk biskuit yang dipegang dengan kedua tangan mungil baby Bo. “Mama...” ceracau baby Bo lagi seraya menyodorkan biskuitnya ke bibir John. “Kau ingin Paman John makan ini?” “Ma... ma...” “Oke.” John menerima suapan si kecil dan langsung dihadiahi tawa gelinya. Setelahnya si kecil memasukkan sisi biskuit yang sudah digigit John ke mulutnya sendiri. “Sepertinya kau tidak percaya pada makanan pemberian Paman John, ya?” “Dia hanya bersikap hati-hati. Siapa tahu kau membawa makanan beracun.” Julia tergelak. John duduk di lantai dekat si kembar sambil menyandarkan punggung di sofa. Baby Bo dia dudukkan di pangkuannya. “Apa biasanya memang selalu seribut tadi?” “Biasanya tidak. Setidaknya bukan ribut karena paduan suara menangis. Kalau ada pengasuh si kembar, kami bisa dengan mudah menenangkan mereka. Tapi memang sangat sulit menjaga tiga balita sendirian.” “Yang satu ini kelihatannya sangat tenang,” gumam John seraya membelai lembut kepala baby Bo. Dia ingat bagaimana si kembar seolah tidak bisa diam saat dia bersama keluarga Bastin lebih lama di akhir pekan. Si balita kini duduk tenang di antara kaki John yang bersila. Kedua tangannya masih menggenggam satu biskuit dan sesekali menggigitnya. Perhatiannya tidak lepas dari si kembar yang asyik melahap ice cream dan mulai mengotori pakaian serta lantai. “Ya, dia nyaris tidak pernah menangis. Sangat mudah menjaganya.” “Ma, Bo boleh makan es kim?” tanya Fanya sambil menunjukkan mangkuknya. “Adik Bo lebih suka biskuit.” Fanya memperhatikan Bo yang sibuk menggigit biskuit dengan gusinya lalu kembali fokus pada ice creamnya. Sepertinya dia percaya penjelasan sang Mama. John tidak pernah ada masalah dengan anak kecil. Dengan mudah dia bisa bermain akrab dengan ketiga balita itu. Setelah Julia membersihkan mereka dari lelehan ice cream dan biskuit, John berbaring telentang dan pasrah saat si kembar mendandaninya dengan bedak bayi mereka sementara baby Bo rebah di dadanya. “Seharusnya kau punya anak sendiri. Kau sangat akrab dengan anak kecil,” Julia berkata seraya menyiapkan makan siang mereka. “Sayangnya Tuhan belum memercayaiku untuk memiliki anak.” “Kalian tidak memeriksakan diri? Selalu ada solusi.” Ya, solusinya jelas di depan mata. Tapi karena Julia maupun Bastin tidak tahu kondisi sebenarnya dalam pernikahan John, dia memilih menjawab singkat lalu mengalihkan pembicaraan. “Ya, tentu saja. Sini, biar aku yang menyuapi baby Bo. Bagaimana caranya?” *** Zie pulang cepat hari ini. Dia tiba di rumah Julia pukul setengah empat sore dan langsung turun sambil membawakan makanan ringan untuk si kembar dan beberapa keperluan dapur untuk Julia. Julia dan Bastin sangat baik padanya. Mereka selalu membantu Zie sejak dia tinggal di kota itu dan tidak mengenal siapapun. Bahkan Julia sendiri yang menawarkan pada Zie agar menitipkan baby Bo di rumahnya saat Zie memutuskan untuk bekerja. Dan dia selalu menolak tiap kali Zie ingin memberikan uang atau barang apapun. Karena itu Zie hanya bisa menyamarkan bentuk rasa terima kasihnya dengan barang-barang belanjaan sederhana seperti ini. Saat pertama kali tiba di kota ini sampai baby Bo berusia genap satu tahun sekitar empat bulan lalu, Zie sama sekali tidak bekerja. Dia punya tabungan dengan nominal yang cukup besar. Hasil dari kerja kerasnya sejak menginjak usia lima belas tahun. Tapi jika hanya mengandalkan itu, pada akhirnya uang tabungannya akan habis. Apalagi dia masih harus bayar uang kontrakan dan memikirkan keperluan sekolah baby Bo beberapa tahun mendatang. Karena itu empat bulan lalu Zie memutuskan mulai bekerja dan bertekad hanya menggunakan uang tabungannya untuk keperluan darurat. Pintu rumah Julia selalu dibiarkan terbuka. Zie sudah terbiasa keluar-masuk rumah itu hingga tidak merasa harus mengetuk pintu lebih dulu. Saat membuka sandal di depan teras, Zie sudah membayangkan ruang tamu yang penuh mainan dan kehebohan para balita. Senyum Zie merekah memikirkan hal itu. Tapi begitu tubuhnya melewati ambang pintu, seketika senyum Zie menghilang. Pemandangan di depannya adalah sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan Zie. Di lantai depan sofa yang mejanya sudah disingkirkan Julia, tampak Jonathan Fabian berbaring miring dengan tangan kiri memegang ponsel. Sementara di samping kanannya, baby Bo berbaring telentang dengan berbantalkan lengan John. Si kecil tampak tersenyum lebar dengan pandangan mengarah ke ponsel John yang menampakkan video-video binatang. Sesekali jari-jari kecilnya menepuk-nepuk layar ponsel sambil tersenyum lebar pada John. Jantung Zie seolah berhenti berdetak melihat pemandangan itu. Secara refleks dia meletakkan barang-barang yang dibawanya ke meja lalu menghampiri mereka. “Hai, kau sudah datang?” sapa John begitu melihat Zie. “Julia masih di dalam memandikan si—” John tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Zie mendadak membungkuk lalu meraih baby Bo ke dalam dekapannya dan mundur menjauhi John. John sendiri sampai terperanjat bangun dan langsung berdiri menjulang tiga meter di depan Zie. “Aku—aku tidak sempat menemui Julia. Tolong sampaikan padanya aku buru-buru mengurus sesuatu.” Zie sudah berbalik dan bergegas menuju pintu. Tapi langkahnya terhenti karena John mencekal lengannya. “Sebenarnya salahku apa? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?” Sejenak Zie menelan ludah lalu berbalik. Jantungnya berdebar sangat kencang saat dia mendongak membalas tatapan John. “Maaf kalau menurutmu aku bersikap tidak sopan. Aku hanya—tidak bisa cepat akrab dengan orang asing.” Zie mundur selangkah, yang secara otomatis membuat John melepas pegangannya di lengan Zie. “Kita sudah bertemu dua kali. Jangan bilang kau lupa bahwa aku yang menolongmu di depan supermarket dua hari lalu. Seharusnya aku sudah tidak terlalu asing bagimu, kan?” “Ya, tapi—aku memang terburu-buru sekarang.” Tanpa menunggu tanggapan, Zie langsung berbalik keluar rumah Julia. “Saking terburu-burunya, sampai tidak ada waktu sekedar mengambil tas perlengkapan baby Bo?” Langkah Zie langsung terhenti di tengah beranda rumah. Diam-diam dia mendesah sambil menggigit bibir bawah lalu berbalik. Mengeraskan hati, Zie menghampiri John yang sudah memegang tali tas perlengkapan baby Bo dan segera mengambilnya sambil berusaha agar tidak menyentuh tangan lelaki itu. “Terima kasih,” gumam Zie pelan dan kembali berbalik pergi. Samar-samar Zie masih mendengar geraman kesal John namun dia tidak berhenti dan terus menuju mobil. “Aku benar-benar tersinggung, Arzie.” ----------------------------- ♥ Aya Emily ♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD