Kamis (20.55), 13 Agustus 2026
----------------------
John tidak bisa menyingkirkan sosok Zie dari benaknya. Bukan karena dia menyukai wanita itu atau semacamnya. John merasa tersinggung. Sangat tersinggung dengan sikap Zie yang tampak seolah bertemu hantu tiap kali melihatnya apalagi saat John dekat dengan baby Bo.
Ekspresi wajah Zie terus mengganggu John hingga sisa hari itu. Bahkan sampai sepanjang hari esoknya. Lalu esoknya lagi. Sampai di titik dia merasa kesal pada dirinya sendiri dan bertekad menghindari Zie. Mengabaikannya jika bertemu dan berpura-pura wanita itu tidak pernah ada di dunia ini.
Kamis siang, Bastin mengajak John makan siang di rumahnya.
“Julia sedang mencoba resep baru. Dan dia selalu masak besar tiap melakukannya.” Begitu kata Bastin dalam perjalanan menuju rumahnya.
“Jadi kita semacam—kelinci percobaan?” tanya John.
Bastin terkekeh. “Tidak perlu ketakutan begitu. Julia sangat jago memasak. Resep yang dicobanya tidak pernah gagal.” Lalu Bastin bicara lebih pelan seolah Julia ada di dekat mereka. “Kalaupun gagal, dia akan menyembunyikannya dan memastikan tidak ada orang yang tahu. Jadi semua masakannya selalu yang terbaik dan lezat.”
“Lega mendengarnya,” John mengembuskan napas yang berhasil memancing gelak tawa Bastin karena ternyata John benar-benar khawatir.
Tiba di kediaman Bastin, suara mobil yang memasuki halaman seolah menjadi bel bagi si kembar. Keduanya berlomba keluar rumah lalu berteriak sambil melompat-lompat kegirangan, “Papa pulang! Papa pulang!”
Bastin tersenyum senang saat menghampiri kedua putrinya lalu mengangkat mereka sekaligus ke dalam gendongan. “Hmm... kangen papa, ya?”
“Papa! Oleh-olehnya mana?” tanya Fia
“Es kim kan, Pa? Yang banyak!” Fanya tidak mau kalah.
Sementara itu, di sela kehebohan si kembar, baby Bo tertatih-tatih keluar dari dalam rumah seraya turut berseru, “Papa... ppa...paa...!”
Kepalan tangan mungilnya terangkat seolah minta digendong juga. Sesekali jemari pendeknya terbuka lalu mengepal lagi.
“Pa... pa... ppa...!”
John tergelak melihat si balita. Refleks dia membungkuk lalu mengangkat baby Bo ke dalam gendongannya. “Hmm, yang satu ini minta digendong juga, ya?”
“Pappa... pa...”
Mendadak senyum John memudar. Keningnya berkerut saat ada rasa tak nyaman yang terasa menyengat jantungnya. Pandangan John terpaku pada manik mata hitam pekat baby Bo.
“Pappa...” baby Bo menyeringai saat membalas tatapan John. Bibir mungilnya merekah menampakkan gusi dan dua gigi bawahnya. Lalu tiba-tiba si kecil mencium bibir John dan menjatuhkan kepalanya rebah di lekukan leher John.
“Jujur, kadang aku kasihan melihatnya,” gumam Bastin, menyadarkan John dari keterkejutannya. “Mungkin sekarang dia tidak mengerti yang dilakukannya. Tapi saat seusia si kembar saja, dia pasti mulai bertanya-tanya kenapa yang lain memiliki papa sementara dia tidak.”
John setuju dengan pendapat Bastin. Lalu perasaan itu muncul begitu saja. Perasaan ingin melindungi si kecil yang membuncah dalam dadanya.
Apa ini karena John menginginkan anak?
Yah, di usianya yang memasuki tiga puluh tiga tahun memang selayaknya John sudah memiliki seorang anak. Tapi dia belum pernah berpikir untuk memiliki anak sendiri, bahkan sampai saat ini. John sudah cukup dipusingkan dengan pernikahan yang tidak diinginkannya hingga pikiran memiliki anak berada jauh di sudut kepalanya.
Lalu perasaan apa tadi yang muncul di hatinya untuk baby Bo?
John belum menemukan jawabannya sampai mereka semua sudah berkumpul di ruang makan. Si kembar heboh bermain di depan tv ditemani pengasuhnya. Sementara baby Bo malah tidak mau lepas dari John.
“Bo, kau main bersama Kakak Fia dan Fanya, yah? Biar Paman John bisa makan,” bujuk Julia.
“Papa...” baby Bo menunjuk bibir John. “Ma... ma...”
“Iya, Paman John mau makan,” Julia masih berusaha membujuk.
Dan saat itulah John mengerti apa yang dia rasakan. Ini rasa kasihan seperti kata Bastin. Dia iba pada balita kecil di pangkuannya yang sudah kehilangan seorang ayah bahkan sebelum dia lahir. Lalu perasaan ingin melindungi muncul dalam dadanya.
“Bo mau temani papa makan, ya?” celetuk John tiba-tiba yang sejenak membuat Bastin dan Julia melongo.
“Seperti kataku, seharusnya kau punya anak sendiri, John,” Julia tergelak.
“Kau perlu izin ibunya sebelum membiarkan bayi kecil itu terus memanggilmu papa,” peringat Bastin dengan seringai geli.
John tahu Bastin mengatakan itu dengan niat untuk bercanda. Tapi ucapan Bastin malah mengobarkan keinginan untuk membalas Zie. John masih tersinggung dengan sikap Zie. Walau dia sudah bertekad mengabaikannya, faktanya terkadang John masih teringat dan kembali merasa kesal.
Sekarang tiba-tiba cara untuk membalas Zie muncul di depan John dalam sosok bayi yang duduk nyaman di pangkuan John dan sedang memukul-mukulkan sendok ke meja. Bukankah itu pembalasan yang setimpal? John akan membalas Zie dengan membuat baby Bo memanggil dirinya papa.
Yah, John akui saat ini dirinya tampak kekanakan. Tapi fakta itu tak menyurutkan perasaan girang yang memenuhi hatinya. John bahkan sudah tidak sabar untuk bertemu Zie dan membiarkan baby Bo memanggilnya papa. Mungkin wanita itu langsung pingsan.
“Yah, berhubung aku tidak punya anak dan baby Bo tidak punya papa, kurasa kami cocok.” Lalu John mencium pipi lembut baby Bo. “Ya kan, Bo?”
Si balita menanggapi John dengan kikik geli. Lalu dia sibuk mengunyah sendok dan tak lagi memperhatikan orang dewasa di sekitarnya.
***
“Tidak jauh. Aku akan membawa baby Bo kembali sebelum jam tiga.” John tersenyum merayu Julia.
“Tidak tanpa izin Zie, John.”
“Kau tidak berpikir aku akan menculik baby Bo, kan? Atau melakukan hal buruk padanya?”
“Aku percaya padamu. Tapi—”
“Kau dan si kembar bisa ikut juga.”
Julia melipat kedua tangan di depan d**a. “Kau tahu Fia sedang demam. Aku tidak bisa membawa si kembar keluar.”
“Nah, kau bisa fokus merawat Fia sementara aku membawa baby Bo jalan-jalan.” John menjentikkan jari seolah itu solusi terbaik untuk mereka.
“Aku tidak yakin Zie akan setuju.”
“Dia tidak perlu tahu. Kecuali jika baby Bo pulang terluka, kau bahkan bisa langsung melaporkanku pada polisi.”
Julia mendengus tapi akhirnya tidak bisa menahan seringai geli. Lalu dia menoleh ke arah si balita yang sibuk menggigiti mainan karet di tangannya. “Kau sudah tahu cara mengganti popoknya?”
“Aku sudah cukup ahli,” John menyeringai bangga.
Memang sejak kamis lalu ketika baby Bo memanggil John papa, dia selalu meluangkan waktu untuk datang ke rumah Bastin dan bermain dengan para balita. Dia bahkan belajar bagaimana mengganti popok dan membuat s**u. Jadi di selasa pagi yang cerah ini, John sangat bersemangat untuk mengajak baby Bo jalan-jalan hanya berdua.
Dan perjalanan itu memang semenyenangkan yang John duga. Si bayi sangat tenang dan ekspresif. Dia langsung menatap kagum dengan bibir terbuka tiap kali melihat sesuatu yang asing yang menarik perhatiannya.
Yang pertama kali mereka datangi adalah kebun binatang. Hanya kebun binatang kecil. Sebagian besar hewannya adalah unggas. Tapi itu saja sudah cukup membuat baby Bo beberapa kali melongo takjub. Bibirnya terbuka, atau membentuk huruf sambil menatap hewan-hewan dalam kandang itu lalu bertepuk tangan girang.
Tujuan mereka selanjutnya adalah pemandian air panas. Tapi tidak seperti namanya, air di sini hanya hangat kuku. Hangatnya tidak alami melainkan buatan. Tapi lokasinya sengaja didesain menyerupai sumber air di gunung.
Sayangnya, baby Bo sama sekali tidak mau mandi. Dia terus menempel ketat memeluk John. Tapi dari sorot matanya John tahu si bayi juga sangat mengagumi tempat itu. Mungkin karena asing. Baby Bo terus melongo memandangi sumber air buatan itu serta orang-orang yang berendam di dalamnya.
Hanya bermain di dua tempat itu dan makan di restoran bubur yang sangat lezat, ternyata sudah menghabiskan waktu seharian. Saat akhirnya John tiba di rumah Julia, baby Bo sudah tertidur di kursi bayi yang dipinjamkan Julia.
Dan setelah hari yang menyenangkan itu, John merasa sangat ketagihan menghabiskan waktu berdua dengan baby Bo. Hingga akhirnya sepanjang minggu berikutnya dia berusaha meluangkan waktu satu atau dua hari untuk bisa berjalan-jalan lagi. Bahkan John beberapa kali membawa baby Bo ke proyek pembangunan saat dia tidak terlalu sibuk dan membiarkan semua orang mendengar si bayi memanggilnya papa.
Kini bukan lagi tentang membalas dendam. Tapi John benar-benar menyukai saat berperan menjadi papa baby Bo.
---------------------------
♥ Aya Emily ♥