Setelah melihat John bersama baby Bo di rumah Julia, Zie selalu merasa waswas akan bertemu lagi dengan lelaki itu. Dia bahkan sempat menimbang untuk memperingatkan Julia agar tidak membiarkan baby Bo terlalu dekat dengan John. Tapi niat Zie urung karena dia tak menemukan alasan yang cukup masuk akal mengenai tindakannya.
Ternyata apa yang Zie khawatirkan tidak terjadi. Selama dua minggu penuh Zie tidak lagi bertemu dengan John. Dia bahkan sempat berpikir bahwa John sudah pulang ke kota asalnya. Tapi Julia mematahkan dugaan Zie dengan beberapa kali mengungkit nama John yang katanya ikut sarapan bersama atau membelikan anak-anak mainan baru.
“Bibi Zie!”
Seruan Leila, cucu bibi Maria menarik Zie dari lamunan. Saat ini dia sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang lebih awal karena semua pesanan sudah diselesaikan.
“Ya, Leila?” tanya Zie sambil tersenyum.
Dia selalu mengagumi kelincahan gadis empat belas tahun itu. Sosok Leila secara keseluruhan mengingatkan Zie pada dirinya sendiri di usia itu. Tapi bedanya, Zie di usia empat belas tahun sudah berambisi menjadi kaya dan dihormati sementara Leila masih senang bermain-main dan menikmati masa remajanya.
“Bibi Zie, aku baru tahu kalau kau berkencan dengan John.”
“Paman John, Leila,” koreksi Maria yang berada tak jauh dari si remaja.
“Ya, pokoknya dia.” Leila mengibaskan tangan dengan tak sabar lalu kembali fokus pada Zie dengan mata berbinar. “Bisa minta tolong katakan padanya aku ingin tanda tangan Previta? Artis yang terkenal itu. Katanya John kenal banyak artis.”
Zie mengerutkan kening, tak bisa mencerna semua ucapan Leila. Fokusnya hanya pada tiga kata, “berkencan dengan John”.
“Bibi Zie! Bisa, kan?” desak Leila tak sabar.
“Leila, jangan ganggu Bibi Zie lagi. Dia lelah dan pasti ingin istirahat.” Dengan tegas Maria memegang bahu Leila lalu setengah mendorongnya keluar ‘ruang menjahit’ dan mengabaikan protesnya. “Tidak perlu pedulikan ucapan Leila,” lanjut Maria begitu Leila pergi. “Sampaikan salamku pada John.”
Kali ini Zie melongo. “Kau juga percaya ucapan Leila? Bahwa aku dan John—”
Maria tersenyum dengan senyum teduhnya. Di usia yang menginjak lima puluh tahun dan sudah memiliki cucu remaja, dia masih tampak sehat. Dengan lembut, jemari Maria menepuk punggung tangan Zie.
“Seluruh kota sudah tahu. Resiko kota kecil dengan para penduduknya yang suka bergosip. Tapi kau tidak perlu merasa malu. Kalian berdua sangat cocok.”
Ada banyak bantahan yang sudah siap terlontar dari mulut Zie. Tapi lebih banyak pertanyaan karena dia sungguh tidak mengerti darimana asal gosip itu. Tidak ada asap kalau tidak ada api, kan? Tapi apa yang membuat semua orang bergosip demikian padahal selama dua minggu ini Zie tidak pernah bertemu John.
Akhirnya tak ada yang Zie katakan. Hingga dia tiba di rumah Julia, pikirannya hanya fokus pada ucapan Leila dan Bibi Maria.
Bibi Zie, aku baru tahu kalau kau berkencan dengan John.
Seluruh kota sudah tahu. Resiko kota kecil dengan para penduduknya yang suka bergosip. Tapi kau tidak perlu merasa malu. Kalian berdua sangat cocok.
Zie bergegas turun dari mobil. Dia hendak menanyakan hal ini pada Julia. Pasti Julia tahu sesuatu.
Seperti biasa, suara para balita terdengar ramai dari arah ruang tamu. Di sana memang basecamp mereka selain ruang tengah. Mainan berserakan di mana-mana.
“Julia!” seru Zie begitu melewati ambang pintu.
“Nyonya ada di dapur.”
Zie berterima kasih pada pengasuh si kembar dan segera menuju dapur. Biasanya dia menyapa para balita lebih dulu. Tapi kali ini ucapan Leila dan Bibi Maria sangat mengganggu pikiran Zie.
“Jul...”
“Di sini! Kau sudah pulang? Ini masih jam dua, kan?” Julia yang baru saja memasukkan adonan kue ke dalam oven segera menghampiri Zie.
“Ya, kami pulang lebih awal hari ini. Omong-omong ada sesuatu yang sangat menggangguku. Kenapa Leila pikir aku berkencan dengan John? Padahal aku yakin tidak pernah bertemu dengannya kecuali dua minggu lalu saat aku menjemput baby Bo dan pertemuan tidak sengaja di depan minimarket. Ditambah Bibi Maria mengatakan seluruh kota sudah tahu bahwa aku dan John berkencan. Apa itu masuk akal?”
Bibir Julia terbuka dengan ekspresi tak percaya memenuhi wajahnya. “Semua orang bergosip seperti itu? Padahal John hanya membawa baby Bo jalan-jalan beberapa kali.”
Julia menggigiti kuku ibu jarinya dengan gelisah. Memang di sana tidak ada yang tahu bahwa John sudah menikah selain Julia dan Bastin. Tapi jika gosip ini dibiarkan dan mendadak istri John datang, bukankah situasinya bisa sangat kacau?
“Tunggu...” Ada satu kalimat Julia yang tidak dimengerti Zie. “John, apa? Membawa baby Bo jalan-jalan beberapa kali?”
Julia tertegun. Baru menyadari bahwa dirinya tidak pernah memberitahu Zie kalau John sering membawa baby Bo jalan-jalan. “Itu...”
Mendadak Zie melangkah tergesa menuju ruang tamu. Hanya ada si kembar dan pengasuh mereka di sana. “Mana Keivan?!” tanpa sadar nada suara Zie meninggi.
Julia yang sudah menyusul Zie diliputi rasa bersalah. Sementara pengasuh si kembar segera membawa mereka ke dalam karena menyadari situasi antara Zie dan Julia sedang tegang.
“Ehm... itu...”
“Di mana?”
“Masih bersama John. Seharusnya satu jam lagi mereka tiba. John tidak pernah terlambat.” Julia mendesah. “Maafkan aku Zie. Aku tidak pernah menyangka orang-orang akan beranggapan seperti itu melihat John dan baby Bo. Aku hanya tidak tega melarang John membawa baby Bo. Dia sangat senang bersama John. Dan kau tidak perlu khawatir. John benar-benar bisa menjaga baby Bo.”
Perasaan bingung yang memenuhi d**a Zie sejak meninggalkan rumah Maria kini berubah menjadi kemarahan yang berkobar. Bibirnya menipis dan kata-kata yang keluar tak bisa disaring lagi.
“Kalau kau tidak mau menjaga baby Bo, bilang saja,” geram Zie dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuh. “Jangan langsung serahkan baby Bo pada orang asing seolah dia mainan!”
Kata-kata Zie menusuk hati Julia. Pandangannya berubah tajam. Rasa bersalahnya menjadi kemarahan yang jauh lebih besar.
“Aku dibayar berapa untuk jaga anakmu sampai kau berhak menuduhku seperti itu?” desis Julia pelan. “Aku membantumu dengan tulus dan seperti ini balasanmu?”
DEG.
Seketika Zie merasa seperti ditampar. Selama ini Julia sudah sangat baik padanya. Zie tidak berhak berkata seperti itu padanya hanya karena kesalahan sepele. Padahal baby Bo sama sekali tidak terluka dan sama seperti Julia, Zie percaya John tak akan menyakiti baby Bo. Ini hanya karena masa lalu Zie yang membuatnya tidak ingin baby Bo dekat dengan John.
“Jul... ma—maaf...”
“Pergi!” seruan Julia membuat Zie tersentak kaget. “Jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu di depanku!” lalu Julia berbalik ke dalam rumah.
Rasa panas menusuk mata Zie. Matanya berkaca-kaca saat menatap punggung Julia. Lalu dengan perasaan bersalah dan kalah, Zie berbalik keluar rumah.
***
“Sepertinya ada yang tidak beres, Bo,” gumam John begitu mobilnya tiba di halaman rumah kontrakan Zie. Halamannya kecil hingga mobil John tidak bisa sepenuhnya masuk dan parkir di belakang mobil Zie.
“Bibi Julia terlihat sangat marah tadi saat mengatakan sebaiknya papa langsung mengantarmu pulang ke mamamu. Jadi kita harus bersiap menghadapi yang terburuk, oke? Mungkin mamamu akan keluar sambil membawa pisau daging,” John meringis sendiri membayangkan hal itu. Tapi detik berikutnya terkekeh geli.
Memangnya kenapa kalau Zie marah? John sama sekali tak akan peduli. Toh dirinya masih tersinggung karena sikap Zie dua minggu lalu.
Kekanakan? Terserah. John malah sangat senang karena berhasil membuat Zie marah.
Dengan baby Bo di lengan kirinya dan tas perlengkapan di tangan kanan, John menekan bel lalu menunggu si penghuni rumah membuka pintu. Tidak butuh waktu lama. Pintu langsung membuka seolah Zie memang menunggu kedatangan mereka.
“Oke, sebelum kau berteriak padaku—”
“Lupakan,” kata Zie dengan suara serak lalu meraih baby Bo ke dalam gendongannya.
John tertegun menyadari mata Zie bengkak dan basah. Wanita itu berusaha untuk tidak membalas tatapannya. Tapi dia masih harus mendongak untuk meraih baby Bo.
“Apa yang terjadi? Kau menangis? Apa karena aku membawa baby Bo?” cecar John saat Zie meraih tas baby Bo. “Dengar, aku tidak menyakitinya. Aku hanya senang saat bersamanya. Jadi kubawa dia jalan-jalan.”
“Terima kasih,” ucap Zie pelan lalu berbalik dan menutup pintu di depan John. Dia bahkan mengunci pintu lalu terdiam dengan punggung bersandar di pintu dan baby Bo dalam pelukannya. Air mata Zie kembali mengalir deras.
“Mama mengacau lagi, Kei,” bisik Zie. “Mama selalu merusak segalanya. Terutama hubungan baik.”
Dan Zie terus menangis dalam diam sambil mengemasi barang-barang mereka.
-----------------------------
♥ Aya Emily ♥