Bab 5

1847 Words
Lagi-lagi sosok Zie mengganggu pikiran John. Dia tidak bisa tidur sepanjang malam memikirkan mata Zie yang bengkak sehabis menangis. Ditambah kemarahan Julia yang tampak jelas ketika istri Bastin itu menyuruhnya mengantarkan baby Bo langsung ke rumah Zie. Apa mereka bertengkar? Kalau iya, apa gara-gara dirinya membawa pergi baby Bo? Rasa bersalah semakin membuat John tak bisa memejamkan mata. Dia terus bertanya-tanya. Dan semakin lama, semakin yakin bahwa memang dirinyalah penyebab pertengkaran Julia dan Zie. Begitu malam berganti menjadi pagi, John bergegas mandi. Perasaannya tidak enak. Dia harus segera minta maaf pada Zie dan Julia. Bastin sendiri yang membukakan pintu untuk John. “Bagaimana keadaan Zie?” tanya Bastin pelan. Dia sudah mendengar dari Julia apa yang terjadi. Menurut sudut pandang Bastin, ketiganya sama-sama salah. John bersalah karena memaksa membawa baby Bo tanpa izin ibunya. Julia bersalah karena tak meminta izin Zie atau sekedar memberitahunya. Dan Zie... yah, dia juga salah karena berkata kasar pada Julia. Tapi Bastin sendiri tak bisa sepenuhnya menyalahkan Zie. Jika dirinya yang di posisi Zie, mungkin dia akan langsung main pukul. Orang tua mana yang bisa tenang kalau tahu anaknya di bawa orang asing tanpa sepengetahuannya? Dan mungkin Bastin sendiri juga bersalah karena membiarkan saja apa yang dilakukan John maupun Julia. “Tidak baik,” gumam John. “Aku berencana minta maaf. Tapi pasti dia sekarang sudah pergi ke tempat kerja. Jadi aku ke sini dulu untuk minta maaf pada Julia.” Bastin mengangguk lalu menepuk pelan pundak John. “Seharusnya kau datang lebih pagi. Sarapan sudah selesai. Atau kau mau sarapan sendiri? “Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin bicara dengan Julia. Bagaimana proyek pembangunannya?” “Lancar. Kami mulai lebih siang hari ini.” Di ruang tengah, Julia tampak membujuk si kembar untuk makan. Keduanya lebih tertarik pada mainan daripada makanan. Melihat kedua balita itu, refleks John menunduk melihat jam tangan. Sudah pukul sembilan lewat. Biasanya baby Bo sudah bersama si kembar sebelum pukul sembilan. “Mana baby Bo?” refleks John bertanya. Julia mendongak menatap John dengan kekesalan yang tidak ditutupi dari raut wajahnya. “Jangan sebut-sebut mereka lagi,” geramnya. John menoleh menatap Bastin yang hanya angkat bahu lalu kembali menatap Julia. “Julia, aku minta maaf. Kau dan Zie—jadi seperti ini gara-gara aku.” Sorot mata Julia perlahan melembut lalu dia mengibaskan tangan meski bibirnya belum tersenyum. “Sudahlah, lupakan.” “Seharusnya aku tidak memaksa untuk membawa baby Bo.” Julia memaksa dirinya tersenyum. “Kubilang lupakan.” “Jadi aku dimaafkan?” “Iya, dasar cerewet.” Lalu dia mendesah. “Sebenarnya setelah semalaman memikirkan ini, aku juga diliputi rasa bersalah pada Zie. Dia memercayakan putranya padaku. Tapi aku malah membiarkan orang asing membawa putranya tanpa memberitahunya. Kalau itu terjadi pada si kembar, aku pasti akan semarah dirinya. Hanya karena ego aku merasa dia yang salah karena menyinggungku.” Bastin tersenyum lalu tanpa memedulikan John, mengecup puncak kepala sang istri. “Senang kau mau menurunkan egomu lalu melihatnya dari posisi Zie.” Julia memukul pelan lengan suaminya. “Aku tahu walau kau diam saja, kau juga yakin aku yang salah.” Bastin hanya tersenyum. Tak membantah ataupun mengiyakan. “Ehem...” Mendadak perasaan iri merasuk dalam hati John. Dia iri melihat kemesraan mereka. Apa dirinya bisa merasakan cinta yang seperti itu? “Jadi apa mungkin Zie membawa baby Bo ke tempat kerjanya?” tanya John. Julia menggeleng dengan raut sedih. “Mungkin dia tidak bekerja. Ruang menjahit Bibi Maria bukan untuk tempat bermain anak-anak. Biasanya Zie memilih izin jika aku tidak bisa menjaga baby Bo.” “Tapi dia tidak ada di rumah. Tadi aku lewat depan rumahnya dan mobilnya tidak ada. Ke mana kira-kira dia pergi?” Julia dan Bastin saling pandang lalu Julia berkata, “Zie tidak punya banyak teman di sini.” “Lebih tepatnya dia tidak akrab siapapun di kota ini selain kami,” celetuk Bastin. “Orangnya sangat tertutup.” “Apa dia suka mengunjungi suatu tempat?” “Setahuku, tidak pernah ke manapun selain bersamaku. Itupun karena aku yang memaksanya.” Julia tampak semakin merasa bersalah. Entah apa yang membuatnya kemarin langsung tersulut emosi begitu padahal memang dirinya yang salah. “Mungkin dia hanya jalan-jalan dengan baby Bo. Menenangkan diri.” John mengangguk menanggapi ucapan Bastin. Tapi entah mengapa hatinya tidak tenang. Lalu suara ketukan di pintu depan mengalihkan perhatian mereka. “Biar aku yang buka,” kata Julia seraya berdiri. John baru saja duduk dan Bastin menyuapi si kembar saat Julia tergesa menghampiri mereka. “Zie pergi!” serunya agak histeris. “Maksudmu apa?” John segera berdiri. “Tadi itu pemilik rumah kontrakan Zie,” suara Julia berubah serak. “Dia bilang Zie mengiriminya pesan semalam tapi baru dia buka pagi ini. Zie meninggalkan kunci rumah kontrakannya di bawah keset. Hanya itu pesannya.” “Begitu saja?” John ternganga tak percaya. Dia tidak menyangka masalahnya akan sampai membuat Zie pergi seperti ini. “Selain ucapan terima kasih dan bahwa dia harus pergi.” Akhirnya Julia terisak. “Pemilik kontrakan bingung apa Zie hanya pergi sebentar atau bagaimana. Barang-barangnya masih lengkap di sana kecuali pakaian dan mungkin barang pribadi.” Bastin menghampiri Julia lalu memeluknya. “Aku membuatnya pergi,” isaknya. “Tidak,” Bastin menggeleng. “Jika Zie pergi, ini adalah pilihannya.” Jemari John mengepal. Dia tidak bisa membiarkan Zie pergi seperti ini. “Di mana pemilik kontrakan itu?” “Dia kembali ke rumah kontrakan Zie dan berniat mengumpulkan barang-barang Zie. Aku sudah mengizinkannya membawa barang-barang itu ke sini.” Tanpa menunggu lagi, John bergegas keluar menuju mobilnya. Beberapa menit kemudian, dia sudah tiba di rumah kontrakan Zie dan melihat seoang wanita dengan tubuh berisi tampak berdiri di teras sambil menelepon. “Apa tidak ada pick-up yang bisa digunakan? Besok? Oh, baiklah...” John menghampirinya tepat saat si pemilik kontrakan memutus panggilan telepon. John ingat pernah bertemu beberapa kali dengan wanita itu tapi dia tidak tahu namanya. “Hai,” sapa John. “Oh, John. Lama tidak melihatmu.” John menjabat tangan berjari pendek wanita itu yang mengingatkannya pada jemari baby Bo. Kira-kira apa sopan menanyakan namanya padahal dia tahu nama John? “Iya, sepertinya cukup lama.” John berbasa-basi. “Oh, kudengar dari Julia, kau akan memindahkan barang-barang Zie?” “Dia mengejutkanku pagi ini. Padahal kupikir dia akan tinggal sangat lama.” Lalu matanya menyipit saat menatap John. “Kudengar kau dan Zie berkencan. Apa ini ada hubungannya denganmu? Keputusannya untuk pergi?” John meringis. Dia sudah mendengar tentang gosip itu dan berpikir pasti akan reda sendiri nantinya. Tapi sepertinya tidak. “Yah, kami bertengkar.” John mengakui. “Jadi bisakah kau biarkan saja barang-barang Zie di sana sambil aku berusaha mencari cara agar dia kembali? Ah, atau aku akan membayar uang kontrakan menggantikan dirinya.” Si pemilik kontrakan tersenyum. “Aku bukan orang yang picik. Zie sudah membayar sampai akhir tahun. Jadi aku tidak akan meminta uang lagi.” Lalu dia menyerahkan kunci rumah pada John. “Aku anggap kau yang menempati rumah ini sekarang. Jadi aku tidak khawatir lagi barang-barang Zie digunakan orang asing.” John berterima kasih dan menunggu sampai mobil pemilik rumah kontrakan melaju pergi sebelum masuk. Di dalam, John langsung mengecek tiap ruangan sambil menghubungi Bastin dan meminta nomor ponsel Zie. Kata Julia nomor Zie tidak aktif. Dan ternyata benar. Tak lama kemudian John sudah berada di ruangan yang dia yakin merupakan kamar Zie dan baby Bo. Tujuannya adalah mencari petunjuk kira-kira ke mana Zie akan pergi. Mungkin ada alamat yang ditinggalkan wanita itu. Tapi Zie benar-benar tak meninggalkan petunjuk meski banyak barang-barang—seperti boks bayi, banyak mainan, peralatan mandi, rias dan semacamnya—tergeletak di tiap ruangan seolah tempat itu tak ditinggalkan si penghuni. John berkacak pinggang di tengah kamar saat dia selesai mencari. Desahannya terdengar memenuhi ruangan. Apa dia akan menyerah begitu saja dan membiarkan Zie pergi? Toh mereka tidak benar-benar saling mengenal kecuali fakta bahwa John menyayangi baby Bo dan sudah menganggap si balita seperti anaknya sendiri. Sayangnya John tidak bisa. Dia tidak bisa membiarkan Zie menjadi ganjalan di hatinya. Sambil mendesah, John berbalik hendak mencari lebih teliti di ruangan lain. Tapi langkahnya terhenti saat pandangannya melihat sesuatu di bawah bantal. Penasaran, John menghampiri ranjang lalu menarik bantal. Seketika dia membeku saat melihat wajah di foto itu. Tampak di sana Zie memeluk leher seorang lelaki sambil mencium pipinya dan sedikit menghadap kamera. Dan wajah lelaki itu sangat mirip dengan John. *** Zie mengusap pipinya yang basah karena air mata sambil berusaha menenangkan baby Bo. Putranya terus rewel sejak semalam. Seolah dia juga tidak setuju dengan keputusan Zie melarikan diri dari masalah. Lagi. “Kei, tenang dulu ya,” bujuk Zie karena rengekan baby Bo berubah menjadi tangis. “Mama akan cari bantuan.” Tapi itu kedengarannya konyol bahkan di telinga Zie sendiri. Sekarang mereka ada di jalanan yang membelah hutan. Kehabisan bahan bakar dan kedinginan. Semalam setelah berkendara cukup jauh, mereka menemukan motel untuk bermalam. Lalu sekitar pukul sembilan setelah sarapan, Zie melanjutkan perjalanan. Tapi mendadak penunjuk bensin mobilnya memilih hari ini untuk menipu. Zie pikir bensinnya masih banyak. Tapi ternyata dia dan baby Bo harus terjebak di tengah hutan. Dan anehnya sejak tadi tak ada satu orang pun yang lewat padahal ini adalah satu-satunya jalan untuk keluar kota. Zie terisak sambil mendekap baby Bo yang menangis dan menggeliat di pelukannya. Haruskah dia menelepon seseorang? Zie menatap sekeliling sambil terus menimang baby Bo. Jujur, dia ketakutan. Bagaimana kalau ada orang jahat yang lewat? Atau hewan buas? Pikiran itu membuat Zie segera kembali ke dalam mobil lalu mengunci rapat pintunya. Tapi di dalam, baby Bo semakin meraung yang berhasil membuat kepala Zie berdenyut sakit. “Anak baik... jangan menangis ya.... Kei sayang Mama, kan?” Tapi sebagai tanggapan, tangis baby Bo kian parah hingga Zie khawatir karena wajahnya sudah memerah. “Sayang... Mama mohon...” Zie terisak. Lalu pandangannya beralih pada laci dashboard tempat dia menyimpan dua ponsel pribadinya. Yang satu yang Zie gunakan di kota yang hendak dia tinggalkan dan sudah dinonaktifkan. Dan satu lagi yang Zie gunakan di masa lalu. Dua tahun lalu. Hanya dia nyalakan sesekali untuk memastikan kartunya masih aktif. Kalau kau pergi, Zie, aku akan menganggapmu sudah mati. Bahkan meski kita bertemu lagi di masa depan, aku akan berpura-pura tidak mengenalmu. Kalimat itu terngiang dalam benak Zie. Air matanya bergulir saat dia membuka laci dashboard lalu mengeluarkan ponselnya. Untuk sekali ini—demi Keivan—Zie harus menelan harga dirinya. Dia harus menghubunginya, orang yang sudah Zie tinggalkan, untuk meminta bantuan. Zie menggigit bibir saat menunggu panggilan teleponnya diangkat. Ini masih nomor yang dipakainya dulu. Apa dia akan menerimanya? Seketika jantung Zie seolah akan melompat keluar dari dadanya begitu sambungan telepon diterima. Buru-buru dia keluar mobil sambil menggendong baby Bo, berharap si balita berhenti menangis sejenak agar Zie bisa bicara. “Hai, ini Zie.” Tak ada tanggapan. Tapi sambungan telepon tidak diputus. Itu saja sudah membuat Zie lega. “Aku—aku butuh bantuan. Aku kehabisan bensin di jalan menuju luar kota...” Tut... tut... tut... Seketika Zie terisak. Dia mendekap baby Bo lebih erat dan seolah bersaing menangis dengan si balita. ----------------------------- ♥ Aya Emily ♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD