Bab 6

1525 Words
Bastin dan Julia sama kagetnya seperti John saat melihat foto itu. Mereka bahkan bolak-balik melihat bergantian antara foto dan wajah John. “Kau yakin tidak punya saudara kembar?” tanya Julia memastikan. “Aku anak tunggal. Aku bahkan tidak punya saudara.” “Apa kedua orang tuamu bercerai?” Julia belum puas. “Seperti di film, mungkin saja masing-masing orang tuamu membawa satu anak.” “Tidak pernah, aku yakin.” Bastin membelai dagunya dengan ibu jari dan telunjuk. “Aku pernah dengar katanya di dunia ini kita punya beberapa orang yang sangat mirip. Mungkin yang satu ini duplikat John.” John terdiam menatap foto yang tergeletak di atas meja. Dia sungguh tidak percaya apa memang ada seseorang yang bisa sangat mirip tanpa ada ikatan darah? “Sekarang aku mengerti kenapa dia kelihatan sangat ketakutan saat pertama kali melihatku. Mungkin dia pikir aku arwah suaminya.” “Dan dia sangat marah setelah tahu kau membawa baby Bo,” gumam Julia dengan sedih. “Mungkin melihat kalian bersama membuatnya mengharapkan hal yang mustahil.” Julia menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku benar-benar jahat. Teman macam apa aku ini? Bukannya berusaha mencari tahu dan mengerti, tapi aku malah menambah luka hati dan berkata kasar padanya.” Bastin merangkul pundak sang istri namun memilih tak mengatakan apapun. “Aku akan mencarinya,” ujar John dengan penuh tekad. “Aku yang memulai pertengkaran ini. Aku juga yang harus menyelesaikannya.” “Mau cari ke mana?” tanya Bastin saat John berdiri setelah mengantongi foto di meja. Ditanya begitu, John menggaruk kepalanya sambil meringis. Sebelum dia mengatakan sesuatu, ponselnya berbunyi. “Halo.” “Cepat pulang sekarang! Ada kecelakaan di salah satu proyek kita.” “Sial!” refleks John mengumpat. “Apa ada korban?” “Sebenarnya tidak ada selain luka-luka kecil. Tapi kondisinya jadi memanas. Entah siapa yang memulai, para pekerja dan kontraktor saling menuding siapa penyebab kecelakaan ini.” “Berarti seharusnya kau bisa mengatasinya, kan? Katakan saja kita tidak mempermasalahkannya.” John menyusurkan jemari di antara helai rambut. “Dan aku juga sedikit ada masalah di sini. Aku tidak bisa pergi begitu saja.” “Aku sudah berkata begitu tapi tak ada yang mau mendengarkan.” Suara Leon berubah memelas. “Kau tahu sendiri aku paling tidak bisa menenangkan orang, apalagi yang sebanyak ini. Jika dibiarkan, kejadian ini akan tercium media dan konfliknya bisa lebih besar dari sekedar salah paham.” John mendesah. “Baiklah, baiklah. Aku akan segera pulang.” “Langsung naik mobil sekarang juga!” “Astaga, iya!” John langsung memutus sambungan telepon sebelum Leon merengek. Kadang-kadang partnernya itu bisa lebih parah dari anak kecil. “Apa ada masalah?” tanya Bastin. “Iya. Ada kecelakaan di salah satu proyekku. Aku harus segera pulang.” Julia berdiri dengan panik. “Lalu Zie?” “Aku punya teman yang bisa mencari data seseorang dengan mudah. Kirim pesan saja siapa nama lengkap Zie dan baby Bo. Aku harus segera pulang.” Tanpa menunggu lagi, John bergegas keluar rumah Bastin. Dia harus segera melewati jalanan yang membelah hutan itu sebelum gelap. *** Sejak terjebak di hutan ini, sudah ada dua mobil yang lewat. Tapi keduanya tidak mau berhenti. Apa orang-orang zaman sekarang memang segitu tidak pedulinya pada orang lain? Zie mendekap baby Bo semakin erat. Tangis si balita sudah reda karena kelelahan, hanya tersisa sesenggukan. Sekitar Zie menjadi sunyi yang menakutkan. Udara terasa sangat dingin. Dia berniat masuk kembali ke dalam mobil tapi khawatir itu akan membuat baby Bo kembali menangis keras. “Kita akan baik-baik saja,” gumam Zie sambil mengecup kening putranya. “Tunggu beberapa menit lagi. Kalau tetap tidak ada yang bisa kita pintai bantuan, terpaksa kita harus meninggalkan mobil ini di sini dan jalan kaki. Seharusnya kita bisa keluar dari hutan sebelum gelap.” Sebenarnya itu adalah pilihan konyol. Zie tidak bisa mengira-ngira seberapa jauh lagi. Dia bisa saja kelelahan di tengah jalan lalu jatuh pingsan. Rasanya masih lebih aman di sini, dengan perlindungan mobilnya. “Mungkin tidak, Kei,” nada suara Zie putus asa. “Sepertinya tidak ada pilihan selain menunggu seseorang menolong kita.” Air mata Zie kembali bergulir. Ingatannya melayang pada Bastin dan Julia. Sempat terbersit dalam pikirannya untuk meminta bantuan mereka. Tapi mengingat tatapan Julia saat terakhir mereka bertemu membuat Zie ragu. Sepertinya mereka tidak akan mau. Ada satu orang lagi yang memenuhi pikiran Zie sekarang. Yang mungkin saja bisa dia pintai bantuan. Tapi sedikit terlintas saja dalam benaknya, Zie langsung mengusir pikiran itu jauh-jauh. Dia tidak akan terlibat dengan Jonathan Fabian lagi. Biar kepergiannya juga berarti menghapus lelaki itu dari hidupnya. Seperti Zie menghapus sosok suaminya. Tapi ternyata takdir berkata lain. Saat Zie pikir bahwa dirinya dan baby Bo akan mati kedinginan di sana, mobil yang mulai familiar berhenti di belakang mobil Zie. Dan seseorang yang berusaha dia hapus dari benaknya keluar dengan raut khawatir. “Demi Tuhan, Zie! Apa yang kau lakukan di sini?” Mendadak Zie ingin menangis keras saat melihat wajah khawatir John. Mungkin karena lega, mungkin juga karena takdir yang terasa mempermainkannya. Tapi beruntung dia bisa menahan diri. Hanya tetes air matanya yang bergulir semakin deras. “Piknik. Memangnya kau pikir apa?!” kata-kata itu meluncur tanpa bisa Zie kendalikan. Seharusnya dia tidak membentak penolongnya. Tapi Zie tidak sanggup menahan diri. John meringis tapi detik berikutnya tertawa pelan. “Mobilmu mogok?” “Hanya kehabisan bensin.” Dengan malu Zie menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. “Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bersedia membelikanku bensin.” “Tentu saja. Tapi kau harus ikut mobilku. Kita kembali ke kota.” “Tidak,” Zie menggeleng. “Dengar, kalau ini tentang aku yang membawa baby Bo tanpa izinmu, aku benar-benar minta maaf.” “Aku sudah mengacau di sana,” ujar Zie lirih. “Maksudmu Julia? Dia akan lebih senang jika bertemu lagi denganmu daripada kau pergi seperti ini.” “Kau tidak mengerti,” air mata Zie kembali merebak. “Aku benar-benar sudah mengacau.” Entah karena nada tingginya atau karena dekapan Zie yang tanpa sadar semakin kuat, baby Bo menggeliat dalam pelukan Zie lalu menangis keras. “Hei, Kei sayang... jangan menangis lagi... anak baik...” Melihat itu, John langsung mengambil baby Bo dari dekapan Zie lalu menyandarkannya di pundak. “Cepat ambil barang-barang yang paling penting lalu kunci pintu mobil. Nanti aku yang akan mengambilnya setelah membeli bensin.” Kali ini John tidak menerima bantahan. Dia langsung masuk ke mobilnya sendiri lalu mendudukkan baby Bo di antara pahanya di belakang kemudi. “Jagoan, kau mau menyetir?” Perubahan situasi itu membuat baby Bo kebingungan. Sejenak dia hanya terisak sambil memandangi tangannya yang baru saja diletakkan John di kemudi lalu mendongak menatap John. “Sekarang kau sopirnya. Coba ini.” Lalu John membantu tangan si kecil mencapai klakson dan membunyikannya. “Ups, kita membuat Mamamu kaget.” Rupanya hal itu berhasil membuat baby Bo senang. Senyumnya merekah dan kepalan tangan mungilnya memukul dan menarik-narik kemudi. Tak lama kemudian, Zie masuk ke sisi penumpang. Dia tampak terkejut melihat baby Bo tersenyum cerah namun memilih tidak berkomentar. “Sudah?” John memastikan. Sebagai tanggapan, Zie mengangguk. Lalu kejutan lain menghantamnya. Kali ini terasa bagai batu besar yang dilempar tepat mengenai dadanya. Sangat menyakitkan hingga membuat Zie tak bisa bernapas. “Papa... pa... pa...” “Kau senang bertemu Papa, eh?” Buru-buru Zie memalingkan wajah ke sisi jendela dan diam-diam menghapus air matanya. *** “Aku tidak bisa pulang...” “...” “Berhenti merengek, astaga. Kau itu umur berapa sih?” “...” “Coba bicara lagi. Kalau mereka masih seperti itu, katakan terima kasih atas bantuannya lalu singkirkan mereka semua. Kita pekerjakan orang lain saja.” “...” “Baiklah. Kabari lagi jika belum beres.” John menutup teleponnya tepat saat mobil yang dikendarainya memasuki halaman rumah kontrakan Zie. Atau rumah kontrakan John sekarang. “Kau kena masalah karena aku, kan? Seharusnya kau pergi ke suatu tempat saat ini?” tanya Zie sambil memperbaiki posisi baby Bo yang terlelap di lengannya. “Tidak, Leon pasti bisa mengatasinya.” “Leon?” “Partner bisnisku. Kadang dia gampang panik untuk hal sepele tapi bisa sangat tenang menghadapi masalah besar.” John menunduk menatap baby Bo. “Ayo masuk, kalian pasti kelelahan.” “Ada satu masalah lagi,” gumam Zie membuat John urung keluar mobil. “Aku sudah menyerahkan kunci rumah ini kembali ke pemilik rumah.” Sambil menahan senyum, John mengeluarkan kunci dari sakunya lalu ia goyangkan di depan Zie. “Sekarang aku penyewa baru rumah ini dan kau adalah tamuku.” Tahu Zie akan mengeluarkan serentetan argumen, John segera keluar mobil lalu membuka sisi penumpang dan membantu membawakan tas-tas Zie. Tiba di dalam rumah John berkata, “Aku pergi dulu untuk mengambil barang-barangku dari hotel.” “Kau serius kita akan tinggal bersama?” tanya Zie dengan nada tak percaya. “Sedikit menambah bahan bakar ke gosip yang sudah panas, ya?” John menyeringai. “Mungkin sebaiknya kita bilang saja bahwa kita akan akan segera menikah.” “Kau—” “Tidak perlu menungguku. Aku bawa kunci,” John mengedipkan sebelah mata. “Aku pergi dulu.” ----------------------------- ♥ Aya Emily ♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD